Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 52


__ADS_3

Kenedy uring-uringan mencari keberadaan putri semata wayangnya yang tidak ada dimana-mana, bahkan ponselnya juga tak bisa dihubungi. Padahal Kenedy sudah memintanya istirahat di rumah, tapi menjelang sore, Queen tidak juga pulang ke rumah. Bahkan dia juga tidak ada di kantor.


Kenedy dan Sandra benar-benar cemas, mereka bingung harus mencari putri mereka kemana lagi? Semua orang sudah dihubungi dan semua tempat yang mungkin Queen datangi juga sudah di cek, tapi hasilnya nihil. Dan yang membuat mereka semakin cemas adalah tujuan tempat Queen meeting yang jauh dari kota dan nama klien yang tak tertera di perusahaan mana pun.


"Kemana lagi kita harus mencarinya?" Kenedy berusaha memikirkan tempat lain yang mungkin Queen datangi.


"Bagaimana ini, Pa? Apa kita lapor polisi saja?" tanya Sandra panik. Mitha yang sudah berada di rumah Queen karena ditelepon oleh Sandra berusaha menenangkan wanita paruh baya itu.


"Baiklah, kalau sampai magrib ini Queen belum juga pulang, kita akan lapor ke polisi. Sekarang sebaiknya kita cari dia dulu."


"Apa tidak kelamaan, Pa?" protes Sandra.


"Kita tidak bisa sembarangan, Ma. Siapa tahu sebentar lagi Queen pulang." sahut Kenedy.


"Oh, Queen anakku. Dimana kamu, Nak? Semoga Tuhan melindungi mu." Sandra mulai terisak.


"Tenanglah, Tante. Queen pasti baik-baik saja." Mitha mengelus pundak Sandra. Tapi tiba-tiba dia tersentak karena ponsel di sakunya bergetar. Mitha merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih berlogo apel digigit itu, namun saat melihat ID si penelepon, dia langsung me-reject nya.


Dan tak lama kemudian, giliran ponsel Kenedy yang berdering. Sang pemilik Kingdom itu buru-buru menjawab panggilan masuk di ponselnya yang ternyata dari Kaisar.


"Halo, Kai."


"Halo, Om. Bagaimana, apa sudah ada kabar dari Queen?"


"Belum. Kalau sampai magrib ini dia tidak juga pulang, Om akan lapor polisi." ujar Kenedy.


"Itu ide bagus, Om. Sekarang aku sudah diperjalanan dari bandara, aku akan segera ke rumah Om."


"Iya, Kai. Maaf merepotkan." ucap Kenedy sungkan.


"Tidak apa-apa, Om. Queen itu kan calon istriku, aku juga mencemaskan nya. Setelah mendapatkan kabar dari Om, aku langsung memutuskan untuk kembali ke tanah air. Aku akan membantu mencari Queen."

__ADS_1


"Terima kasih ya, Kai."


"Sama-sama, Om. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya, Om."


"Iya, Kai."


Panggilan masuk dari Kaisar itu pun berakhir, Kenedy menghembuskan nafas berat. Dia benar-benar bingung memikirkan semua ini.


Dan lagi-lagi ponsel Mitha bergetar dari si penelepon yang sama, ini udah yang ke-tiga kalinya orang itu menghubungi Mitha, membuat wanita tomboi itu akhirnya menyerah.


"Permisi, Tante .... Om. Aku jawab telepon dari temanku dulu." Mitha beranjak dari sisi Sandra dan berjalan menjauhi pasangan suami-isteri itu.


"Ada apa?" tanya Mitha ketus setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.


"Kau dimana? Kenapa cafe mu tutup?"


"Bukan urusanmu aku dimana dan kenapa cafeku tutup!" jawab Mitha.


"Aku sedang sibuk!" Mitha segera mengakhiri pembicaraannya dengan Rafael itu.


"Mau ngapain sih tu orang? Masih saja berani nunjukin batang hidungnya." gerutu Mitha sembari berjalan kembali ke arah Sandra dan Kenedy.


***


Jovan sedang berbahagia, dia merasa puas karena sudah berhasil melenyapkan dua orang sekaligus, yaitu Queen dan Prince. Setidaknya itulah yang ada dipikirannya saat ini, karena setahu Jovan, hutan itu sangat luas dan dipenuhi hewan buas, tak ada yang bisa keluar dari hutan itu dengan selamat.


"Ternyata rencana ku menjebak wanita bodoh itu tidak sia-sia, dia percaya begitu saja saat aku menyamar menjadi klien yang akan menjalin kerjasama dengan Kingdom. Dengan senang hati dia menjemput ajalnya sendiri, dan si pecundang itu malah ikut-ikutan bunuh diri. Hahaha ...."


"Kau yakin mereka berdua akan mati di dalam hutan itu?" tanya Elsa memastikan.


"Aku yakin. Mungkin sekarang hewan-hewan buas itu sedang mencabik-cabik tubuh mereka."

__ADS_1


Elsa bergidik ngeri mendengar ucapan kekasihnya itu. "Lalu bagaimana kalau polisi dan semua orang mencurigai mu? Karena kau yang baru saja memiliki masalah dengan Queen dan juga Kingdom."


"Kau tenang saja! Aku sudah mengatur semuanya. Jika polisi menemukan mobil mereka di hutan, pasti polisi berpikir jika Prince pelakunya. Apalagi si brengsek yang sok jadi pahlawan itu juga pernah terlibat masalah dengan Queen." ucap Jovan dengan seringai liciknya.


Ternyata saat kembali ke gudang kayu itu, Jovan menemukan kunci mobil Prince yang tergeletak di lantai. Lelaki licik itu mendapat ide, dia memindahkan mobil Prince agar berdekatan dengan mobil Queen di tepi hutan, tentu saja dia tidak melakukannya sendiri melainkan menyuruh anak buahnya, karena Jovan tak ingin sidik jarinya tertinggal di mobil Prince ataupun Queen.


"Kau memang benar-benar cerdas, Sayang. Berikutnya giliran dua manusia menjijikkan yang sudah berani mengusikku." ujar Elsa sinis.


"Hemmm, secepatnya kita akan mengirim mereka ke neraka, menyusul Queen dan juga Prince."


Elsa menganggukkan kepala dua kali sembari tertawa. "Itu akibatnya mereka berani macam-macam dengan kita."


Tiba-tiba ponsel Elsa berdering, pertanda ada sebuah pesan yang masuk. Wanita seksi itu segera membaca pesan di ponselnya dan tawanya seketika memudar berganti raut wajah tegang. Dia pun buru-buru menghapus pesan itu.


"Ada apa? Siapa yang mengirimkan pesan?" tanya Jovan yang menyadari perubahan ekspresi sang kekasih.


"Oh, anu ... tidak ada apa-apa kok. Hanya pesan salah kirim saja." Elsa memaksakan senyuman dibibir nya. "Hmmm, Sayang. Aku pergi dulu ya, aku baru ingat ada janji temani Mama belanja."


Jovan memandang Elsa dengan tatapan selidik. "Kau sedang tidak membohongiku kan?"


Elsa menelan ludah mendengar pertanyaan Jovan itu, jantungnya berdebar kencang. Tapi dia berusaha menguasai dirinya. "Tidak dong, Sayang. Kalau tidak percaya, tanya aja Mama. Ni aku telepon ya."


"Tidak usah! Aku percaya kok." Jovan menahan Elsa yang hendak menghubungi sang Mama. "Ya sudah, pergilah! Hati-hati ya."


"Iya, Sayang. Aku pergi dulu." Elsa mengecup singkat bibir Jovan dan segera beranjak meninggalkan lelaki yang sudah enam tahun menjadi kekasihnya itu.


Akhirnya wanita ular itu bisa bernafas dengan lega karena berhasil meyakinkan sang kekasih, dia hampir mati jantungan saat Jovan memandangnya dengan curiga tadi.


"Aku harus cepat. Aku tidak boleh kehilangan kesempatan emas ini." ujar Elsa seraya berjalan dengan langkah yang cepat dan segera menyetop taksi.


***

__ADS_1


__ADS_2