
Sementara itu di suatu tempat, Steven berulang kali mendengus kesal karena sang putra tidak juga kunjung datang, padahal dia sudah menunggu lama ditepi jalan.
Tak lama kemudian, mobil spot Hitam mewah menepi di dekat mobilnya.
"Dari mana saja kau? Kenapa lama sekali?" sergah Steven begitu melihat sang supir yang tak lain adalah Rafael keluar dari dalam mobil.
"Maaf, Pa. Tadi jalanan macet, ada penemuan mayat korban pembunuhan di tepi jalan seruni." jawab Rafael jujur.
"Orang sekarang memang gila, buang mayat kayak buang sampah. Sembarangan saja." sahut Steven kesal. "Ya sudah, sekarang cepat antar Papa ke rumah sakit! Papa sudah memanggil mobil derek, sebentar lagi mereka datang."
"Iya, Pa."
Ayah dan anak itu pun pergi meninggalkan mobil Alphard milik Steven yang sedang mogok di tepi jalan.
***
Frans dan keluarganya berjalan menuju parkiran rumah sakit, hari kian larut, suasana rumah sakit itu pun mulai sepi, hanya satu-satu orang lalu lalang.
"Aku tak menyangka semua akan seperti ini. Rencana pertunangan Kai berantakan dalam sekejap mata, padahal aku sudah sangat senang Kai memutuskan untuk memajukan pertunangannya." ujar Frans dengan raut kecewa.
"Sudahlah, Pa. Itu tandanya Kai dan Queen tidak berjodoh, mau bagaimana lagi?" sahut Rossana bijak.
__ADS_1
"Iya kau benar, Sayang. Padahal aku berharap bisa menjalin ikatan kekeluargaan dengan Kenedy. Tapi sudahlah!" Frans menghela nafas pasrah. "Kau yang sabar ya Kai?" Frans menepuk pundak sang putra yang berjalan disebelahnya.
Kaisar hanya memaksakan senyuman tanpa berniat menjawab sang ayah, dia memang sakit dan marah, tapi saat ini hatinya benar-benar puas karena merasa menang.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Jangan disesali lagi. Sekarang ada yang tak kalah penting dari semua ini, yaitu kalung yang dipakai Queen." sela Laura yang sedari tadi diam mendengarkan obrolan anak dan menantunya. Kaisar mengernyit heran mendengar ucapan sang nenek.
"Oh iya, aku sampai lupa gara-gara panik." Frans menepuk pelan dahinya. "Bagaimana, Ma? Apa Queen sudah mengatakan darimana dia mendapatkan kalung itu?" tanya Frans tak sabar.
"Dia hampir saja mengatakannya, tapi anakmu ini menggagalkannya." sungut Laura kesal sembari melirik Kaisar.
"Kenapa melirikku begitu?" gerutu Kaisar. "Memangnya kalung apa sih yang sedang dibicarakan? Kayaknya penting banget!"
"Aku tidak perhatikan!"
"Ish, kau ini!" kesal Laura. "Itu kalung yang dipakai Oma dan Nenek buyut mu saat pernikahan. Itu kalung turun temurun keluarga kita." lanjut Laura.
"Lalu kenapa bisa ada pada Queen?"
"Kalung itu hilang bertahun-tahun yang lalu dan sekarang ada yang memberikannya kepada Queen." sahut Frans.
"Siapa?"
__ADS_1
"Itulah yang tadi sedang Oma tanyakan ke Queen, kau malah membuat semuanya berantakan." Laura memandang sebal sang cucu.
"Mana aku tahu." Kaisar melengos.
"Ya sudah, besok kita ke rumah sakit dan tanyakan lagi kepada Queen. Sekalian jenguk Papanya." Rossana memberi usul.
"Iya, kau benar, Sayang." balas Frans. "Ya sudah, sekarang sebaiknya kita pulang."
Frans, Rossana dan Laura masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Kaisar. Mereka pun pergi dari pelataran parkir rumah sakit dengan mobil yang berbeda. Dan disaat yang bersamaan, Chaiyya dan Channa turun dari taksi yang mereka tumpangi. Keduanya buru-buru masuk ke dalam rumah sakit sambil berlari.
Di dalam mobilnya, Kaisar memasang earphone ditelinganya dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana? Semua sudah beres?" tanya Kaisar setelah seseorang di sana menjawab panggilannya.
"Sudah, Bos. Semua aman!"
"Baiklah. Aku akan memberikan bonus untuk kerja bagus kalian." Kaisar segera mengakhiri panggilannya tanpa menunggu orang diseberang sana membalas ucapannya.
"Beristirahatlah dengan tenang." ucap Kaisar dengan seringai khasnya.
***
__ADS_1