
Setelah kepergian Prince, Queen memutuskan untuk menemui Mitha dan meninggalkan Kingdom. Dia tak bisa bekerja jika dalam keadaan seperti ini.
Queen mengadu kepada Mitha sambil menangis pilu, Mitha yang prihatin, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Tenangkan lah dirimu, Queen." Mitha memeluk erat Queen.
"Aku sakit hati, Mit. Sudah jelas-jelas dia yang menyakiti dan merusak hidupku, tapi dia justru menuduhku dengan sekejam itu. Aku benci dia! Aku benci dia, Mitha!" Queen meluapkan emosinya sambil sesenggukan.
"Iya, kau boleh membencinya. Tapi tenangkan dirimu dulu. Jangan seperti ini!" Mitha mengelus punggung Queen dengan lembut.
Queen menarik dirinya dan menghapus jejak-jejak air mata di pipinya.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Aku rasa dia pasti tidak akan berhenti mengganggumu, mengingat ancamannya itu." Tanya Mitha cemas.
"Aku tidak takut dengan ancamannya. Aku bersumpah akan melawannya dengan tanganku sendiri dan aku tidak akan membiarkan lelaki biadab sepertinya mengusik hidupku."
"Tapi kau harus tetap berhati-hati! Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Jadi waspadalah!" Mitha memandang cemas Queen.
"Iya, kau tenang saja! Aku akan selalu berhati-hati." Balas Queen.
"Aku pasti akan selalu mendukung dan membantumu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi." Ucap Mitha.
"Terimakasih ya, Mit." Queen berhambur memeluk sahabatnya itu lagi.
***
Malam harinya, James mendapati Prince kembali minum-minum di Devil Club, tapi kali ini dia membiarkan wanita-wanita penghibur di bar itu menemaninya. James merasa cemas melihat kondisi Prince yang mulai mabuk.
"Prince, apa yang kau lakukan?" Tanya James.
"Aku sudah menemukan Sara." Jawab Prince dengan sedih.
Prince lalu menceritakan segalanya kepada James, dia benar-benar masih sulit mempercayainya. Saingan bisnisnya adalah orang yang pernah tidur dengannya dan lebih parahnya lagi, Prince telah jatuh hati kepadanya.
"Aku punya banyak kesempatan untuk bertemu dengannya, tapi aku tidak pernah mengetahuinya. Aku benar-benar bodoh!" Prince merutuki dirinya sendiri.
"Jadi benar dia orang yang memikat dan menjebakmu untuk mengetahui rahasia Emperor? Tapi bukankah di malam pertama kalian bertemu, dia belum bergabung di Kingdom?" Tanya James bingung.
__ADS_1
"Dia bilang kejadian malam itu hanyalah kesalahan. Aku yakin dia kembali untuk membalas dendam kepada ku. Dia pasti sangat puas melihat aku dibodohi seperti ini. Kebodohan yang harus aku tukar dengan tender perusahaan. Tak ku sangka ada orang semacam dia, yang sanggup melakukan hal selicik itu." Prince menyesali semuanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Karena dia sudah menunjukkan dirinya sebagai musuhku seperti ini, akan kulakukan segala cara untuk membalasnya. Perasaan bersalah yang selama ini ku tanggung, sudah ditukar dengan keuntungan yang dia dapatkan dariku. Sudah cukup!" Prince berbicara dengan penuh emosi.
"Aku rasa dia memang wanita yang mengerikan. Syukurlah kau sudah mengetahuinya." Sahut James.
Prince tak membalas ucapan James. Dia benar-benar merasa terpukul dengan kenyataan ini, jauh di dalam hatinya dia masih menyimpan rasa kepada Queen, yang mungkin adalah rasa cinta yang mulai bersemi. Tapi kemarahan dan sakit hati lebih mendominasi perasaannya.
***
Rafael dan Elsa sedang duduk bersandar di atas ranjang, tubuh polos mereka mereka hanya di balut selimut.
"Aku heran, kenapa sejak Emperor kalah tender kemarin, Prince seperti tidak memperjuangkan apapun lagi. Dia terlihat tidak perduli dengan pekerjaan seperti sebelumnya." Rafael memikirkan keanehan yang dia lihat dari bawahannya itu.
"Bukankah itu bagus! Anggap ini kesempatan baik untukmu." Sahut Elsa.
"Kesempatan baik apanya? Papa masih terus membelanya. Bahkan kegagalan kemarin tidak lantas membuat Papa memecatnya." Gerutu Rafael.
"Kalau begitu kau harus lakukan sesuatu agar Papamu berhenti membelanya." Pinta Elsa.
"Tentu, Sayang."
"Aku harap ide mu kali ini tidak merugikan Emperor lagi. Cukup sekali itu saja." Ucap Rafael.
"Iya, kau tenang saja." Balas Elsa dengan senyuman liciknya. Dia teringat kembali saat dia menyampaikan rencananya yang membuat Emperor kalah dari Kingdom.
**
Siang itu setelah selesai memadu kasih, Rafael dan Elsa menyusun rencana untuk menjatuhkan Prince.
"Jadi apa rencana mu, Sayang?" Tanya Rafael.
"Bukankah tadi kau katakan, Prince sedang mengurus tender perusahaan dan Kingdom juga ikut?! Nah ... kau harus membuat Emperor kalah dalam tender kali ini. Dan membiarkan Kingdom yang menang." Jawab Elsa.
"Ah ... itu sama saja aku memberi kesempatan untuk rival perusahaanku." Tolak Rafael.
__ADS_1
"Hey ... ini satu-satunya cara agar Papamu marah besar kepada Prince karena telah gagal. Dan kau bisa memprovokasi Papamu untuk segera memecatnya dari Emperor karena dia tak berguna."
Rafael terdiam mencoba mencerna kata-kata Elsa.
"Baiklah, kali ini aku akan merelakan Emperor rugi demi bisa mencampakkan pegawai sialan itu." Rafael akhirnya menyetujui ide kekasihnya itu.
"Gitu dong!"
"Tapi bagaimana caranya aku bisa membuat Kingdom memenangkan tender ini?" Rafael menautkan kedua alisnya.
"Kebetulan aku punya teman yang bekerja di Kingdom, dia bisa membantu kita." Sahut Elsa.
"Oh, begitu."
"Kalau begitu kau bisa katakan berapa harga yang ditawarkan Prince?" Pinta Elsa.
"Satu koma empat miliar." Ujar Rafael. Lelaki ini begitu percaya kepada Elsa tanpa rasa curiga sedikitpun.
Setelah mendapatkan informasi dari Rafael, Elsa segera menghubungi Jovan tanpa sepengetahuan Rafael yang sedang mandi.
"Hallo, ada apa Sayang?" Jovan.
"Sayang, aku mendapatkan informasi dari tamanku yang bekerja di Emperor, mereka akan menawarkan harga satu koma empatĀ miliar untuk tender kali ini." Ungkap Elsa.
"Kau yakin temanmu itu bisa dipercaya?" Jovan.
"Aku yakin. Sekarang kau atur semuanya. Ini kesempatan bagus untuk membuat posisimu aman di Kingdom." Pinta Elsa.
"Baiklah. Terimakasih ya, Sayang." Jovan.
"Hemmm ..." Elsa tersenyum penuh kemenangan.
Jovan bergegas menemui Kenedy, dan menyarankan agar penawaran tender mereka dinaikkan sedikit dari harga penawaran Emperor, tentu saja Kenedy tidak mengetahui jika Jovan mencuri informasi itu. Awalnya Kenedy keberatan karena jumlah yang disarankan Jovan, tapi lelaki itu meyakinkan Kenedy bahwa mereka pasti bisa memenangkan tender kali ini.
"Kenapa kau begitu yakin?" Tanya Kenedy.
"Saya sudah mempelajari semuanya, dan saya rasa itu angka yang pantas." Jawab Jovan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ikuti saran darimu." Kenedy setuju.
***