Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 8


__ADS_3

Ruangan bercahaya remang-remang dengan hingar-bingar musik DJ menjadi tempat Prince menghabiskan malamnya, wanita-wanita penghibur nan seksi bergantian mendekati dan bergelayut manja dipundak sang Casanova itu, tapi dia sama sekali tidak tergoda. James yang melihat sikap tak biasa sahabatnya itu menjadi bingung, bukankah biasanya dia akan bereaksi lalu segera memesan kamarĀ untuk menuntaskan hasratnya.


"Kau kenapa? Tumben sekali kau mengabaikan bidadari-bidadari bayaran itu?" Tanya James dengan tatapan bingung.


"Aku sedang tidak berselera." Jawab Prince tak acuh.


"Hey ... ada apa ini? Sang Casanova Devil Club sudah bertobat atau sedang impoten?" Ledek James dengan wajah jenakanya.


Prince tidak membalas ucapan sahabatnya itu, dia hanya melempar tatapan membunuh kepada James.


"Ow ... ow ... ow ... santai, Bro! Aku hanya bercanda." Ucap James ciut.


Prince mengalihkan pandangannya dari James lalu menatap lekat gelas di tangannya seolah ada yang menarik disana. Dia sedang malas meladeni sahabatnya itu.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau seperti ini?" James bertanya dengan serius.


Prince tetap diam bergeming, dia ragu menceritakan semuanya kepada James, tapi sahabatnya itu terus memaksa.


"Ayolah, Prince! Kita ini kan bersahabat, aku rasa tidak ada yang perlu kita tutupi satu sama lain." Desak James.


Prince pun akhirnya menceritakan apa yang membuatnya menjadi seperti ini, penyesalan dan rasa bersalah dihatinya membuat lelaki itu sulit melupakan Queen.


"Lalu apa masalahnya? Wanita itu tidak menuntut tanggungjawab darimu, berarti dia tidak mempermasalahkan semua itu kan? Jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi." Sahut James santai.


"Masalahnya aku tidak bisa melupakan dia. Aku benar-benar menyesal, apalagi saat melihat dia menangis waktu itu, aku jadi merasa semakin bersalah. Aku sudah menghancurkan masa depan seorang wanita, dan kau tahu aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku hanya bercinta dengan wanita-wanita penghibur, bukan merusak wanita perawan." Balas Prince.


"Sudahlah, Prince! Di zaman sekarang, hal seperti itu sudah biasa. Tidak usah diambil pusing! Lupakan saja!" Ujar James sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


"Tidak semudah itu, James."


"Kalau begitu apa yang akan kau lakukan sekarang? Mencari wanita itu lalu bertanggungjawab dengan menikahinya, begitu?" James menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Kalau memang itu cara agar aku bisa menebus kesalahanku, aku akan lakukan!" Jawab Prince tegas. Sebenarnya bukan itu saja alasannya, entah mengapa Prince merasa dia menginginkan Queen lebih dari sekedar pasangan di atas ranjang, dia ingin memiliki wanita cantik itu.


"Hahaha ... jangan konyol, Prince. Aku rasa pernikahan tidak cocok untuk bajingan sepertimu. Jadi jangan coba-coba!" Ejek James.


"Diam lah kau!!!" Prince meninju pundak James, merasa sedikit kesal dengan ejekan sahabatnya itu.


Prince kembali terdiam membayangkan wajah Queen, dia sudah berusaha mencari wanita itu, dengan bertanya kepada semua karyawan Devil Club dan juga hotel tempat dia pertama kali bertemu Queen, tapi dia tak mendapat informasi apapun.


Aku harus mencari mu kemana?


***


Jovan duduk di sebuah kursi dan menyandarkan kepalanya. Rasanya hari ini dia benar-benar kesal dengan sikap Queen dan juga Kenedy.


"Kau kenapa, Sayang?" Tanya Elsa yang juga duduk di samping Jovan.


"Posisiku sekarang terancam di Kingdom" Jawab Jovan.


"Apa maksudmu?"


"Haaa ... apa? Queen sudah bergabung? Kenapa mendadak sekali?"


"Ini semua gara-gara Queen memergoki kita waktu di hotel itu, dia pasti ingin membalas ku. Dia akan menghancurkan aku." Sahut Jovan dengan wajah kesal.


"Tenanglah, Sayang. Semua pasti akan baik-baik saja." Elsa mengelus punggung tangan Jovan.


"Bagaimana aku bisa tenang? Kalau dia berhasil membuat aku keluar dari Kingdom, hidupku pasti kembali hancur seperti dulu. Aku bisa jatuh miskin lagi." Ucap Jovan frustasi.


"Kita akan pikirkan cara agar posisimu tetap aman di Kingdom. Kita akan melawan Queen." Ujar Elsa.


"Hmmm ... kau benar! Aku tidak akan membiarkan wanita itu menghancurkan hidupku."

__ADS_1


Elsa hanya tersenyum sinis, dari dulu dia selalu berusaha menghancurkan Queen. Cantik, kaya dan pintar membuat Queen menjadi siswa yang populer di sekolah. Tapi sayang, semua itu menimbulkan rasa iri dan dengki di hati Elsa.


Tanpa mereka sadari, seseorang sedang berjalan kearah mereka dengan tatapan membunuh sambil membawa segelas minuman. Saat jaraknya cukup dekat, seseorang yang tak lain adalah Mitha menyiramkan minuman yang dia bawa ke Jovan dan Elsa. Keduanya terkejut bukan main.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Elsa sembari membersihkan bajunya.


"Menyiram dua manusia menjijikkan!" Jawab Mitha santai dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hey ... jaga ucapanmu!" Bentak Jovan.


"Kenapa? Kau malu?" Mitha menautkan kedua alisnya. "Yang satu tidak tahu diri dan yang satunya lagi tidak tahu malu. Kalian pasangan yang serasi." Ejek Mitha.


"Jangan bicara sembarangan! Aku bisa menuntut mu atas perbuatan tidak menyenangkan!" Ancam Elsa.


"Hahaha ... coba saja! Aku tidak takut! Dasar pelacur!"


"Kau ini ...!" Elsa bergerak mendekati Mitha dan ingin memukul gadis tomboi itu tapi dengan cepat dua orang lelaki bertubuh besar menghalanginya.


Jovan juga segera melindungi Elsa.


"Siapa kalian?" Tanya Jovan sinis.


"Mereka pengawal ku. Dan ini cafe ku. Sekarang juga pergi dari sini! Aku tak ingin cafeku yang baru aku buka ini menjadi sial karena kedatangan kalian." Pinta Mitha angkuh.


Jovan dan Elsa terperangah, mereka sungguh tidak tahu jika cafe yang mereka datangi ini adalah milik Mitha, sahabat Queen.


"Kau akan menyesal." Ancam Elsa.


"Sekarang juga aku sudah menyesal karena pernah mengenal kalian berdua." Balas Mitha.


"Kau ...!" Elsa menggeram dengan gigi yang merapat. Begitu juga dengan Jovan, lelaki itu berusaha menahan amarahnya agar tidak terpancing dan membuat keributan.

__ADS_1


Jovan dan Elsa segera meninggalkan cafe milik Mitha dengan perasaan geram dan malu karena menjadi perhatian semua orang. Sementara Mitha hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mempermalukan kedua orang itu.


***


__ADS_2