Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 39


__ADS_3

Sebelum ke Kingdom, Queen menyempatkan diri bertandang ke cafe Mitha, dia tak sabar ingin menceritakan apa yang dilakukan Jovan kepadanya. Kemarin dia tidak sempat mengatakannya kepada Mitha karena dia mengalami kecelakaan dan juga karena ada Kaisar.


Tapi Queen terkejut melihat Rafael berada di cafe milik sahabatnya itu dalam keadaan tertidur pulas, sementara Mitha yang memang sengaja tidak pulang ke apartemennya guna menemani lelaki yang sedang patah hati itu, hanya meringis salah tingkah.


"Mit, apa-apaan ini? Kau dan dia?" Queen memandang Mitha dan Rafael bergantian.


Mitha yang memahami maksud pertanyaan sahabatnya itu buru-buru menepis prasangka nya, "Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku bisa menjelaskannya."


Queen menatapnya lekat lekat, menanti penjelasan yang paling masuk akal dari sahabatnya itu.


"Gini, tadi malam dia datang dalam keadaan mabuk, dia patah hati karena memergoki Elsa selingkuh dengan Jovan."


"Haaa ...? Jadi mereka masih berhubungan?"


Mitha mengangguk, "Iya. Dan tadi malam, dia membeberkan sendiri persekongkolan nya dengan Elsa dan Jovan, dan kau harus dengar ini."


Mitha menarik Queen menjauh dari Rafael dan duduk disalah satu sofa lalu memperdengarkan rekaman suara Rafael.


"Ya ampun! Jadi dia melakukan semua itu hanya untuk menghancurkan Prince? Bodoh sekali dia! Dia bahkan tak memikirkan perusahaannya sendiri." Queen menggeleng tak percaya.


"Kebencian dan cinta telah membutakannya, bahkan telah membuat dirinya menjadi bodoh." sahut Mitha.


"Tapi kenapa dia membenci Prince?" tanya Queen.

__ADS_1


"Entahlah. Aku tidak tahu dan juga tidak perduli. Yang terpenting sekarang, kita harus memberikan rekaman ini kepada Prince, agar dia tahu jika selama ini dia sudah salah paham dan berhenti mengganggu mu." jawab Mitha.


"Iya kau benar. Aku ingin segera terbebas dari Pangeran iblis itu."


"Heemm ..." Mitha berdehem, "Oh iya bagaimana, kau sudah mengecek proposal yang dibuat Jovan?"


"Sudah. Dia memang menipuku, untuk merusak reputasi ku. Dia tidak menggunakan harga yang sudah kami sepakati. Aku sudah melabraknya dan dia juga sudah mengakuinya."


"Jadi benar? Dasar kurang ajar! Kalau begitu apa kau sudah mengatakannya kepada Papamu?"


Queen menggeleng dengan wajah cemberut, "Belum. Dia mengancam jika aku membeberkan masalah ini kepada Papa, dia akan menyebar video yang berisi rekaman aku dan Prince."


"Video?" Mitha memandang lekat wajah Queen.


"Berengsek! Dia benar-benar licik!" Mitha menggeram. "Kau tenang saja! Aku akan membantumu menangani lelaki tidak tahu diri itu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah, secepatnya memberikan rekaman ini kepada Prince. Aku apa kau sendiri yang memberikannya?"


"Kau saja. Aku tidak ingin bertemu dia lagi."


"Baiklah. Setelah mengusir lelaki tidak berguna itu, aku akan menemuinya dan memberikan rekaman ini." Mitha berbicara sambil menunjuk Rafael yang masih terlelap dengan dagunya lalu merangkul pundak Queen.


***


Siangnya, setelah mengusir Rafael dari cafenya, Mitha memutuskan untuk menemui Prince di Emperor. Dia benar-benar ingin semua ini selesai agar Queen bisa hidup dengan baik.

__ADS_1


"Ada apa kau menemuiku? Sepertinya ada yang penting?" tanya Prince.


"Masih dengan tujuan yang sama, memintamu untuk berhenti mengganggu Queen. Dan kali ini aku membawa bukti jika memang bukan dia yang mencuri informasi dari Emperor." jawab Mitha tegas.


"Oh iya? Sepertinya kau yakin sekali?" Prince menaikkan sebelah alisnya.


Mitha tak menjawabnya, dia bergegas memberikan sebuah flashdisk berisi rekaman suara Rafael kepada Prince. "Setelah kau mendengar rekaman ini, jangan mengganggu Queen lagi! Biarkan dia hidup dengan tenang. Aku permisi!"


Mitha segera meninggalkan ruangan Prince setelah menyodorkan flashdisk itu ke hadapan Prince.


Prince memandangi flashdisk berwarna hitam itu dengan tatapan bingung, sejurus kemudian, dia segera mencolokkan benda itu ke laptopnya dan mulai mendengarkan isi rekamannya. Prince tercengang dengan ekspresi tak percaya bercampur menyesal setelah mendengar suara yang dia tahu pasti siapa pemiliknya. Dengan rahang yang mengeras, Prince segera beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangannya.


Prince mendatangi ruangan Rafael, tapi anak atasannya itu sama sekali tidak berada disana. Dia memutuskan untuk bertanya kepada sekretaris Rafael.


"Dimana Pak Rafael?" Tanya Prince.


"Maaf, Pak Prince .... Pak Rafael tidak masuk hari ini." Jawab sekretaris Rafael.


"Kenapa?"


"Saya kurang tahu, Pak. Pak Rafael tidak memberikan kabar dan juga tidak bisa dihubungi." Sahut sekretaris Rafael.


"Baiklah, terimakasih." Prince segera berlalu dengan langkah lebar menuju pintu keluar gedung Emperor. Perasaannya benar-benar berkecamuk.

__ADS_1


***


__ADS_2