Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 68.


__ADS_3

Prince dan Queen sudah bersiap untuk kembali ke kota, seminggu sudah mereka tinggal di kampung terpencil nan asri itu. Sekarang saatnya kembali ke kehidupan yang sesungguhnya dan menerima kenyataan.


Channa masih sibuk menasihati Chandara, dia berpesan ini dan itu, sebab disini tak ada sinyal, jadi mereka akan susah berkomunikasi. Sejujurnya hati Channa tak tenang meninggalkan putrinya seorang diri, tapi apa boleh buat? Chandara tak bisa ikut karena tiga hari lagi jadwalnya imunisasi yang selalu diadakan di rumahnya.


"Nong, kau yakin tidak apa-apa ditinggal sendiri?" Channa memandang cemas putrinya.


"Tidak apa-apa, Pa. Aku akan baik-baik saja, disini banyak yang akan menemani dan menjaga ku. Pa tenang saja." balas Chandara.


"Tapi Pa cemas. Apa sebaiknya Pa tidak jadi ikut saja?"


"Eh, jangan! Pa harus pergi! Ini momen yang baik, bukankah Pa sangat merindukan Khun Chaiyya? Jangan sia-siakan kesempatan ini, Pa."


"Baiklah. Pa janji tidak akan lama, setelah bertemu dengan Chaiyya, Pa akan langsung pulang." ucap Channa.


Chandara tersenyum. "Iya. Sampaikan salam ku untuk Khun Chaiyya."

__ADS_1


"Iya." Channa mengangguk. "Pa, pergi dulu ya. Kau hati-hati di rumah." Channa mengelus kepala sang putri.


"Kami pamit ya, bawel." Prince mencubit gemas hidung mancung Chandara. Walau baru sebentar, tapi keduanya sudah sangat akrab.


"Ish, sakit, Kak." gerutu Chandara sembari mengusap hidungnya yang memerah.


"Aku pulang ya, Dara. Terima kasih banyak." sela Queen dengan senyum yang terkembang.


"Iya, Mbak. Sama-sama. Titip Prince junior ya! Jaga dia! Mbak juga harus jaga kesehatan, banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi. Setelah sampai kota, buruan ke dokter spesialis kandungan. Dan jangan jera main kesini lagi."


Wajah Queen sontak berubah muram demi mendengar pesan Chandara itu. Menjaga Prince junior? Apa dia bisa? Dia bahkan tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Meskipun beberapa hari ini hubungannya membaik dengan Prince, tapi itu tak menjamin kedepannya akan lebih baik juga.


"Hati-hati ya. Bye ...." Chandara melambaikan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca saat mobil Avanza hitam itu melaju meninggalkan halaman rumahnya.


"Ya Tuhan, lindungi mereka selalu. Semoga semua akan baik-baik saja." ucap Chandara seraya menyeka air matanya yang berhasil lolos.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan, Prince terus menggenggam erat tangan Queen seolah-olah takut wanita yang dia cintai itu pergi. Sementara Channa sedang asik ngobrol dengan si supir di bangku depan.


Berulang kali Queen menguap dan terkantuk-kantuk, padahal mereka baru separuh jalan. Prince yang memperhatikannya sontak menarik kepala wanita itu agar bersandar dipundaknya.


"Tidurlah jika kau mengantuk." pinta Prince sambil memegangi kepala Queen agar tidak jatuh. Wanita yang sedang hamil muda itu menurut dan memejamkan matanya.


Prince mengecup kepalanya dan berbisik. "Aku mencintaimu."


"Oh iya, kita mau ke mana dulu? Mengantarkan Queen, ke kantor polisi atau langsung ke rumahmu?" Channa berbalik memandang kedua insan itu.


"Langsung ke rumahku saja, Paman. Aku ingin memperkenalkan Queen kepada Ibu." sahut Prince sumringah.


Channa mengangguk tanda mengerti. "Baiklah, tunjukkan alamatnya di mana!"

__ADS_1


Prince pun memberikan informasi alamat rumahnya, dia benar-benar tak sabar ingin mengenalkan Queen kepada sang Ibu.


***


__ADS_2