
Frans sudah duduk di sisi ranjang Kenedy, sedangkan Sandra hanya memperhatikan mereka dari sofa yang dia duduki. Sementara Queen sudah berlari ke ruangan Prince saat mengetahui lelaki itu telah sadar dari koma.
"Kau pasti sudah mendengar semuanya dari Queen?" tanya Frans dengan kepala yang tertunduk malu.
Kenedy yang duduk bersandar di atas ranjang menganggukkan kepala. "Iya, Queen sudah cerita semuanya. Aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini."
Frans menghembuskan nafas, kemudian mengangkat kepalanya. "Aku minta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Prince. Aku berjanji akan bertanggungjawab."
"Kenapa kau yang minta maaf?"
"Karena Prince itu putraku, sebagai seorang ayah, aku merasa bersalah. Sungguh, aku tak pernah mengira dia akan mengikuti jejak ku." sahut Frans sembari tertawa getir.
"Sudahlah! Yang penting kita tetap akan menjadi besan."
"Hahaha, iya. Kau benar, kita memang ditakdirkan untuk jadi besan."
"Aku juga minta maaf, karena sempat menuduh Prince yang menculik Queen. Aku bahkan memukulnya." ujar Kenedy.
"Kau memukulnya?"
"Hem. Dan sepertinya setelah ini aku akan memukulnya lagi, karena berani menghamili putriku." seloroh Kenedy.
"Iya, silakan. Tapi pelan-pelan saja, ya? Atau kau akan berhadapan denganku." balas Frans.
"Hahaha ...." Frans dan Kenedy akhirnya tergelak bersama. Sandra pun ikut tertawa melihat keakraban dua sahabat yang akan jadi besan itu.
__ADS_1
***
Setelah mendapat kabar dari Frans bahwa Prince telah sadar, Queen bergegas ke ruang ICU untuk bertemu lelaki yang dia cintai itu. Sebelum dia masuk, Chaiyya sudah memperingatkan untuk tidak mengatakan apapun tentang Frans, tunggu sampai Prince benar-benar pulih.
"Akhirnya kau bangun juga. Aku sangat takut saat kau koma." ucap Queen sembari menggenggam tangan Prince.
"Tapi sekarang aku sudah bangun."
"Banyak hal yang terjadi saat kau koma."
"Hal apa saja?" tanya Prince ingin tahu.
"Nanti kau juga akan tahu, tapi tunggu kau pulih dulu." jawab Queen.
"Kau mau buat aku penasaran, ya?"
"Tentu saja," sahut Prince.
Queen tersenyum sembari mengelus pipi pemuda yang sudah menggetarkan hatinya itu, "Aku rasa ibumu yang lebih berhak menceritakan semua ini, bukan aku."
"Memangnya ada apa, sih? Kau membuat aku semakin penasaran!"
Queen hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Prince.
Prince belum mengetahui apa yang telah terjadi, baik Chaiyya maupun Channa tak ada yang mau cerita. Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang lebih membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Oh iya, bagaimana perjodohan mu?"
"Batal."
"Kenapa?" Prince mengernyit heran.
"Karena sudah aku batalkan."
"Iya, tapi kenapa kau membatalkannya?"
"Karena yang akan aku nikahi itu bukan dia, melainkan kakaknya," jawab Queen ambigu, membuat Prince semakin bingung sekaligus tak terima.
"Apa maksudmu? Kau tetap akan menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana dengan aku dan anak kita?" Prince mulai emosi.
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi! Kita lihat saja nanti." sahut Queen tak acuh.
"Queen ...." Prince yang masih tak terima, memandang Queen dengan tajam.
"Kau baru sadar, dan masih lemah. Kita bahas ini lain waktu."
"Tapi kau membuatku tidak tenang."
"Kalau begitu lupakanlah! Agar kau bisa tenang." Queen beranjak dari sisi ranjang Prince dan berbalik hendak pergi, senyum jahil terukir di bibirnya.
"Kau mau ke mana?" Prince menghentikan langkah Queen.
__ADS_1
"Keluar sebentar." Queen melangkah meninggalkan Prince, karena dari balik kaca pembatas, dia melihat Mitha datang.
***