
Begitu masuk, Mutia langsung duduk disamping Chandara yang sedang melipat pakaian, sementara Queen tengah berbaring. Tapi tidak lagi di ranjang luar, melainkan di dalam kamar Chandara. Karena hari sudah malam, mereka tak ingin Queen kedinginan dan masuk angin kalau tidur diluar kamar.
"Dara, itu siapa yang didepan? Ganteng banget!" tanya Mutia heboh.
"Kakak sepupuku dari kota." jawab Chandara. Tangannya masih sibuk melipat pakaian yang berserak.
"Sudah menikah?"
"Belum."
"Pacarnya ada?"
Chandara menaikkan kedua bahunya. "Entah."
Walaupun Chandara tahu cerita tentang Prince dan Queen, tapi sejatinya mereka bukanlah pasangan kekasih.
"Tanya dong, Dara! Kali aja dia jomblo dan aku masih punya kesempatan buat jadi pacarnya. Atau kenali aku ke dia, biar aku tanya sendiri saja." desak Mutia tak tahu diri.
Queen hanya diam mendengarkan ocehan Mutia, dinding kamar yang terbuat dari tripleks itu tentu tak bisa menghalau suara dari luar. Dan entah mengapa dia merasa kesal dengan ucapan gadis itu.
"Kau ini genit sekali! Pantang lihat barang bagus." cibir Chandara.
"Iya dong. Kapan lagi bisa punya pacar seganteng dia? Orang kota lagi. Si Arif anak juragan jengkol sih tidak ada apa-apanya."
__ADS_1
"Kemarin aja nge-fans banget dengan Arif, sekarang dijelek-jelek kan." ledek Chandara.
"Sekarang ada yang lebih top. Ayolah Dara, kenali aku ke Kakak sepupumu itu." rengek Mutia sedikit memaksa.
"Lagi pada ngobrolin apa, sih? Kayaknya seru sekali." tiba-tiba suara Channa mengagetkan semua orang, lelaki paruh baya itu sudah berjalan masuk ke dalam rumah bersama Prince.
Mata Mutia langsung berbinar-binar kala melihat sosok ganteng Prince sudah berdiri dibelakangnya.
"Si Mutia, Pa. Dia ingin berkenalan dengan Kak Prince." jawab Chandara jujur. Dia hapal betul tabiat sang sahabat.
Mutia sontak memukul pundak Chandara. "Kau ini jujur sekali! Aku malu tahu!"
"Mau kenalan saja kok malu?" ledek Channa. "Prince, kenalin ini Mutia. Dia sahabatnya Nong. Rumahnya berjarak sepuluh meter dari sini." Channa memperkenalkan Mutia kepada Prince.
Malu-malu Mutia menjabat tangan Prince. "Hai, Kak. Namanya sekeren orangnya"
Mutia masih memegang tangan Prince sambil senyam-senyum sendiri, Prince yang risih berusaha menarik tangannya.
"Ehem, lama banget salamannya?"
Mutia tersentak dengan pertanyaan Chandara itu dan bergegas melepaskan tautan tangannya dengan Prince sembari cengengesan. "Hehehe, maaf. Tangan aja tahu mana yang nyaman dipegang."
Channa dan Chandara hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mutia itu, begitu juga dengan Prince.
__ADS_1
Mutia memang gadis manis dengan karakter yang lucu dan mudah akrab walau sedikit centil. Gadis ini kadang juga suka bertingkah konyol dan berbicara blak-blakan. Tapi semua orang menyukainya.
"Hem, Kak Prince sudah punya pacar?" tanya Mutia tanpa basa-basi. Membuat semua orang tercengang dengan pertanyaannya itu.
"Belum. Memangnya kenapa?"
"Oh. Tidak apa-apa, cuma mau pastiin, kali aja aku bisa daftar jadi penghuni hatinya." balas Mutia polos, membuat semua orang kembali tercengang.
"Huu, dasar genit!" ejek Chandara.
"Mutia .... Mutia ...." Channa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan Prince hanya terkekeh mendengar jawaban to the point gadis itu.
Tentu saja jawaban Prince itu membuat hati Mutia bersorak gembira, dia berpikir masih punya kesempatan untuk menggaet lelaki rupawan itu. Dasar Mutia!
Queen masih setia mendengarkan semua pembicaraan mereka dari dalam bilik berukuran 3 x 3 meter itu, entah mengapa rasa kesalnya semakin menjadi. Dan tanpa sadar dia menggerutu sendiri.
"Dasar genit! Awas saja!"
Queen tidur dengan posisi miring dan menimpa kepalanya dengan sebuah bantal lalu menekannya agar suara-suara di luar tak terdengar di telinganya. Dia benar-benar kesal saat ini.
Sementara di ruang tamu, Mutia masih berceloteh dan disambut gelak tawa semua orang.
__ADS_1
***