
Prince membaringkan Queen di atas ranjang dengan hati-hati, tapi kemudian wanita itu mengusirnya.
"Sudah, keluar sana!"
Prince terpaku memandangnya, dia bingung melihat sikap Queen yang kembali berubah dalam sekejap.
"Keluar! Aku mau istirahat!" sungut Queen sambil mendorong pinggang Prince.
"Iya-iya." Prince pun keluar dari kamar sambil menggaruk-garuk kepalanya, dia benar-benar bingung.
"Ada apa?" tanya Channa demi melihat wajah kebingungan Prince.
"Sebentar dia bersikap manja, sebentar lagi berubah ketus. Apa orang hamil semuanya seperti itu ya? Sering berubah-ubah." Prince beralih memandang Channa dan Chandara bergantian.
"Bisa jadi. Kadang hormon kehamilan bisa menyebabkan seseorang berkelakuan impulsif serta berubah-ubah sesuai moodnya. Bisa menangis dan tertawa sendiri karena hal-hal sepele, mereka juga lebih sensitif. Jadi Kakak harus sabar menghadapi Mbak Queen." ujar Chandara.
"Oh, begitu ya? Pantas sikapnya berubah-ubah begitu?"
"Tapi kalau menurutku, Mbak Queen bersikap manja seperti tadi karena dia ingin memanas-manasi Mutia. Mbak Queen cemburu sebab Mutia godain Kakak." bisik Chandara sembari terkekeh geli.
"Iya, Pa juga berpikir seperti itu." Channa juga ikut-ikutan membenarkan ucapan sang putri.
"Jelas-jelas dia sangat membenciku, mana mungkin dia cemburu." bantah Prince berusaha menyangkal pernyataan ayah dan anak itu.
"Ssstt ... tidak, Kak! Percaya deh sama aku, sebenarnya Mbak Queen itu cinta sama Kakak, tapi egois dan gengsi melarang dia mengakui perasaannya. Memang hubungan kalian dimulai karena satu kesalahan yang membuat dia membenci Kakak, tapi tanpa dia sadari, kebencian yang mendalam itu perlahan berubah menjadi cinta. Cinta dan benci itu bedanya tipis, Kak. Terkadang cinta itu memang sulit ditebak, dia bisa datang tanpa prediksi." ucap Chandara setengah berbisik.
__ADS_1
"Wah, anak Pa sudah semakin dewasa dan mengenal cinta dengan baik. Jangan-jangan kau sudah memiliki tambatan hati, ayo kenali ke Pa." ledek Channa.
"Pa, apaan sih?" Chandara tersipu-sipu.
Prince hanya terdiam, berusaha mencerna setiap kata-kata yang diucapkan gadis yang berprofesi sebagai bidan itu. Sungguh dia tak bisa mempercayai nya begitu saja, mengingat bagaimana sikap Queen kepadanya.
"Kalau Kakak tak percaya, kita akan buktikan." lanjut Chandara penuh semangat.
"Baiklah."
***
Kenedy sedang harap-harap cemas saat dua orang polisi menyambangi rumahnya siang ini, semalam dia telah melaporkan hilangnya Queen dan meminta pihak kepolisian merahasiakan kasus ini dari para pemburu berita Dia tak ingin publik tahu dan membuat rumor yang simpang siur.
"Dari keterangan Anda dan beberapa orang saksi, kami berhasil menemukan mobil putri Anda di pinggir hutan. Kira-kira berjarak lima ratus meter dari pabrik kayu lama. Dan disana kami juga menemukan satu mobil lagi, yang setelah kami cek plat nomor kendaraannya ternyata milik Prince Rainer Rathanaporn." ungkap polisi bernama Rudi itu.
"Apa? Mobil milik Prince?" Kenedy tersentak kaget, begitu juga dengan Sandra dan juga Kaisar yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Bagaimana bisa? Apa jangan-jangan dia yang menculik putri saya?"
"Belum bisa dipastikan, Pak. Kami masih terus menyelidiki kasus ini. Rencananya setelah ini kami akan menghubungi pihak Prince untuk mengumpulkan keterangan." sahut Rudi.
"Iya, Pak. Saya mohon bantuannya, tolong temukan putri saya." ucap Kenedy dengan tatapan memohon.
"Siap, Pak! Kami pasti berusaha semaksimal mungkin untuk mencari putri Anda sampai ketemu. Kalau begitu sekian dulu."
__ADS_1
"Iya, terima kasih banyak, Pak. Saya tunggu kabar selanjutnya."
Rudi menganggukkan kepalanya. "Permisi, selamat siang!"
"Selama siang." balas Kenedy, Sandra dan Kaisar bersamaan.
Selepas kepergian dua orang polisi itu, Sandra langsung mendekati suaminya dengan mata yang sembab dan basah. Semalaman wanita paruh baya itu terus saja menangis memikirkan putri semata wayangnya yang hilang entah kemana.
"Pa, bagaimana ini? Mama takut terjadi sesuatu kepada putri kita."
"Tenanglah, Ma." Kenedy menarik tubuh Sandra ke dalam pelukannya.
"Ternyata mereka benar-benar ingin perang rupanya. Aku akan buat perhitungan dengan bajingan bajingan itu." geram Kenedy dengan rahang yang mengeras. Pemilik Kingdom itu melepaskan pelukannya di tubuh sang istri lalu pergi dengan tergesa-gesa.
"Pa, mau ke mana?" teriak Sandra. Tapi Kenedy mengabaikannya.
"Aku susul Om dulu ya, Tante?"
"Iya, tolong temani suamiku. Aku takut dia bertindak ceroboh."
Kaisar menganggukkan kepalanya dan bergegas menyusul Kenedy.
"Om, tunggu! Aku ikut!" teriak Kaisar sembari berlari masuk ke dalam mobil Kenedy dan duduk tepat di samping lelaki itu.
***
__ADS_1