
Queen berdandan sangat cantik hari ini, dia mengenakan dress hitam selutut tanpa lengan. Rambutnya dia kuncir, menambahkan kesan dewasa pada dirinya.
Semua mata lelaki tak berkedip memandangnya saat dia memasuki Devil Club, bak kawanan anjing yang melihat seonggok tulang.
Queen sungguh risih mendapatkan tatapan mesum seperti itu.
"Kau yakin rencana kita akan berhasil?" Tanya Queen ragu.
"Aku yakin. Yang penting kau harus berakting sebaik mungkin. Aku akan mengawasi mu dari jauh." Jawab Mitha.
"Baiklah. Lalu dimana dia?" Queen mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan bercahaya seadanya itu.
"Mana aku tahu. Aku saja tidak tahu bagaimana wujudnya." Sahut Mitha.
"Cckk ... apa dia tidak disini?" Queen masih mencari sosok Prince. Dan akhirnya dia menemukan lelaki itu duduk sendiri di meja bar.
"Mitha, itu dia!" Queen menunjuk ke arah Prince.
"Yang mana?" Mitha mengikuti arah tangan Queen. "Jadi itu orangnya? Kau yakin?" Mitha memfokuskan pandangannya ke Prince.
"Iya, aku yakin."
"Kalau begitu, segera jalankan rencana kita!" Mitha mendorong pelan pundak Queen.
Dengan langkah yang ragu, Queen pun berjalan mendekati meja bar tempat dimana Prince duduk.
Queen duduk di samping Prince seolah-olah tidak mengetahui keberadaan lelaki itu, dan memesan minuman.
Prince yang menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya sontak menoleh ke arah Queen. Prince tercengang saat melihat seseorang yang selama ini dia cari ada didekatnya.
"Kau ...?" Pekik Prince girang.
Queen menoleh ke Prince dan berpura-pura terkejut, dia beranjak dari duduknya dan hendak kabur tapi Prince segera menahannya. Sementara Mitha yang duduk tak jauh dari Queen dan Prince, terus memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Hey, kau mau kemana? Aku hampir saja menjungkirbalikkan bumi ini untuk mencari mu, dan akhirnya kita bertemu disini. Jangan melarikan diri lagi." Ucap Prince tulus.
"Aku mohon lepaskan aku!" Queen yang merasa tak nyaman, berusaha melepaskan lengannya dari tangan Prince.
"Aku akan melepaskan mu kalau kau berjanji tidak akan pergi." Prince mencoba bernego. Dan tentu saja Queen menyetujuinya, karena memang ini rencana mereka.
"Baiklah." Queen kembali duduk di tempatnya dan Prince pun melepaskan tangannya dari lengan wanita itu.
"Perkenalkan namaku Prince, siapa namamu?"
"Namaku Sara." Jawab Queen bohong. Dia jelas tak ingin Prince mengetahui siapa dirinya.
"Sara, selama dua minggu ini aku mencari mu, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini." Prince berbicara dengan girang.
"Kenapa kau mencari ku?" Tanya Queen.
"Aku ingin minta maaf atas kejadian waktu itu, sungguh aku tidak ..." Prince tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Queen menyela.
"Cukup! Aku sudah melupakannya. Itu hanya kesalahan." Queen yang canggung berusaha menghentikan Prince.
Queen terkesiap mendengar ucapan Prince itu, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya sendiri.
"Kenapa begitu?" Tanya Queen.
"Bagaimana kalau aku katakan, aku jatuh cinta sejak pandangan pertama kepadamu?"
Queen sinis mendengar kata-kata Prince, dia tak akan semudah itu percaya kepada playboy kelas kakap ini.
Dasar pangeran iblis! Manis sekali mulutmu.
"Kejadian waktu itu hanya kesalahan satu malam, tidak mungkin menimbulkan cinta. Butuh waktu untuk seseorang bisa mencintai orang lain." Tepis Queen.
"Kalau begitu boleh aku bertanya, kenapa malam itu kau mabuk berat sampai kesalahan itu bisa terjadi?" Tanya Prince.
__ADS_1
Queen terdiam, dia tak ingin membeberkan apapun tentang dirinya, apalagi mengulang cerita menyakitkan tentang Jovan itu.
"Aku sedang ada masalah pribadi yang tidak bisa aku ceritakan kepadamu." Jawab Queen ketus.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu cerita. Tapi sungguh, perasaan ku kepadamu benar-benar tulus. Meskipun aku tidak tahu, mengapa aku bisa mencintaimu hanya dengan hubungan satu malam."
"Aku rasa itu bukan cinta. Itu hanya hasrat." Bantah Queen.
"Tidak ... tidak ...! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku menyesal dan merasa bersalah, saat itu aku mengira kau sama seperti wanita-wanita penghibur disini. Aku minta maaf, aku bersedia bertanggungjawab atas perbuatan ku waktu itu." Prince berbicara dengan tulus, dia memandang lekat manik mata Queen.
Mendadak jantung Queen berdetak tak karuan, walaupun dia sedikit kesal karena Prince sempat mengira dia sama seperti wanita-wanita jalang.
Tapi Queen berusaha untuk tidak terprovokasi dengan ucapan lelaki ini.
"Apa aku harus mempercayai mu?"
"Iya, aku berharap kau mempercayai ku." Sahut Prince penuh harap.
"Jika kau ingin aku percaya, mungkin kita harus mengenal satu sama lain dulu." Ujar Queen.
"Kau akan memberi ku kesempatan?" Tanya Prince senang.
"Hemm ... begitulah."
"Terimakasih, Sara." Prince menggenggam tangan Queen, tapi wanita itu melirik tangannya.
"Maaf ..." Prince segera menarik tangannya dari tangan Queen.
"Kalau begitu kita akan menghabiskan malam ini disini dan aku ingin mendengar semua tentang mu." Ujar Queen sembari menuangkan minuman ke dalam gelas Prince yang sudah kosong.
Tentu saja Prince senang, dia menyetujui keinginan Queen itu.
Queen mulai bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan keseharian Prince sambil terus mengisi gelas Prince yang telah kosong, sementara dia sendiri tidak meminum minumannya sama sekali.
__ADS_1
***