
Setelah mendapatkan izin dari Chaiyya, kini Frans sudah berada disisi ranjang Prince dan memandang lekat wajah sang putra yang masih belum sadarkan diri.
"Aku tak menyangka selama ini kita begitu dekat, kita juga pernah bertemu beberapa kali, tapi aku sungguh tak merasa jika kau darah daging ku." Frans berbicara sendiri sambil terus memandangi wajah Prince.
Dia memang pernah beberapa kali bertemu dengan Prince saat acara asosiasi wirausaha, saat itu Prince datang bersama Steven.
"Maafkan adikmu, dia hanya terlalu mengikuti emosinya hingga membuat kau jadi seperti ini." lanjut Frans dengan penuh sesal.
"Anakku, Prince. Ayah akan bertanggungjawab terhadap mu, Ayah akan mengganti masa-masa kita yang terlewati. Kita akan menjadi keluarga." ucap Frans dengan air mata yang jatuh menetes.
Disaat bersamaan, Chaiyya masuk dan mengagetkannya. Frans buru-buru menghapus jejak air matanya sebelum wanita itu melihatnya menangis.
"Sebaiknya kau pulang! Jangan terlalu lama disini, aku tak mau istrimu merasa cemburu." ujar Chaiyya memperingatkan.
Frans hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. "Rossana tidak begitu. Kalau dia cemburu, dia tak akan mengizinkan aku mencari mu dan Prince. Dia bahkan mendukung dan membantuku untuk menemukan kalian."
Chaiyya benar-benar takjub mendengar perkataan Frans itu, sungguh Rossana itu wanita berhati malaikat.
"Iya, tapi tetap saja tidak ada wanita yang rela suaminya terlalu mengejar dan perduli dengan masa lalunya."
"Kau tenang saja." tukas Frans dan berhasil membungkam mulut Chaiyya. "Ternyata putra ku sangat tampan, persis seperti aku saat muda dulu." Frans mengalihkan pembicaraan agar Chaiyya berhenti membahas tentang Rossana.
"Iya. Kelakuannya pun sama persis." sindir Chaiyya.
Frans hanya meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena mendapat sindiran telak dari Chaiyya.
__ADS_1
Tiba-tiba jari telunjuk Prince bergerak, Chaiyya yang menyadari hal itu sontak heboh. Begitu juga dengan Frans, dia berulang kali mengucap syukur.
"Jarinya bergerak!"
Dan detik berikutnya, Prince mulai mengerjap dan membuka matanya dengan perlahan-lahan.
"Dia bangun!" teriak Chaiyya.
"Aku akan memanggil dokter!" Frans bergegas lari keluar dari ruang ICU.
Setelah semua kesadarannya terkumpul, Prince mulai memfokuskan pandangan ke Chaiyya. "Aku dimana, Bu?"
"Kau di rumah sakit, Nak." jawab Chaiyya.
"Rumah sakit?" Prince mengernyit bingung, berusaha mengingat bagaimana dia bisa ada disini. "Hhhssttt ...." tiba-tiba Prince meringis sakit sambil memegangi kepalanya.
Tak lama kemudian seorang dokter dan dua orang perawat datang lalu disusul oleh Frans dan juga Channa. Dokter langsung memeriksa keadaan Prince, mereka membuka selang oksigen dan juga alat-alat ventilator di tubuh Prince.
"Syukurlah, masa kritisnya telah berlalu. Kami akan terus memantau perkembangannya, kalau kondisinya semakin membaik, besok pagi dia sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan." ujar dokter itu.
"Syukurlah."
"Kalau begitu kami permisi dulu."
"Iya, terima kasih, Dok."
__ADS_1
Dokter dan kedua perawat itu pun keluar dari ruang ICU.
"Akhirnya jagoan Paman bangun juga." seloroh Channa dan Prince hanya membalasnya dengan tersenyum meski masih sangat lemah.
"Ibu sangat mengkhawatirkan mu, Nak."
"Maaf, Bu ...." balas Prince.
Tapi pandangan mata Prince teralih ke Frans yang berdiri di belakang Chaiyya, dia kembali mengernyit heran demi melihat CEO Royal Corporation itu.
"Pak Frans ...?"
Frans tersenyum dan menyapanya. "Hai, Prince."
"Kenapa Bapak disini?" Prince semakin mengernyit heran.
"Hmmm, dia hanya menjenguk mu." potong Chaiyya cepat sebelum Frans menjawab. Dia tak ingin membuat Prince berpikiran macam-macam karena putranya itu baru saja sadar. Sementara Frans yang mengerti maksud Chaiyya hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Oh."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Beristirahatlah! Semoga cepat pulih." ujar Frans. Dia mengerti jika Chaiyya tak ingin Prince berpikiran macam-macam sebelum dia tahu siapa Frans yang sebenarnya.
"Iya, Pak. Terima kasih." balas Prince.
"Aku permisi." Frans pamit kepada Chaiyya. "Mari." kemudian menegur Channa.
__ADS_1
Frans pun meninggalkan ruang ICU dan berjalan menuju ruang perawatan Kenedy, ada yang harus dia katakan kepada sahabatnya itu.
***