
đź’ś. Cuplikan 8.
Dengan anggunnya Ratu melenggang masuk dalam balutan gaun merah nan seksi, menampilkan pundak dan sebagian dada seputih susu miliknya, begitu kontras dengan warna gaun yang dia kenakan, serta belahan yang memamerkan paha mulus nan menggoda iman. Dia terlihat begitu elegan.
Tubuhnya yang bak gitar Spanyol begitu memesona, kecantikannya bahkan bertambah dengan riasan wajah yang sedikit bold. Beberapa pria memandang takjub seolah lupa cara berkedip, sungguh pemandangan yang sangat menyegarkan mata.
“Itu Ratu dan ayahnya. Wah, dia cantik sekali.” Rossana heboh, membuat perhatian Kaisar teralih kan ke wanita itu.
Kaisar menelan ludah sebab terkesima melihat sosok Ratu yang menawan bak bidadari turun dari khayangan. Wajah cantik, lekuk tubuh yang indah dan kulit putih mulus, sungguh merupakan kesempurnaan yang hakiki.
“Dia kenapa bisa secantik itu?” batin Kaisar dengan mata yang masih memandang takjub pada makhluk indah ciptaan Tuhan yang kini berdiri di hadapannya. Menikmati tiap inci dari tubuh seksi calon istrinya itu.
“Maaf, kami terlambat. Tadi agak macet,” ujar Erwin.
“Tidak apa-apa, acaranya juga belum dimulai,” sahut Frans.
“Kamu cantik banget, sayang. Gaunnya cocok sekali untukmu,” puji Rossana.
Ratu tersipu-sipu, “Terima kasih, Tante.”
“Ehem, kayaknya ada yang terhipnotis ini,” ledek Laura sebab melihat Kaisar memandangi Ratu tanpa berkedip.
“Kai, Ratu cantik, ya?” Rossana menyentuh pundak Kaisar, membuat putranya itu tersentak kaget.
“Hem, iya. Cantik, Ma!” jawab Kaisar tanpa sadar.
__ADS_1
Semua orang tersenyum geli dan Kaisar jadi malu sendiri.
“Kau ini, pantang lihat barang bagus!” seloroh Prince yang entah sejak kapan sudah berada di samping Kaisar, dia seperti amuba yang bisa membelah diri, sehingga ada dimana-mana.
Kaisar sontak menatap Prince dengan kening berkerut, “Sejak kapan kau ada di sini?”
“Sejak calon ipar ku datang dan aku akan membawanya berkenalan dengan Queenara,” sahut Prince, lalu beralih memandang Ratu, “yuk, Ratu! Aku kenalkan dengan istriku.”
“Iya, Kak.” Ratu tersenyum dan menyambut permintaan Prince. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat di mana Queenara sedang menggendong bayinya.
Kaisar hanya memandangi punggung seputih susu milik Ratu yang bergerak menjauhinya, lenggokkan pinggul Ratu benar-benar membuat Kaisar tak bisa menahan gejolak di dalam dirinya sehingga membangkitkan gairah yang sedang tidur.
Tapi indera penglihatan Kaisar menangkap sesuatu yang tak mengenakkan, beberapa pria memandangi tubuh seksi Ratu dengan tatapan mesum. Entah mengapa Kaisar merasa tidak suka mereka menatapnya begitu, dia pun mengambil segelas minuman yang terhidang di meja lalu berjalan mendekati sang calon istri.
“Maaf-maaf, aku tidak sengaja,” ujar Kaisar dengan wajah tanpa dosa.
Ratu tercengang melihat dada dan bagian depan gaunnya basah, begitu juga dengan semua orang yang melihat ulah Kaisar itu.
Prince mengembuskan napas sambil geleng-geleng kepala, dia paham niat sang adik.
“Kau pasti sengaja!” tuduh Ratu dengan mata yang melotot.
“Hei, aku sudah katakan kalau aku tidak sengaja, aku juga sudah minta maaf! Tapi kenapa kau masih menuduhku sembarangan?” sahut Kaisar.
“Jangan berpura-pura, aku tahu akal bulus mu itu!” geram Ratu.
__ADS_1
“Ada apa?” Rossana menghampiri anak dan calon menantunya itu.
Untung saja Erwin dan Frans sedang berbincang dengan beberapa tamu bisnis, sehingga mereka tidak mengetahui kejadian ini.
“Aku tidak sengaja menumpahkan minuman ke dia, Ma. Aku sudah minta maaf, kok, tapi dia masih saja marah-marah,” keluh Kaisar.
“Cckk, kau ini! Lihat! Ratu jadi basah!” kesal Rossana.
“Dia kan bisa meminjam baju kakak ipar dan menggantinya,” balas Kaisar enteng, lalu beralih meminta persetujuan dari Queen, “bolehkan, kakak ipar?”
Queen mengangguk sambil tersenyum, “Iya, tentu saja boleh.”
“Ya sudah Ratu, kamu ganti baju saja, ya? Nanti kamu masuk angin kalau gaun mu basah begini. Queen banyak kok gaun-gaun bagus dan pasti cocok kamu pakai,” bujuk Rossana.
Ratu mengembuskan napas pasrah, “Ya sudah, deh, Tan.”
“Titip anak kita, ya, sayang,” Queen menyerahkan bayinya ke dalam gendongan Prince. Lalu mengajak Ratu ke kamarnya.
Ratu dan Queen pun berlalu dari tempat acara, berjalan beriringan menuju kamar tidur utama.
Prince mendekati Kaisar lalu bergumam pelan, “Good job, boy.”
“Apaan, sih?” Kaisar melengos dan berlalu pergi dengan wajah merah menahan malu, sebab sang kakak ternyata tahu tujuannya menumpahkan minuman itu ke gaun Ratu.
****
__ADS_1