
Keesokan harinya, Prince masih belum menyerah, dia kembali datang ke Kingdom untuk mengembalikan ponsel milik Queen. Dan kali ini dia beruntung, karena Queen baru saja datang. Begitu juga dengan Jovan, manajer pemasaran Kingdom itu juga baru tiba di pelataran gedung Kingdom.
"Akhirnya aku menemukanmu juga!" Suara Prince tiba-tiba menyerbu indera pendengaran Queen, wanita cantik itu sontak menoleh kearahnya.
"Kau ...? Sedang apa kau disini?" Queen bertanya dengan raut wajah terkejut.
"Aku ingin mengembalikan ini."Prince menyodorkan ponsel Queen ke hadapannya.
Queen merampas ponsel itu dengan kasar. Jovan yang melihat Prince segera mendekati Queen dan berpura-pura baik.
"Ada apa ini? Apa dia mengganggumu lagi?" Jovan sok perduli.
"Dia hanya mengembalikan ponselku." Jawab Queen ketus. "Kalau begitu kau bisa pergi. Aku tidak ingin melihatmu disini." Queen mengusir Prince dengan angkuh, membuat lelaki tampan itu menjadi sedikit kesal.
"Tapi masih ada yang ingin aku katakan."
"Kau tidak dengar ya? Kau bisa pergi dari sini!" Tukas Jovan, dia mengulangi kalimat Queen.
"Aku tidak punya urusan denganmu! Jadi kau jangan ikut campur!" Bentak Prince kesal.
"Kalau kau mengganggu Queen ku, itu berarti kau mengganggu ku." Jawab Jovan. Queen maupun Prince terkejut mendengarnya. Tapi saat ini Queen sedang tidak ingin protes.
"Queen mu?" Prince menautkan alisnya dan memandang tajam Jovan. Entah mengapa kata-kata lelaki itu membuat Prince semakin kesal.
__ADS_1
"Iya, dia Queen ku. Memangnya kenapa?" Tantang Jovan sembari merangkul pundak Queen. Tatapan tajam Prince beralih ke tangan Jovan yang berada di pundak Queen.
Prince sontak menarik Queen kearahnya. "Jangan sentuh dia!"
Tapi Queen memberontak. Dia menjauh dari Prince dan kembali ke sisi Jovan lagi. Melihat itu, Jovan merasa besar kepala karena Queen lebih memilihnya.
"Kau yang jangan menyentuhnya!" Bentak Jovan. Dia berlagak seperti pahlawan.
"Sudahlah, Jo. Percuma bicara dengan orang tidak bermoral seperti dia, yang bisanya hanya menyakiti orang lain dan tak punya hati." Ujar Queen sinis. Prince benar-benar naik darah mendengar ucapan Queen itu.
"Oh, ternyata benar, kau memang wanita nakal yang suka bersenang-senang dengan seorang lelaki. Sekarang kau bermain dengan pegawai mu sendiri. Pasti kalian sering menghabiskan waktu di hotel sepulang dari kantor kan?" Prince nyinyir.
Buuughh ...
"Aku peringatkan untuk tidak menghina dan mencari masalah dengan Queen! Atau aku akan melaporkan mu kepolisi atas tuduhan pencemaran nama baik." Ancam Jovan.
"Aku tidak perduli! Laporkan saja!" Tantang Prince.
"Tidak usah lapor polisi! Biar publik yang menilainya, lelaki macam apa yang selalu datang dan mengamuk kepada seorang wanita? Seperti orang yang tidak berpendidikan, padahal imagenya adalah seorang petinggi Emperor. Sungguh berlawanan." Cibir Queen.
Prince mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangan dengan kuat untuk menahan geram atas cibiran Queen itu. Sementara Jovan hanya tersenyum sinis.
"Kenapa? Kau masih belum terima karena Emperor kalah tender dari Kingdom? Makanya kau terus mendatangi ku dan mengusikku. Itu bukan sikap seorang lelaki sejati." Lanjut Queen.
__ADS_1
"Oh, jadi kau mau aku mengumumkan tentang kita kepada semua orang? Boleh saja." Sahut Prince dengan seringai khasnya.
"Kau pikir sekarang ada yang akan mempercayai omongan mu? Karena setelah mereka melihat apa yang kau lakukan padaku, segala yang kau katakan hanya akan menjadi tuduhan fitnah untuk membuatku kehilangan reputasi." Ucap Queen yakin.
"Kau ternyata jauh lebih licik dari yang ku kira." Prince benar-benar tak menyangka Queen akan melakukan semua ini. Baru saja dia merasa menyesal karena memperlakukan wanita itu dengan buruk, tapi sekarang dia malah semakin sakit hati karena sikap dan ucapannya. Queen benar-benar berhasil memprovokasi dan menghasut lelaki rupawan itu.
"Baguslah kalau kau tahu! Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu menindas ku lagi. Sebaiknya kau pergi sekarang atau aku akan membiarkan Jo memanggil polisi karena kau masuk tanpa izin." Jawab Queen.
"Aku rasa pendengaran mu masih berfungsi dengan baik." Sindir Jovan. Dia melempar senyum sinis penuh kemenangan sambil merangkul pundak Queen.
"Kau akan menyesalinya!" Ancam Prince dan berlalu pergi meninggalkan Kingdom dengan perasaan marah dan cemburu.
Setelah Prince pergi, Queen sontak menepis dengan kasar tangan Jovan dari pundaknya.
"Aku harap ini terakhir kalinya kau menyentuh ku!" Sinis Queen.
"Tapi kau menyukainya kan?" Jovan menggoda Queen.
"Kalau tidak terpaksa, aku juga tidak sudi!" Queen berlalu pergi meninggalkan Jovan.
"Permainan semakin seru! Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya." Jovan menyeringai jahat.
***
__ADS_1