Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 78.


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Queen masih terus diam membisu, dia semakin risih sebab sedari tadi keluarga Mahaprana tak berhenti memandanginya, sementara Mitha sudah pamit undur diri karena masih ada urusan lain.


"Kai, ke mana sih? Sampai sekarang belum datang juga!" kesal Rossana karena sang putra tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Mungkin urusannya belum selesai, Ros. Sudah biarkan saja! Jangan diganggu!" sahut Sandra.


"Maklumlah anak muda sekarang, terlalu aktif. Kegiatannya ada saja." seloroh Kenedy.


"Iya, benar." balas Frans sembari memaksakan senyuman, tapi matanya tak bisa berhenti memandang kearah Queen.


"Heemm, maaf. Bisa aku bicara berdua dengan Queen?" tiba-tiba permintaan Laura mengagetkan semua orang, termasuk Queen.


"Tentu, tentu saja boleh." sahut Kenedy.


"Ibu ...." Frans menegur Laura dengan tatapan memohon, seolah dari matanya dia berkata -jangan sekarang!-


Tapi Laura tak memperdulikannya, dia berbalik memandang Queen dan mengajak nya. "Ayo, Sayang."


Kedua wanita berbeda generasi itu beranjak dari duduknya dan melangkah menjauh dari semua orang. Sejujurnya Sandra dan Kenedy sedikit bingung, mengapa Laura ingin bicara berdua dengan Queen? Terlebih lagi saat melihat wajah tegang Frans dan Rossana, membuat mereka curiga ada sesuatu yang tidak beres.


Laura dan Queen kembali ke ruang makan, mereka duduk berhadapan. Laura terus memandangi Queen dengan tatapan tak terbaca, sementara Queen terus menunduk menyembunyikan wajahnya. Dalam hati wanita itu, dia merasa cemas dan bertanya-tanya, mau apa wanita tua ini?


"Queen, kalung yang kau pakai sangat bagus. Dapat dari mana?" tanya Laura tanpa tedeng aling-aling.


Queen menelan ludah, mendadak dirinya gugup. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan dan dia hanya diam membisu.

__ADS_1


"Queen ... kenapa diam? Apa kau membelinya dari seseorang?" Laura kembali bertanya.


Pertanyaan kedua Laura itu memaksa Queen untuk bicara walau lidahnya terasa keluh. "Seseorang memberikannya, Oma."


"Siapa?"


Queen kembali gagu, jantungnya kini berdetak tak karuan. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya? Atau sebaiknya dia berbohong saja? Tapi dia harus mengatakan apa?


Melihat Queen kembali terdiam, Laura tak patah semangat, dia berusaha membujuk Queen agar mau bicara.


"Queen, Sayang. Katakan siapa yang memberikan kalung itu kepadamu?"


Queen kembali menelan ludah untuk yang ke sekian kalinya, jantungnya semakin berdegup tak karuan. Dia merasa serba salah sekarang. Jika dia jujur, Laura pasti akan bertanya siapa Prince? Tapi dia juga tak tega untuk berbohong. Queen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan berat.


"Dia ...."


"Kai, kau sudah datang?" Laura terkejut melihat Kaisar tiba-tiba muncul dari balik tembok. "Oma sedang ada perlu dengan Queen!"


"Kalau begitu sekarang gantian dong! Oma kembali ke ruang tamu saja!" desak Kaisar.


"Tapi, Kai. Oma belum selesai."


"Ayolah, Oma. Izinkan aku bicara berdua dengan calon tunangan ku." rengek Kaisar.


"Cckk. Iya, deh, iya!"

__ADS_1


Laura beranjak dan melangkah pergi meninggalkan Queen dan Kaisar dengan berat hati karena rasa penasarannya belum terjawab.


Selepas kepergian Laura, wajah Kaisar berubah sinis. Tanpa basa-basi, dia duduk di samping Queen yang masih tertunduk diam sembari meremas jari jemarinya untuk menahan rasa tegang dan gugup.


"Aku sudah tahu semuanya. Jadi itu alasannya kau menolak pertunangan kita?" ucap Kaisar dingin.


Queen sontak mengangkat kepalanya dan memandang bingung Kaisar. "A-apa maksudmu?"


"Aku bisa saja membatalkan pertunangan kita dan membeberkannya kepada semua orang, tapi aku tidak ingin melakukannya."


"Ka-kau ini bicara apa?" Queen semakin gugup dan gemetaran. Dia masih berusaha menutupi semuanya.


Kaisar mendekatkan mulutnya ke telinga Queen lalu berbisik dengan penuh penekanan. "Bilang ke semua orang bahwa kau ingin membatalkan pertunangan ini karena kau sedang hamil anak Prince!"


Mata Queen membulat mendengar ancaman Kaisar itu. "Da-dari mana kau tahu?"


"Tidak penting dari mana aku tahu! Kau lakukan saja apa yang aku suruh sebelum orang tua kita menyepakati pertunangan ini, karena aku tidak sudi menikah dengan wanita seperti mu dan mengurus anak orang lain." ucap Kaisar sinis.


"A-aku tidak bisa!"


Bagaimana bisa dia mengatakan semua itu dengan mudah?


"Lakukan atau selamanya kau tidak akan pernah melihat Prince lagi! Kau tahukan aku bisa melakukan apa saja?" ancam Kaisar sembari beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.


Air mata Queen jatuh tak tertahankan, dia tak menyangka Kaisar akan berubah menjadi sejahat itu. Queen pun menyusul Kaisar dengan langkah yang gontai dan tubuh gemetaran.

__ADS_1


***


__ADS_2