
Dengan langkah yang lebar, Prince berjalan mendekati Queen yang masih terbaring lemah dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, bahkan sampai menetes ke bantal.
"Kenapa kau tidak bilang?" tanya Prince pelan tapi penuh penekanan.
"Bilang apa?" Queen balik bertanya tanpa memandang Prince, matanya hanya fokus menatap langit-langit ruangan sederhana itu, namun air matanya terus jatuh.
"Kalau kau hamil."
"Aku juga baru tahu."
"Jadi kau juga baru tahu?" Prince menautkan alisnya.
"Hemmm. Tapi aku akan segera melenyapkan bayi ini. Aku tak ingin dia lahir ke dunia." ucap Queen dingin dan sukses membuat emosi Prince naik.
"Kau sudah gila ya? Dimana perasaanmu?" suara Prince sontak meninggi dengan sorot mata tajam. Marah, itulah reaksi yang dia keluarkan.
Queen memalingkan wajahnya dan memandang Prince dengan mata yang basah. "Kenapa kau marah? Ini anakku, jadi terserah mau aku apakan?"
"Kau benar-benar tidak punya perasaan! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti darah daging ku!"
"Siapa bilang ini darah daging mu, haa? Ini bukan anakmu."
"Lalu anak siapa? Ayo, katakan siapa ayahnya!"
Queen sontak terdiam, hormon kehamilan dan rasa tak terima akan kondisinya membuat wanita itu berkelakuan impulsif. Sementara di teras, Channa beserta anak dan sahabatnya hanya diam mendengarkan perdebatan kedua orang itu. Mereka mencoba mencerna apa yang terjadi tanpa berniat ikut campur.
"Kenapa kau diam? Ayo katakan siapa ayahnya!" desak Prince dengan dada yang sesak dan bergemuruh. Namun Queen tetap bergeming.
__ADS_1
"Kau jangan menutupinya! Kehamilan mu baru lima minggu dan kita melakukannya sekitar sebulan lebih yang lalu. Dan kau masih perawan saat itu, aku yakin ini anakku."
"Kita?" Queen menaikkan sebelah alisnya. "Kau! Kau yang melakukannya, bukan kita! Aku tidak sudi melakukannya kalau saja aku sadar saat itu! Kau menghancurkan hidupku!" sungut Queen, air matanya semakin menganak sungai. Prince terkesiap mendengarnya.
"Aku benci kau!" lanjut Queen sesenggukan, tubuhnya sampai bergetar karena menangis, membuat Prince merasa semakin bersalah.
"Maafkan aku. Aku khilaf saat itu." Prince tertunduk penuh penyesalan.
"Maaf? Apa kau pikir maaf mu berguna? Apa maafmu bisa mengembalikan masa depanku? Menyelesaikan semua ini, haa ...? Semudah itu kau bilang maaf, setelah kau membuat aku terhina dan merasa kotor." ucap Queen menohok.
Prince mengangkat kepalanya dan memandang lekat wajah Queen. "Aku akan bertanggungjawab."
"Aku yakin kau sudah sering katakan ini kepada wanita diluar sana." cibir Queen dengan nada mengejek.
"Aku serius. Aku akan menikahi mu."
"Ciihh, menikah? Kau pikir semua akan selesai dengan begitu mudah? Kau tidak pikirkan perasaan dan nama baik keluargaku, perasaan calon suamiku beserta keluarganya juga. Kau membuatku dalam masalah."
"Iya, aku akan bertunangan. Dan kau menghancurkan segalanya." Queen terisak-isak.
Prince tercengang mendengar kata-kata Queen itu, ada rasa ngilu dan tak rela di dalam hatinya.
"Maafkan aku! Maaf karena aku telah menghancurkan hidupmu. Kau boleh marah dan membenciku, tapi aku mohon jangan lenyap kan anak ini. Dia tak bersalah. Kalau kau tak menginginkannya, berikan kepadaku." Prince memandang Queen dengan tatapan memohon.
"Lalu bagaimana dengan orang-tuaku? Kau pikir mereka akan semudah itu menerima semua ini? Terus pertunangan ku pasti akan batal dan keluargaku akan malu. Anak ini memang tak seharusnya ada, dia hanya akibat dari kesalahan satu malam yang kau lakukan. Jadi jangan melarang ku untuk melenyapkannya."
"Kau egois, Queen!"
__ADS_1
"Kau yang egois! Dari awal kau hanya memikirkan keinginanmu saja!" balas Queen penuh emosi. Prince merasa tertampar.
"Queen, aku mohon jangan sakiti dia. Ini kesalahanku dan tak seharusnya dia menjadi korban, dia memang ada karena kesalahan tapi bukan berarti kita tidak bisa memperbaikinya. Dia berhak untuk hidup, dan kita pasti bisa menjadi orang tua yang baik untuknya. Tolong beri aku kesempatan!"
"Tidak akan! Keputusanku sudah bulat. Sudahlah, aku ingin tidur." dengan perlahan Queen berbalik membelakangi Prince, membiarkan lelaki yang dijuluki Casanova Devil Club itu terpaku memandanginya.
Prince menghembuskan nafas berat demi melihat sikap keras kepala wanita yang sudah menjungkirbalikkan hidupnya itu, dia tak ingin pasrah dan menyerah begitu saja.
"Queen, ku mohon beri aku kesempatan sekali ini saja untuk menebus semuanya. Jangan membuatku semakin merasa bersalah."
Tak ada jawaban dari wanita berwajah cantik itu, dia bergeming dengan bahu yang naik turun dan nafas yang teratur, pertanda jika dia telah terlelap. Karena efek obat pereda nyeri yang diberikan wanita bernama Nong itu, Queen mengantuk dan tertidur dengan cepat.
Prince kembali menghembuskan nafas sembari memandangi punggung Queen yang bergerak seirama, dia tak menyangka semua akan serumit ini. Tapi dia tak boleh menyerah begitu saja, dia harus tetap memperjuangkan darah dagingnya yang tak bersalah. Dia tak ingin mahkluk lemah dan tak berdaya itu menjadi korban atas kesalahannya dan juga keegoisan Queen.
"Kau jangan takut, Ayah pasti akan menyelamatkan mu dari kekejaman Ibu. Kita pasti bertemu." batin Prince yang kemudian beranjak dan melangkah menuju teras. Dia tahu Channa dan semua orang pasti mendengar perdebatan mereka tadi dan saat ini orang-orang itu pasti sedang bertanya-tanya. Dia harus menjelaskan semuanya agar tak ada salah paham.
"Maaf, ada yang ingin aku jelaskan." ucap Prince. Channa dan semua orang menoleh ke arah lelaki rupawan yang kini sudah berdiri diambang pintu.
Ketiga orang itu hanya diam memandanginya, tersirat rasa ingin tahu di wajah mereka.
"Tidak usah jika itu berat bagimu, kami tidak berhak tahu apapun, kami bukan siapa-siapa. Kami hanya berniat menolong saja." sahut Channa.
Prince menggelengkan kepala. "Tidak apa. Aku ingin kalian tahu agar tidak salah paham."
Lelaki itu segera duduk di salah satu kursi kayu di depan Channa dan semua orang. Dia kembali menghembuskan nafas, sebelum membuka suara. Dia mulai bercerita, mengulang kembali kejadian memalukan malam itu, kejadian yang akhirnya membuat dirinya dan Queen terikat secara tidak langsung.
Channa dan semua orang hanya diam mendengarkan, tanpa berkomentar apapun. Tapi raut wajah Channa mendadak berubah sedih, dia teringat kejadian memilukan bertahun-tahun lalu yang menimpa keluarganya. Yang membuat dia harus terpisah dari adik yang paling dia sayangi, adik yang dia tak tahu dimana rimba nya dan bagaiamana kabarnya sekarang.
__ADS_1
Hatinya merasakan kerinduan dan rasa bersalah yang mendalam, semua rasa yang selama ini selalu menghantuinya.
***