
Setelah diparkiran, Rafael melepaskan tangan Mitha dan menatap tajam wajah gadis itu.
"Sekarang jelaskan apa maksud ucapanmu tadi?" Tanya Rafael.
"Ucapan yang mana?" Mitha pura-pura tidak tahu.
"Jangan berpura-pura! Kau tahu pasti maksudku kan?"
"Aku tidak tahu!" Mitha memalingkan wajahnya dan saat itulah dia melihat Prince baru keluar dari gedung Emperor dan Mitha segera memanggil lelaki itu.
"Prince!!!" Teriak Mitha dan Prince yang mendengar namanya dipanggil sontak menoleh kearah Mitha dan Rafael.
"Kau mengenalnya?" Tanya Rafael, tapi Mitha tak menjawabnya.
"Aku ada urusan." Mitha bergegas berlari mendekati Prince. Sementara Rafael hanya memandang bingung sekaligus kesal dengan tingkah gadis tomboi itu.
Mitha menghadang Prince dan berdiri di hadapan lelaki itu. Prince jelas bingung karena mendadak Mitha memanggil dan menahannya.
"Apa kita saling kenal?" Prince menautkan kedua alisnya.
"Aku sangat mengenalmu." Jawab Mitha yakin. "Baiklah, aku tidak ingin berbasa-basi, aku hanya ingin bilang, berhentilah mengganggu Queen!" Pinta Mitha tegas. Dan Prince akhirnya tahu jika gadis dihadapannya ini adalah teman Queen.
"Apa dia yang memintamu melakukan ini?"
"Bukan! Dia bahkan tidak tahu jika aku bertemu denganmu dan meminta hal ini." Sahut Mitha.
"Kenapa aku harus berhenti?"
"Karena dia tidak bersalah! Bukan dia yang mencuri informasi darimu. Kau salah sangka! Jadi aku mohon berhenti mengganggu dan menyakitinya!" Mitha berbicara dengan nada memohon.
"Bagaimana jika aku tidak bisa melakukan apa yang kau minta?"
Mitha benar-benar kesal mendengar pertanyaan Prince itu.
"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan terhadap Queen, aku hanya tahu sejak dia bertemu dengan mu, dia tidak pernah bahagia. Jadi jika kau memang lelaki sejati, maka lepaskanlah dia! Berhentilah mengganggu sahabatku, agar dia bisa bahagia. Aku memohon kepadamu, aku tak ingin melihat sahabatku menangis setiap saat karena mu."
Prince terkesiap mendengar kata-kata Mitha, seketika dia merasa bersalah karena membuat Queen menderita dan bersedih. Dan tepat disaat itu, ponsel Mitha berdering, ternyata ada telepon dari Queen. Mitha segera menjawabnya.
__ADS_1
"Hallo, Queen." Sapa Mitha.
"Mit, aku kecelakaan." Queen.
"Apa ...!!! Kecelakaan? Jadi bagaimana kondisimu sekarang? Kau ada dimana?" Tanya Mitha panik. Prince yang mendengar kabar itu juga ikutan panik dan cemas.
"Aku hanya terluka sedikit. Sekarang aku sedang di dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Restu Ibu." Queen.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Tunggu ya!" Mitha segera mengakhiri telepon dari Queen dan hendak pergi, tapi Prince menahannya.
"Apa yang terjadi dengan Queen?"
"Ini bukan urusanmu!" Jawab Mitha kesal dan bergegas pergi. Prince yang cemas mengikuti Mitha secara diam-diam.
***
Queen sudah ditangani dan mendapatkan pengobatan, dia sedang duduk manis di depan UGD Rumah Sakit Restu Ibu. Kaisar yang baru datang dan melihat Queen, segera berlari mendekati wanita itu.
"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja kan?" Kaisar memandang cemas calon istrinya itu.
"Aku minta maaf ya, karena aku, kau jadi celaka."
"Sudahlah. Ini sudah naas." Sahut Queen. "Oh iya, ada apa kau meneleponku tadi?"
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang, tapi sepertinya aku urungkan karena kau sedang terluka." Balas Kaisar.
"Iya, kepalaku masih pusing. Aku ingin istirahat. Lain kali saja ya?"
"Iya, tidak apa-apa kok. Yang terpenting kondisimu membaik." Jawab Kaisar sambil mengelus kepala Queen dengan penuh kasih sayang.
Disaat bersamaan, Mitha pun datang dan segera menghampiri mereka dengan wajah cemasnya.
"Queen, bagaiamana kondisimu? Apa kata dokter? Apa kau gegar otak?" Tanya Mitha. Dia heboh melihat kening Queen terluka.
"Tidak ada yang serius. Aku hanya terluka sedikit saja kok." Jawab Queen.
"Haaaa ... syukurlah. Aku nyaris berhenti bernafas karena terlalu mencemaskan mu." Ujar Mitha sembari menghela nafas lega.
__ADS_1
"Kau berlebihan." Ledek Queen sambil tersenyum.
"Iya, aku juga tadi panik sekali. Harusnya kau lebih berhati-hati, kau membuat semua orang cemas tahu!" Seloroh Kaisar sambil mencubit hidung Queen.
"Hey, semua ini juga karena kau! Kalau kau tidak meneleponku tadi, ini pasti tidak akan terjadi." Protes Queen dengan wajah yang cemberut.
"Hehehe ... iya ... iya ... maafkan aku." Kaisar terkekeh sambil mengusap pucuk kepala Queen lagi. Mitha hanya tersenyum melihat interaksi dua orang itu.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan mereka, Prince melihat semuanya dengan perasaan cemburu dan kesal, walaupun ada perasaan lega di hatinya karena melihat Queen baik-baik saja.
"Apa tidak sebaiknya kau opname saja?"
"Ah, tidak usah! Aku akan beristirahat di rumah saja." Tolak Queen.
"Kau belum tahu ya, Kai? Queen mana mau berlama-lama di rumah sakit, dari kecil dia takut dengan dokter." Ledek Mitha.
"Benarkah? Untung saja aku tidak menjadi dokter, kalau tidak kau pasti takut kepadaku." Kaisar membalas ledekan Mitha.
Mitha dan Kaisar tertawa karena melihat wajah cemberut Queen yang menggemaskan.
Triiinggg ...
Ponsel Mitha dan Queen berdering bersamaan, ada pesan dari grup sekolah mereka yang mengabarkan akan diadakan reuni SMA minggu depan. Kedua wanita itu serentak membaca pesannya.
"Kau akan datang?" Tanya Queen.
"Hmmm ... sepertinya akan seru. Baiklah aku akan datang. Kau juga ya?" Balas Mitha.
"Iya, pasti." Queen mengangguk.
"Wah, aku tidak diajak?" Seloroh Kaisar. Walaupun dia tidak tahu kedua wanita itu mau kemana.
"Tidak!!!" Jawab Queen dan Mitha kompak.
Kaisar sontak memasang wajah cemberut dan berpura-pura ngambek, seketika memancing tawa kedua wanita cantik itu. Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama-sama. Dari kejauhan Prince terus memperhatikan Queen, mendadak wajah rupawan nya berubah keruh dan muram.
***
__ADS_1