
Malam ini Prince, Channa, Chaiyya dan keluarga Mahaprana datang ke kediaman Ravindra untuk melamar Queen.
Kenedy menyambut mereka dengan ramah.
"Aku sungguh tak menduga, kau akan datang lagi untuk melamar putriku. Sepertinya kita memang benar-benar ditakdirkan untuk jadi besan." seloroh Kenedy.
"Skenario Tuhan memang sungguh luar biasa." jawab Frans.
"Pak." Prince menyambut tangan Kenedy dan menciumnya dengan takjim.
"Prince, maaf karena sudah salah paham kepadamu waktu itu."
Prince menggeleng. "Tidak apa-apa, Pak."
"Tapi kalau untuk pukulannya, itu aku anggap hadiah karena kau berani menyentuh putriku." lanjut Kenedy sambil mengulum senyum.
Prince meringis malu. "Saya minta maaf, Pak."
"Sudah ... sudah, ayo langsung saja ke ruang makan." Sandra mempersilahkan tamunya.
Dan tiba-tiba dua orang lelaki berbeda usia muncul di depan kediaman Ravindra, mereka adalah Steven dan Rafael.
"Apa kami terlambat?" tanya Steven cemas.
Kenedy dan semua orang sontak berbalik ke arah sumber suara.
"Mau apa kalian?" sergah Kenedy, dia tidak senang melihat kehadiran musuh bebuyutannya itu.
"Tentu saja menghadiri acara lamarannya Prince dan juga Queen, memangnya mau ngapain lagi?" jawab Steven ngeyel.
__ADS_1
"Siapa yang undang kalian?" tanya Kenedy.
"Aku dan Prince, Pa. Bagaimana pun juga mereka itu bagian dari hidup Prince, jadi mereka juga harus dilibatkan." sahut Queen.
"Tapi kau kan tahu kalau Papa ...."
"Sudahlah, Pa!" potong Queen cepat. "Itu hanya masa lalu. Mau sampai kapan kalian terus bermusuhan? Tidak malu dengan uban?"
Kenedy dan Steven termangu. Keduanya merasa tertampar dengan ucapan Queen.
"Ayolah, mulai sekarang kalian berdamai. Siapa tahu perusahaan kalian bisa menjalin kerjasama dan semakin sukses." ujar Frans.
"Itu ide yang bagus!" sahut Steven.
"Tidak. Aku tidak akan sudi menjalin kerjasama dengan orang licik sepertimu."
"Papa ...." Sandra memberikan tatapan peringatan.
***
Acara lamaran yang sederhana itu berjalan dengan lancar, raut bahagia jelas terpancar dari wajah Queen dan Prince.
"Jadi demi kebaikan semuanya, pernikahan akan kita gelar dua Minggu lagi." ujar Frans. Mereka tak mungkin menunda pernikahan lebih lama lagi karena perut Queen yang semakin membesar.
"Aku akan mengundang semua orang kampung, biar mereka tahu siapa Prince. Oh iya, aku juga akan mengundang teman lamaku dari desa sebelah. Dia pasti senang bisa kalau aku undang." ucap Channa antusias, membayangkan temannya yang sudah lama tidak bersua. Teman yang baik, meski kebanyakan orang menganggapnya menyebalkan.
"Iya, aku juga akan mengundang semua kolega bisnis ku." sahut Kenedy.
Disaat semua orang sedang sibuk membicarakan pernikahan Queen dan Prince. Rafael malah menggoda Mitha yang sedang duduk sendiri di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Hai, kau sedang apa?"
"Kau kan bisa lihat sendiri, ngapain tanya lagi?" balas Mitha tanpa menoleh kearah Rafael.
"Hehehe. Iya, ya. Aku kan bisa lihat, ngapain tanya ya?" Rafael cengengesan.
Suasana menjadi hening, Mitha sedang fokus dengan ponselnya sementara Rafael sedang mengatur detak jantungnya sambil komat Kamit baca doa.
"Hem, Mit. Aku mau bicara."
"Itu kan sudah bicara!"
"Hem, maksudnya bicara tentang masa depan kita." Rafael berbicara dengan hati-hati.
Mitha akhirnya menoleh kearah Rafael sembari mengernyit heran. "Maksudnya?"
Rafael menelan ludah sebelum bicara. "Aku sebenarnya menyukaimu. Kau mau tidak menikah denganku?"
Mitha ternganga mendengar pertanyaan Rafael itu, tapi sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha ...."
Rafael sontak cemberut, dia merasa malu sekaligus kesal melihat Mitha menertawakannya.
"Mit, aku serius! Kenapa ketawa sih?" sungut Rafael.
"Maaf. Habis kau lucu, masa nyatakan cinta langsung ngajak nikah sih? Pacaran dulu dong, biar kita bisa saling mengenal satu sama lain."
Tawa Rafael seketika mengembang. "Berarti kalau pacaran dulu, kau mau?"
Mitha mengangguk dengan mantap sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh, thanks God!" Rafael menadahkan kedua tangannya dan memandang ke atas dengan penuh syukur. Akhirnya perjuangannya selama ini mendekati si gadis tomboi itu tidak sia-sia, memang benar, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
***