
Jovan sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah, tapi saat di tengah jalan, mobilnya dipepet oleh sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor kendaraan.
Mau tak mau Jovan pun menghentikan laju kendaraannya saat mobil sedan hitam itu menghadang di depan.
Dua orang lelaki bertubuh tinggi besar dan memakai masker turun dari dalam mobil sedan hitam itu dan segera menghampiri mobil Jovan.
Salah seorang dari mereka menggedor kaca jendela mobil Jovan dan meminta lelaki itu membuka pintu, awalnya Jovan ragu tapi lelaki misterius itu terus menggedor kaca jendela mobil milik Jovan dengan semakin kuat dan cepat.
Jovan pun akhirnya membuka kaca jendela mobilnya.
"Keluar!"
Jovan pun membuka pintu mobilnya dan keluar sesuai permintaan dua lelaki itu.
"Siapa kalian? Ada perlu apa?" tanya Jovan curiga.
Tapi salah seorang dari mereka menodongkan pistol ke perut Jovan, "Serahkan dompet dan ponselmu! Atau aku tembak perutmu."
Jovan tercengang, mendadak jantungnya berdetak kencang, merasa ngeri dengan ancaman lelaki misterius itu, tapi dia juga ragu untuk menyerahkan apa yang mereka minta.
"Cepat serahkan!" Bentak lelaki yang satunya lagi.
Jovan pun pasrah, dia memberikan dompetnya. Tapi dia ragu untuk memberikan ponselnya.
"Ponselnya!"
"Tapi ...."
"Atau kau sudah siap mati?" Lelaki yang menodongkan pistol itu menarik pelatuknya, membuat Jovan gemetaran karena takut.
"I-iya ... iya ...." Jovan pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan langsung dirampas oleh lelaki itu.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, lelaki itu pun mengarahkan pistolnya ke bawah. Dan ....
__ADS_1
Doooorrr ....
Dia menembak ban depan mobil Jovan, seketika ban itu kempes. Jovan terkejut sekaligus geram, tapi dia tak berani melawan mengingat mereka memegang senjata.
Kedua lelaki misterius itu akhirnya pun pergi meninggalkan Jovan, tapi sebelum melajukan mobilnya, salah seorang lelaki itu membuang dompet Jovan yang telah kosong, hanya tinggal beberapa kartu dan surat kendaraan. Mereka hanya mengambil ponsel dan juga uangnya.
Setelah mobil mereka pergi, barulah Jovan mendekati dompet miliknya itu dan memungutnya.
"Berengsek!!! Sial!!!" Jovan meremas kuat rambutnya, "Siapa mereka? Aku yakin mereka di suruh seseorang! Apa jangan-jangan ini ulah Queen?"
Jovan kembali ke mobilnya, jalanan yang sepi membuat penderitanya semakin lengkap karena tak ada orang bisa membantunya.
"Aaarrggh ...!!! Bangsat!!!" Teriak Jovan sembari menendang ban mobilnya yang bocor akibat ditembak tadi.
Di dalam mobil, dua lelaki misterius itu membuka maskernya dan tertawa senang. Salah satu dari mereka menghubungi seseorang.
"Hallo, Bos. Misi sudah terlaksana!"
"Baik, Bos."
Sementara itu ditempat berbeda, seseorang tengah tersenyum penuh kemenangan karena orang suruhannya menjalankan misi dengan baik.
"Setelah ini, aku pastikan kau angkat kaki dari Kingdom."
***
Prince kembali duduk termenung di Devil Club, kali ini bukan dengan perasaan yang marah seperti biasanya, tapi lebih ke merasa penuh penyesalan. Dia sengaja meminta James untuk menemaninya, dia ingin berbagi dengan sahabatnya itu.
"Hei, Bro," James yang baru datang menepuk pundaknya. "Kali ini ada apa lagi?" Tanya James tanpa basa-basi, dia tahu sahabatnya itu pasti ada masalah lagi dengan Queen.
"Aku sudah mengetahui semuanya," Jawab Prince datar.
"Mengetahui apa?"
__ADS_1
"Ternyata bukan Queen yang mencuri informasi dari Emperor, aku sudah salah sangka." Prince tertunduk penuh penyesalan.
"Kalau bukan dia lalu siapa?"
Prince pun menceritakan isi rekaman itu, James terkesiap mendengarnya, dia benar-benar tak menyangka Rafael sanggup melakukan semua kecurangan ini.
"Jadi kau sudah minta maaf kepadanya?"
Prince hanya mengangguk dua kali.
"Apa dia mau memaafkan mu?"
Kali ini Prince menggelengkan kepalanya. Dan James hanya menghembuskan nafas pelan.
"Sudah ku duga. Dia pasti terlalu sakit hati karena semua tuduhan dan hinaan mu." Ucap James.
"Iya, aku tahu itu. Aku memang sudah keterlaluan, aku terlalu mengikuti emosiku, aku terhasut dengan semua yang aku lihat tanpa mencernanya lebih dulu. Aku benar-benar menyesal, James." Prince tertunduk pilu.
"Sudahlah, Bro. Kau juga salah paham, anggap saja kau tidak sengaja menyakitinya. Sekarang sebaiknya kau lupakan wanita itu, kembali ke kehidupanmu yang dulu. Kau sudah terlalu lama menyia-nyiakan waktumu karena dia." Jawab James santai.
"Aku tidak bisa! Justru semakin aku tahu dia tak bersalah, aku semakin ingin memilikinya. Aku takut dia benar-benar membenciku seumur hidupnya."
"Sepertinya kau memang sungguh-sungguh jatuh cinta kepadanya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur membencimu." Ledek James.
"Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan maaf darinya, aku akan membuat dia mencintaiku." Ujar Prince dengan tekad yang kuat.
"Iya, terserah kau sajalah. Semoga beruntung!" James menepuk-nepuk pundak Prince dengan mengulum senyum.
Prince hanya diam bergeming, tak membalas ucapan sahabatnya itu yang dia tahu hanya ledekan.
Aku pastikan kau akan menjadi milikku.
***
__ADS_1