Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 34


__ADS_3

Prince sedang duduk di bar sambil memegangi gelas berisi wine, dia masih memikirkan kejadian kemarin saat Queen bersama Jovan, dia bahkan tak menghiraukan wanita-wanita penghibur yang terus berusaha menggodanya.


James yang melihatnya sontak menggoda sahabatnya itu.


"Sepertinya kau sudah bertobat ya? Aku perhatikan sudah sebulan ini kau tidak menyentuh wanita-wanita itu."Ledek James. Memang sejak pergulatan panasnya dengan Queen, Prince hanya fokus kepada wanita itu. Dia tak bernafsu melihat wanita manapun.


"Aku tidak berselera." Jawab Prince ketus.


"Kenapa? Apa nafsumu sudah hilang?"


"Aku masih memikirkannya. Dia sudah mempermainkanku dan juga membohongiku, tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya?" Oceh Prince dengan wajah yang sendu. Inilah alasan yang membuatnya selalu mendekati Queen, walaupun caranya salah dan selalu membuat wanita itu terluka.


"Jadi kau masih memikirkan wanita yang bernama Queen itu?" Tanya James.


"Aku berusaha memandangnya secara optimis, tapi aku benar-benar tak tahu apa yang dia inginkan. Dia menangis dan memohon kepadaku untuk mengakhiri segalanya, tapi lihatlah apa yang dia lakukan padaku! Dia membuatku merasa bahwa dia hanya wanita yang suka bersenang-senang, membuatku semakin terhasut dan bersikap buruk di hadapannya." Sahut Prince.


"Menurutku, sebesar apapun kebencian mu kepadanya dan seburuk apapun pikiranmu terhadapnya tapi kau tetap tidak bisa melupakannya, itu berarti kau benar-benar jatuh cinta kepada musuh mu. Selamat ya!" Seloroh James serius sembari menepuk-nepuk pundak Prince.


Prince tak membalas ucapan James, dia hanya diam bergeming, mencoba mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


Prince pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya, dan benar-benar tidak berselera berada di bar lagi. Sungguh berbeda dengan Prince sebulan yang lalu.


***


Prince sedang duduk di balkon kamarnya, dia termenung sambil memandangi langit malam. Lelaki tampan itu masih memikirkan ucapan James tadi. Prince juga merasa sedih, karena mengingat sikap Queen, sepertinya wanita itu sangat membencinya.


Tanpa sadar air matanya jatuh menetes saat membayangkan betapa rumit semesta mempermainkannya, dia mendadak rapuh dan cengeng hari ini.

__ADS_1


Saking asyiknya melamun, Prince sampai tak menyadari kehadiran Chaiyya yang sudah berdiri disampingnya.


"Prince ...!" Suara lembut Chaiyya tiba-tiba membuyarkan lamunan Prince. Dia terkejut mengetahui jika sang Ibu sudah berada didekatnya dan segera menghapus air matanya sebelum sang ibu menyadari.


"Hmmm .... Ibu? Kapan Ibu datang? Aku sampai kaget!" Prince memaksakan senyuman dibibir nya.


"Sepertinya kau terlalu asyik melamun, sampai tidak menyadari kedatangan Ibu. Memangnya lagi memikirkan apa sih?"


"Ah ... tidak ada, Bu. Ini hanya soal kerjaan, aku sedang memikirkan proyek yang sedang aku tangani." Jawab Prince bohong.


"Memangnya ada masalah dengan pekerjaanmu?" Tanya Chaiyya cemas.


"Tidak, Bu. Tidak ada kok. Ibu tenang saja." Sahut Prince dengan memaksakan senyuman agar Chaiyya tidak khawatir.


"Oh, syukurlah." Chaiyya merasa lega.


"Bu, apa Ibu percaya dengan cinta pada pandangan pertama?" Tanya Prince.


"Lalu bagaimana dengan cinta sejati? Apa itu benar-benar ada?" Tanya Prince lagi.


Chaiyya sedikit bingung dengan pertanyaan Prince, tidak pernah putranya itu bertanya hal semacam ini. Dia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi dengan putra kesayangannya itu.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu di dalam hatimu? Kau jatuh cinta?" Chaiyya memandang lekat wajah Prince.


"Hmmm ... aku bertemu dengan seorang wanita. Kupikir aku mencintainya, walaupun aku tahu dia tidak pernah mencintaiku sebelumnya, bahkan saat ini aku juga tahu jika dia sangat membenciku. Tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya?" Ucap Prince lirih. Dia merasakan sakit di dalam dadanya.


"Prince, anakku. Cinta itu banyak jenisnya, ada cinta tapi tidak bisa memiliki, ada juga yang bisa memiliki tapi tidak benar-benar saling cinta dan sebagainya. Tapi jika kita melihat dunia dengan pandangan optimis, ibu rasa wanita itu pasti punya alasan kenapa dia membencimu."

__ADS_1


Prince sontak canggung, dia teringat dengan apa yang sudah dia lakukan kepada Queen. Merenggut kesucian seorang wanita yang dalam keadaan mabuk, sama saja seperti memperkosanya. Queen pasti sangat terluka karena perbuatan bejatnya itu.


"Hmmm .... Bu, apa Ibu membenci lelaki yang membuat aku hadir ke dunia ini?" Hati-hati Prince bertanya, dia takut menyinggung perasaan sang Ibu.


Chaiyya terkesiap mendengar pertanyaan putranya itu, sejak dulu dia selalu menghindar jika Prince bertanya tentang lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya, sehingga dia harus dicampakkan dari keluarganya sendiri. Tapi kali ini Chaiyya tak akan menghindar lagi, biar bagaimanapun, Prince harus tahu semuanya.


"Dulu awalnya Ibu sangat membencinya, bahkan saat itu rasanya Ibu ingin sekali mengutuknya. Tapi sejak kau hadir, perasaan benci itu lama-lama memudar. Ibu tak ingin terus-terusan membenci orang yang membuat Ibu memiliki harta se-berharga dirimu, Nak. Kehadiranmu di dalam hidup Ibu, membuat Ibu mengerti jika Tuhan mempercayai Ibu untuk menjadi orangtua dari anak sebaik dirimu, maka Ibu harus kuat dan berjuang demi kebahagiaanmu. Ibu tidak ingin terpuruk di dalam kebencian." Ungkap Chaiyya. Cairan bening sudah menggenangi matanya.


"Apa Ibu mencintainya?"


Chaiyya terdiam. Kali ini dia tak bisa menahan laju air matanya lagi, saat teringat kisah pilu hidupnya.


"Tidak ada cinta diantara kami. Semua hanya kesalahan satu malam, atau lebih tepatnya kesalahan Ibu yang tidak bisa menjaga diri." Chaiyya terisak-isak.


Prince merasa semakin canggung dan bersalah, terlebih saat melihat sang Ibu menangis dengan begitu sedih.


Apa dia juga terluka seperti Ibu? Apa dia juga menangis seperti Ibu?


"Bu, maafkan aku karena sudah bertanya seperti itu dan membuat Ibu sedih." Prince memegang tangan Chaiyya dan memandang wanita yang telah melahirkannya itu dengan tatapan memohon.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kau memang berhak tahu semuanya. Bagaimana pun juga, dia tetap Ayahmu." Chaiyya menghapus jejak-jejak air matanya.


"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan menganggapnya sebagai Ayahku. Dia tidak pantas disebut sebagai seorang Ayah." Tolak Prince kesal.


"Prince, darah lebih kental daripada air. Sampai kapanpun kau tidak bisa memungkiri bahwa kau darah dagingnya."


"Tidak, Bu. Aku tetap tidak sudi." Bantah Prince. Dia benar-benar membenci lelaki yang seharusnya dia panggil Ayah itu karena telah meninggalkan dirinya dan sang Ibu tanpa tanggungjawab. Bahkan Prince tak pernah tahu bagaimana sosok lelaki itu.

__ADS_1


Chaiyya hanya diam, dia tak ingin membantah sang putra lagi. Dia tahu putranya pasti sangat membenci orang yang telah menghancurkan hidupnya itu.


***


__ADS_2