
đź’ś. Cuplikan 10.
Ratu sudah selesai mandi dan memakai daster batik selutut untuk tidur, dia melenggang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Kaisar yang duduk di sofa sedang memangku kotak maroon berpita gold sambil menyeringai. Dengan perlahan Kaisar mengeluarkan dua buah benda dari dalam kotak tersebut.
“Apa kau tidak ingin menggunakannya malam ini?” goda Kaisar sembari memegang sebuah lingerie seksi berwarna hitam dan sekotak tissue magic.
Ratu terkesiap, wajahnya seketika merah menahan malu. Dengan langkah yang cepat dia menghampiri Kaisar dan ingin merebut dua benda memalukan itu, tapi Kaisar malah berdiri lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
“Hei, ke sini kan!” pinta Ratu sambil melompat-lompat hendak meraih dua benda itu. Tapi sayang, dia kalah tinggi dari Kaisar.
“Ambil kalau kau bisa?” tantang Kaisar, “aku jadi berpikir mungkin kau sengaja meminta seseorang mengirimkan ini untuk menggodaku.”
Mata Ratu membulat sempurna, “Tutup mulutmu! Kau pikir aku wanita apaan?”
“Mungkin saja, kan?”
Ratu terus berusaha meraih dua benda itu, dia tak habis akal, dengan gerakan cepat, dia naik ke atas sofa. Tapi apes, kaki Ratu terpeleset dan hampir terjatuh. Kaisar refleks menangkap pinggang Ratu dan berhasil menahan wanita itu agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Keduanya terpana ketika wajah mereka sangat dekat dengan tatapan mata yang bertemu satu sama lain. Jantung mereka berdebar kencang, seperti ada sengatan listrik yang mengalir ke seluruh tubuh. Aneh sekali. Sesaat mereka saling mengunci pandangan.
“Kenapa? Terpesona dengan ketampanan ku?” ledek Kaisar karena Ratu menatap lekat wajahnya tanpa berkedip. Padahal dia sendiri pun sempat terpesona tadi.
Ratu tersentak mendengar ledekan Kaisar itu dan sontak mendorong lelaki itu sambil mencibir, “Cih, amit-amit! Kepedean!”
Kaisar pun melepaskan pelukannya di pinggang Ratu, dan wanita itu segera turun dari sofa lalu bergegas menjauh.
“Sini!” Ratu merebut lingerie dan tissue magic yang dipegang Kaisar lalu menyimpannya kembali ke dalam kotak.
Melihat Ratu sibuk dengan kado memalukan dari teman-temannya itu, Kaisar pun beranjak dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur yang masih bertabur kelopak bunga mawar merah.
“Memangnya mau di mana lagi? Ranjang ini kan memang tempat untuk tidur,” jawab Kaisar santai.
“Seharusnya aku yang tidur di atas ranjang, dan kau di sofa. Seperti drama-drama yang aku tonton.”
“Ini bukan drama. Kalau kau mau, kau saja yang tidur di sofa. Aku tidak mau!” bantah Kaisar.
__ADS_1
“Dasar lelaki tidak punya perasaan!” sungut Ratu.
“Bodoh amat!” balas Kaisar tak acuh dan berbalik membelakangi Ratu.
Ratu benar-benar kesal dengan sikap cuek suaminya itu, tapi tentu dia tak akan mau mengalah.
Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tepat di samping sang suami. Kaisar yang terkejut, spontan berbalik menatapnya.
“Kenapa kau tidur di sini juga?” tanya Kaisar.
“Memangnya mau di mana lagi? Ranjang ini kan memang tempat untuk tidur,” sahut Ratu mengulang ucapan Kaisar tadi.
“Kau kan bisa tidur di sofa!”
“Kalau kau mau, kau saja yang tidur di sofa. Aku sih ogah! Enak saja seorang Ratu harus tidur di sofa.” Lagi-lagi Ratu mengikuti ucapan Kaisar.
Kaisar benar-benar kesal, wanita itu sungguh menyebalkan, “Kau ini!”
__ADS_1
****