Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 54


__ADS_3

Channa menghembuskan nafas berat dan tertunduk penuh penyesalan, dia tahu Prince pasti akan marah atas semua yang telah terjadi. Begitupun Chandara, wanita muda itu hanya memegang erat lengan sang Ayahanda, berusaha menenangkannya.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan apapun saat itu, aku sudah berusaha mencarinya kemana-mana, tapi dia seperti hilang ditelan bumi." Channa memberanikan diri untuk bersuara dengan kepala yang masih tertunduk.


Prince mengusap wajahnya dengan kasar, dia benar-benar tak menyangka takdir akan mempertemukannya dengan orang ini.


"Kau tahu betapa menderitanya Ibu saat itu? Hampir setiap malam Ibuku menangis penuh penyesalan. Apa kau tahu itu, haa ...?"


Prince teringat kembali saat masih kecil, dia sering tak sengaja memergoki sang ibu sedang menangis sendiri di dalam kamar.


Channa semakin tertunduk, hatinya merasa ngilu mendengar ucapan Prince.


"Ibuku tidak sepenuhnya bersalah, tapi dia harus menanggung semua beban dan derita seorang diri karena dicampakkan oleh keluarganya sendiri. Semua ini tidak adil untuknya." Prince berbicara dengan nada yang meninggi dan penuh emosi, dadanya sampai kembang kempis menahan sesak. Bahkan matanya yang merah kini mulai basah. Dan suaranya yang menggema membuat Queen tersentak bangun.


"Hey, jaga sikapmu!" bentak Chandara. Dia tak terima Prince berbicara kasar kepada ayahnya. "Kau tidak bisa menyalahkan Pa. Dia tidak bersalah, dia sudah berusaha mencari Ibumu. Bertahun-tahun dia merindukan Khun Chaiyya, dia juga tersiksa. Dan sekarang kau malah melimpahkan kesalahan kepadanya."


"Nong, sudah! Biarkan Prince meluapkan amarahnya. Pa memang pantas mendapatkan semua ini. Karena Pa tak becus menjaga Ibunya."


"Tidak bisa, Pa. Harusnya dia mendengarkan dulu penjelasan Pa, bukannya malah marah-marah dan menyalahkan Pa begini."


"Kalau begitu, ayo jelaskan!" tantang Prince.


Channa kembali menghembuskan nafas dengan berat, lehernya serasa tercekat. Dadanya juga teras sesak meski udara bisa dia hirup sebanyak-banyaknya. Tapi putrinya itu benar, dia harus menjelaskan semuanya agar Prince tidak salah paham kepadanya, meskipun dia sadar, Prince memang pantas marah kepada keluarganya. Dan karena hanya tinggal dia seorang, jadi dialah yang harus menanggung amarah itu.


"Saat itu aku tidak dirumah, aku sedang merantau ke Jakarta. Entah mengapa perasaanku tidak enak, aku lantas memutuskan untuk kembali ke kampung ini. Tapi apa yang menyambut ku sungguh sangat membuat hatiku hancur." Channa semakin tertunduk sembari menyusut hidungnya yang basah.

__ADS_1


Prince dan Chandara sama-sama terdiam mendengarkan cerita lelaki paruh baya itu. Begitu juga dengan Queen, dia juga diam mendengarkan perkataan Channa tanpa sepengetahuan semua orang.


"Ibuku sedang meratapi jasad Ayahku yang terbujur kaku, dia baru saja meninggal karena serangan jantung. Dan dari desas-desus tetangga sekitar aku dengar, semua itu karena Chaiyya hamil dengan lelaki yang tidak dia kenal. Padahal saat itu dia baru saja lulus SMA di Bandung. Aku segera mencari keberadaannya, tapi dia tidak ada dimana-mana. Aku coba bertanya kepada kerabat ku, dan katanya Chaiyya sudah pergi karena diusir dari kampung ini. Dan tiga hari setelah kepergian Ayah, aku putuskan untuk mencarinya ke Bandung, tapi tidak ketemu. Aku sampai frustasi dan terpaksa pulang dengan tangan kosong." Channa melanjutkan ceritanya dengan suara yang bergetar menahan tangis. Chandara mengusap pundak sang ayah sambil sesekali menyeka air matanya.


"Jadi kau tidak ikut mengusir ibuku?" tanya Prince curiga.


Channa menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin aku tega mengusir adik yang begitu aku sayangi. Bahkan andai aku datang tepat waktu, aku tidak akan membiarkan Chaiyya pergi kemanapun. Karena aku tahu dia tidak seburuk itu, dia gadis yang baik."


"Ayah dan Ibuku memang kecewa dan marah, mereka malu. Tapi aku yakin mereka juga mengkhawatirkan putrinya, mereka terpaksa merelakan Chaiyya pergi karena desakan warga kampung. Bahkan Ibuku menangis setiap saat karena merindukannya, hingga dua minggu setelah kejadian itu, Ibu pun menyusul Ayah menghadap sang khalik. Aku kehilangan orang-orang yang ku sayangi." lanjut Channa yang terisak-isak.


Prince memejamkan matanya dengan kuat, cairan bening jatuh tak tertahankan lagi. Begitu juga dengan Queen, meski tak begitu mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi tanpa sadar air matanya ikut jatuh menetes.


"Dan hari ini Tuhan mempertemukan kita, takdir memang tak bisa diterka." Channa tertawa getir sambil menyeka air matanya.


"Tidak apa-apa, kau tidak salah. Setiap anak pasti bereaksi sama sepertimu."


"Ibu hanya mengatakan dia memiliki seorang Kakak dan dia diusir keluarganya karena hamil diluar nikah. Itupun karena kesalahan satu malam yang aku tak tahu pasti seperti apa ceritanya dan Ibu tak pernah cerita banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sekali lagi maafkan aku .... Paman." ujar Prince.


"Sudahlah. Mungkin dia berat untuk mengatakannya kepadamu."


"Iya, Ibu selalu menyimpannya sendiri." wajah Prince semakin menyedih.


"Bagaimana kabar Ibumu?" tanya Channa mengalihkan pembicaraan demi melihat Prince sedih.


"Ibu baik."

__ADS_1


"Syukurlah. Apa dia sudah menikah?"


"Ibu tidak pernah menikah, selama bertahun-tahun kami hanya hidup berdua. Ibu membesarkan aku dengan penuh kasih sayang, dia rela menjadi asisten rumah tangga demi bisa menghidupi ku. Tapi Ibu tak pernah mengeluh, walau aku tahu, pasti berat menjadi orang tua tunggal."


"Adikku memang wanita yang kuat, dia hebat. Aku merindukannya. Sangat merindukannya." ucap Channa yang air matanya kembali jatuh menetes.


"Pa ...." Chandara mengusap lembut pundak sang ayah.


"Aku menyesal mengizinkan dia sekolah jauh dari rumah, aku juga terlalu sibuk merantau sampai tak punya banyak waktu untuk memperhatikannya. Sementara Ayah dan Ibu juga sibuk bekerja." sesal Channa.


"Kenapa Ibu harus sekolah di Bandung? Apa dikampung ini tidak ada sekolah?" tanya Prince penasaran.


"Dia mendapatkan beasiswa bersekolah disana dan kebetulan salah seorang temannya juga pindah kesana, jadi dia menumpang tinggal di rumah temannya itu. Tapi saat aku mencarinya, dia tidak ada. Dan kata temannya itu, dia sudah lama tak tinggal di rumah mereka lagi."


"Kenapa?" Prince menautkan alisnya.


"Entahlah. Temannya juga tak tahu, dia pergi begitu saja."


"Kasihan Ibu. Dia pasti sangat ketakutan dan sedih."


"Hemm, ini semua gara-gara lelaki berengsek itu! Rasanya saat itu aku ingin sekali menghabisinya." geram Channa.


Prince terdiam dengan rahang yang mengeras, selama ini dia juga sangat membenci lelaki yang telah membuatnya hadir ke dunia ini.


***

__ADS_1


__ADS_2