Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 6


__ADS_3

Steven sedang duduk di ruang rapat bersama Prince dan kolega bisnisnya, rapat akan segera dimulai, tapi Rafael yang tak lain adalah anak Steven belum juga datang.


"Kemana dia? Apa dia tidak tahu jika hari ini ada rapat?" Tanya Steven kesal. Sebagai seorang pemilik dan pemimpin perusahaan, dia malu mendapati sikap tak disiplin putranya itu.


"Pak Rafael sudah tahu kok, Pak." Sahut sekretaris Rafael.


"Maaf, aku terlambat." Rafael muncul dari balik pintu dan segera melangkah menuju meja rapat.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, rapat kita mulai." Ujar Steven. Dia tak ingin menunda rapat lagi dengan mengomeli putranya itu.


Steven memimpin rapat, mereka membahas tender yang akan mereka ikuti. Prince dan peserta rapat lainnya menyimak dengan seksama.


"Aku yakin kita akan memenangkan tender ini seperti yang sebelum-sebelumnya. Aku tidak akan memberikan kesempatan perusahaan manapun terutama Kingdom untuk merebut tender ini." Ucap Steven yakin. Dia akan melakukan apapun untuk mengalahkan perusahaan saingannya, apalagi jika menyangkut Kingdom yang tak lain adalah musuh bebuyutan nya.


"Seperti biasanya, aku akan mengutus Prince untuk tender ini." Lanjut Steven. Semua orang setuju kecuali Rafael, dia merasa geram melihat sang Papa selalu mempercayai bawahannya itu.


Sebagai seorang Chief Executive Officer alias CEO, Rafael kalah pamor dengan Prince yang hanya menjabat sebagai wakilnya atau Chief Operating Officer.


Rapat pun selesai, semua orang kembali ke ruangannya masing-masing. Tapi tidak dengan Rafael, lelaki itu mendatangi ruangan Steven untuk mengajukan protes.


"Pa, kenapa selalu saja Prince yang diutus untuk menangani tender besar, bisa tidak sekali saja Papa mempercayai aku untuk melakukannya?" Sergah Rafael dengan wajah kecewa.


"Hahaha ... mempercayaimu sama saja seperti menghancurkan perusahaan ini. Kau saja tidak disiplin dan punya rasa tanggungjawab, bagaimana Papa bisa mempercayai mu? Apalagi tender kali ini akan membutuhkan negosiasi, hal yang tidak bisa kau lakukan." Jawab Steven dengan nada meremehkan.

__ADS_1


"Tapi aku anak Papa! Aku berhak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuanku. Kalau begini sama saja seperti Papa meremehkan ku. Aku muak setiap kali mendengar orang-orang memuji Prince dan membandingkan aku dengannya. Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu jika Papa tidak membiarkan aku mencoba." Ucap Rafael penuh emosi.


"Sudahlah, kau masih perlu banyak belajar lagi. Papa hanya tak ingin mengambil resiko dan menjadikan tender ini sebagai ajang coba-coba mu. Kau kerjakan saja apa yang sesuai dengan kemampuan mu." Balas Steven tak acuh.


"Papa keterlaluan!" Rafael merajuk. Lelaki itu beranjak keluar dari ruangan Steven dengan membanting pintu.


Di depan ruangan Steven, Rafael bertemu dengan Prince yang kebetulan hendak ke menemui atasannya itu.


"Kau pasti merasa senang karena Papaku lebih mempercayai mu daripada aku, anaknya sendiri. Tapi kau harus ingat, aku pewaris perusahaan ini dan kau hanya pegawai. Jadi jangan merasa lebih hebat!" Ujar Rafael dengan tatapan yang tajam.


"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu! Kebetulan saja, kelemahan mu adalah tanggungjawab terbesarku. Itu tugas utama yang diberikan Pak Steven kepadaku. Jadi aku hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh atasanku dan sesuai kemampuanku. Dan semua ini juga untuk membantumu." Ucap Prince menohok dan berlalu dari hadapan Rafael.


"Sombong sekali kau!" Sahut Rafael geram.


***


"Kali ini kita tidak boleh kalah lagi dari Emperor. Dua tahun belakangan ini, sejak orang yang bernama Prince itu masuk ke Emperor, mereka selalu memenangkan semua tender." Ujar Kenedy.


"Iya, Pak. Setahu saya, orang yang bernama Prince itu sangat cerdas dan lihai dalam meng-handle tender perusahaan." Sahut seorang lelaki.


"Kita harus berhati-hati dengan orang itu. Perhatikan terus gerak-geriknya, aku yakin mereka pasti menggunakan cara yang tidak baik untuk menang. Maka dari itu, saya sendiri yang akan mengurus tender kali ini." Lanjut Kenedy.


"Baik, Pak!"

__ADS_1


Jovan merasa sedikit tersinggung, karena kali ini Kenedy sendiri yang turun tangan mengurus tender. Pemilik Kingdom itu tidak menyuruh Jovan seperti sebelumnya.


Queen yang menyadari hal itu hanya tersenyum sinis, ternyata belum lagi dia memulai rencananya, sang Papa sudah mulai tidak mempercayai Jovan.


Sementara Jovan hanya melirik Queen yang duduk disampingnya, dia mengira wanita itu sudah melakukan sesuatu yang membuat dirinya tidak dipercayai lagi oleh Kenedy.


Kau akan menyesal karena berani menabu genderang perang kepadaku.


Rapat pun selesai, Queen berjalan di samping Kenedy sambil bergelayut manja di lengan sang Papa.


Sedangkan Jovan berjalan di belakang mereka.


"Sayang, besok diadakan asosiasi wirausaha terbesar di kota ini, akan ada banyak pengusaha terkenal disana termasuk calon mertuamu. Papa ingin kau ikut, agar Papa bisa memperkenalkan mu dengan rekan-rekan bisnis Papa."


"Hmmm ... boleh juga tuh! Apalagi disana juga ada calon mertuaku, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Jawab Queen dengan suara yang agak keras agar Jovan mendengarnya.


"Baiklah, kau harus dandan yang cantik ya." Pinta Kenedy.


"Aku kan memang selalu cantik, Papa." Sahut Queen manja.


Jovan hanya diam, dia tak ingin merespon apapun. Sekali lagi dia merasa kesal karena Kenedy tak berniat mengajaknya juga ke acara besar itu.


***

__ADS_1


__ADS_2