Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 63.


__ADS_3

Hari menjelang sore, Prince dan Channa sedang mengobrol di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon mangga harum manis yang sangat rimbun, beberapa buah mangga sudah mulai menguning dan sebentar lagi sudah bisa dipanen.


Sedangkan Queen hanya memperhatikan mereka dari beranda belakang, sembari menikmati pemandangan sawah yang juga mulai menguning serta langit yang berwarna jingga pertanda sang Surya telah turun ke peraduan, burung-burung pun beterbangan kembali ke sarangnya.


Angin sepoi-sepoi berhembus dan menerbangkan rambutnya yang tergerai.


Indah. Satu kata itu yang ada di dalam hatinya, sebab ini kali pertama dia bisa berada di tempat sebagus ini.


"Hai, Tante Queen." suara Chandara tiba-tiba terdengar menyapanya. Queen sontak berbalik dan mendapati gadis mungil itu sedang berjalan kearahnya sambil menggendong seorang balita perempuan bertubuh gemuk dan berpipi chubby.


"Hai, lucu sekali." Queen tersenyum melihat bayi menggemaskan itu tertawa-tawa kepadanya. "Namanya siapa?" tanya Queen.


"Alissa, Tante cantik." jawab Chandara menirukan suara anak kecil. "Mbak mau gendong?"


"Tapi aku tidak pernah gendong balita." Queen sedikit ragu.


"Tidak apa-apa. Mbak duduk saja sambil memangku dia seperti ini" Chandara mendudukkan balita gembul itu di pangkuan Queen. "Pegang yang erat ya, Mbak!"


"Wah, kau memang sudah cocok jadi seorang Ibu." ledek Prince yang kini berjalan mendekati Queen.


Queen pura-pura tak mendengar ledekan Prince itu, dia sibuk menciumi pipi bulat Alissa.


"Anak siapa ini?" tanya Prince.

__ADS_1


"Anak tetangga sebelah, Kak. Kasihan, ayahnya meninggal saat dia masih di dalam kandungan. Sekarang dia hanya tinggal berdua dengan Ibunya." jawab Chandara dengan wajah yang dibuat sedih.


"Jadi Ibunya janda ya?" tanya Prince lagi.


"Iya, Kak. Masih muda sudah jadi janda."


"Cantik tidak?"


Queen sontak melirik sinis ke arah Prince saat mendengar pertanyaan lelaki itu.


"Cantik banget, Kak. Orangnya baik lagi. Pa saja kalau punya anak lelaki, ingin jadikan dia menantu. Iya kan, Pa?" Chandara berbicara dengan antusias kemudian beralih memandang Channa yang sedari tadi diam membisu.


Sementara Queen merasa tidak suka Chandara memuji-muji janda itu di depan Prince.


"Jadi penasaran sama orangnya." sahut Prince, membuat hati Queen memanas.


"Sudah ... sudah, ayo masuk. Sudah hampir magrib ini." Channa beranjak dari duduknya. "Nong, antar Alissa pulang, tak baik anak kecil berada di luar saat magrib." pinta Channa yang mulai berjalan meninggalkan mereka.


"Iya, Pa." sahut Chandara. "Ayo, Sayang." Chandara mengambil Alissa dari pangkuan Queen.


"Sini, biar aku aja yang antar." Prince merebut Alissa. Queen sontak menatap tajam kearah Prince.


"Ya sudah. Yuk, Mbak kita masuk."

__ADS_1


"Aku mau ikut!" lagi-lagi Queen berkelakuan impulsif, dia beranjak dari duduknya.


"Ke mana?" tanya Prince.


"Mengantar Alissa." jawab Queen jujur.


"Tidak usah! Kakimu kan sedang sakit, belum boleh banyak berjalan. Kau di rumah saja." larang Prince.


Queen menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa! Aku jenuh di rumah terus, ingin jalan-jalan."


"Tapi ini sudah hampir magrib. Aku sebentar saja kok."


"Ish ... pokoknya aku mau ikut!"


"Kenapa kau bersikeras mau ikut? Kau takut ya aku bertemu janda muda yang cantik itu? Kau cemburu kan?" tanya Prince dengan tatapan selidik sambil menahan senyum.


Queen tergagap, dia tak menyangka bahwa sikapnya membuat Prince berpikir demikian. "Eh, ti-tidak! Kau ini bicara apa? Siapa yang cemburu." bantah Queen dengan wajah yang memerah. Chandara mati-matian berusaha menahan tawa.


"Ya sudah, aku pergi. Kau jangan ikut!" Prince beringsut dan hendak melangkah, tapi Queen menahannya.


"Jangan!"


***

__ADS_1


__ADS_2