
Prince sudah dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya semakin membaik, bahkan sekarang dia sudah bisa duduk meski harus dibantu.
"Sudah selesai." ujar Chaiyya senang saat Prince mengabiskan suapan bubur terakhirnya. Dia kemudian mengambilkan segelas air putih untuk sang putra.
"Terima kasih, Bu."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang perawatan, Chaiyya menoleh dan berteriak mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk.
"Masuk!"
Pintu bercat putih itu terbuka, lalu Queen masuk bersama dengan Kaisar. Prince langsung menajamkan tatapannya dengan rahang yang mengeras.
"Mau apa kau kesini?" sergah Prince marah.
Kaisar tertunduk dan berucap pelan. "Aku ingin minta maaf."
Prince terkesiap mendengar permintaan maaf dari Kaisar itu, tapi dia tidak semudah itu percaya.
"Rencana apa lagi yang sedang kau susun?" tuduh Prince.
Kaisar mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk memandang Prince yang tak lain adalah Kakaknya. "Tidak ada. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas semua yang aku lakukan, saat itu aku benar-benar marah dan kecewa. Aku tak bisa mengontrol emosi ku."
"Prince, maafkan dia!" pinta Chaiyya lembut.
Prince hanya diam dengan tatapan matanya yang masih tajam, apalagi dia melihat Queen datang bersama Kaisar, itu membuat hatinya semakin panas.
"Prince, bukankah Ibu selalu mengajarkan kepadamu untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain?" Chaiyya mengingatkan.
__ADS_1
Prince menghembuskan nafas dan memalingkan wajahnya. "Iya, aku maafkan."
Senyum terkembang di bibir Kaisar, begitu pun yang lain.
"Terima kasih." ucap Kaisar lega.
"Kau mau terus di dekatnya? Tidak bisa kah kesini?" Prince menyindir Queen yang masih setia di samping Kaisar. Cemburu, jelas dia cemburu!
"Ada yang cemburu." bisik Queen ditelinga Kaisar dan segera bergegas mendekati Prince.
Pintu ruang perawatan Prince kembali terbuka, kini yang datang adalah Frans bersama Rossana dan Laura.
Prince mengernyit heran demi melihat semua orang itu kini berdiri di hadapannya.
"Ada apa ini?" Prince memandangi Chaiyya, Channa dan Queen bergantian untuk mencari jawaban.
"Ada hal yang harus kau ketahui." jawab Chaiyya.
Akhirnya Frans berinisiatif untuk membuka suara. Dia mengaku siapa dirinya tanpa basa-basi. "Prince, sebenarnya aku adalah ayahmu."
Prince tercengang dengan mata yang melotot, bagai ada petir yang menyambar. Dia tertawa kaku, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak mungkin! Omong kosong macam apa ini?"
"Dia benar, Prince. Om Frans adalah Ayah kandung mu." sela Queen membenarkan.
Prince sontak memandang Queen dengan alis yang tertaut dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Frans dengan rahang yang kembali mengeras.
__ADS_1
"Keluar dari sini!"
"Prince dengarkan dulu penje ...."
"Aku bilang keluar! Aaahkk ...." bentak Prince sambil memegang rusuknya yang sakit.
"Prince!" Queen dan Chaiyya panik.
"Prince, dengarkan dulu penjelasannya!" pinta Channa.
Prince spontan menatap tak percaya karena Pamannya itu membela Frans. "Paman membelanya? Bukankah kata Paman ingin menghabisinya? Kenapa sekarang Paman berubah?"
"Bukan seperti itu ...." Channa berusaha membela diri.
"Dan kau! Setelah kau menghancurkan hidup Ibuku dan membuatnya menderita selama bertahun-tahun, sekarang kau datang begitu saja tanpa rasa bersalah. Aku tak sudi menganggapmu sebagai ayahku!" Prince beralih menatap Frans dan melampiaskan kemarahannya.
"Prince! Jaga sikapmu!" bentak Chaiyya. "Bagaimanapun juga dia itu orang tua yang harus kau hargai!"
"Tapi, Bu ...."
"Biar, biarkan dia meluapkan amarahnya. Aku akan mendengarkan semua yang dia katakan bahkan makian sekalipun." sela Frans. Laura dan Rossana hanya terdiam sambil menyusut sudut mata yang basah.
"Bertahun-tahun aku melihat Ibuku sengsara, bahkan hampir setiap malam dia menangis sementara aku tak bisa berbuat apa-apa. Ibuku dicampakkan oleh keluarganya dan harus banting tulang untuk menghidupi ku seorang diri, dia dihina. Dan semua itu karena perbuatan mu!" Prince meluapkan semua rasa sakitnya, rasa sedihnya sambil meringis sakit. Semua orang hanya terdiam seolah bisa merasakan kesedihan itu.
"Ayah minta maaf ...." ucap Frans lirih.
"Ayah? Apa kau pantas dipanggil Ayah? Kau tak lebih dari seorang bajingan!" umpat Prince sinis.
__ADS_1
"Cukup, Prince!" bentak Laura, membuat Prince dan semua orang terdiam.
***