
Setelah mendapatkan informasi dari Rafael, malam itu juga Mitha langsung tancap gas menuju rumah sakit. Sebagai sahabat, dia tidak mungkin membiarkan Queen disaat seperti ini.
Queen langsung berhambur memeluk Mitha saat melihat wanita tomboi itu datang, dia kembali menangis tersedu-sedu.
"Kau yang sabar ya, Queen. Aku tahu ini pasti berat, tapi kau harus kuat demi anakmu." ucap Mitha sembari mengusap pundak belakang Queen.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku takut! Bagaimana kalau Prince ...."
"Ssstt, jangan bicara macam-macam! Prince pasti sembuh! Kalian pasti bisa bersatu." sela Mitha. Queen hanya mengangguk.
"Katanya ini juga perbuatan Jovan, ya?" tanya Mitha kemudian.
"Kemungkinan besar begitu. Tapi aku mencurigai orang lain." jawab Queen.
Mitha yang terkejut dengan ucapan Queen, sontak menjauhkan tubuh sahabatnya itu. "Maksudmu ada orang lain selain Jovan?"
Queen kembali menganggukkan kepala.
"Siapa?"
__ADS_1
"Kaisar." sahut Queen.
Matanya Mitha langsung melotot tak percaya. "Kaisar? Tapi kenapa kau bisa mencurigainya?"
Queen pun menceritakan apa yang terjadi di rumahnya tadi sehingga sang Papa harus berakhir di rumah sakit. Mitha sampai tercengang, tak percaya jika Kaisar akan bersikap seperti itu.
"Kau yakin Kai pelakunya?" tanya Mitha memastikan.
"Hem. Karena di sini yang tahu aku hamil hanya Prince, kau dan Paman Channa. Lalu dari mana Kai tahu? Kai bisa melakukan apa saja? Bahkan dia pernah mengirim orang untuk mencari tahu tentang Jovan, aku yakin kali ini juga begitu."
"Ok. Kalau Kai mencari tahu tentang Prince, aku bisa terima. Tapi bagaimana dengan kabar kehamilan mu? Bukankah tadi kau bilang yang tahu hanya Prince, pamannya dan aku." Mitha mengerutkan keningnya, mencoba mencerna semua ucapan Queen.
"Dari Prince." jawab Queen.
"Bukankah Prince di culik dari rumah dan akhirnya ditemukan sudah babak belur, aku yakin ini semua perbuatan Kai. Dan pasti Prince sengaja mengatakan aku hamil untuk membuat Kai menyerah, tapi sepertinya itu justru membuat Kai semakin marah. Aku bisa merasakan kemarahannya saat mengancam ku tadi." lanjut Queen.
"Wah, bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku hanya menebak saja!" balas Queen.
__ADS_1
"Apa kau akan melaporkannya ke polisi?" tanya Mitha.
"Aku tidak punya bukti. Tapi aku akan buktikan semua kecurigaan ku itu."
"Aku selalu mendukungmu."
***
Sudah seminggu ini Jovan dan Elsa tidak berhubungan, wanita seksi itu sama sekali tidak bisa dihubungi, sementara saat ini, Jovan sangat membutuhkan bantuannya. Bagaimana tidak, selama seminggu lebih hidup bersembunyi di sebuah hotel tanpa ada uang masuk sedikitpun, jelas membuat dompet Jovan kosong. Dan hari ini dia terpaksa harus cek out karena tak ada uang sepeser pun untuk membayar sewa hotel, bahkan dia mulai bingung harus membeli makan pakai apa?
Jovan melaju dengan hati-hati, dia memakai topi dan masker untuk menyamarkan penampilannya, sebab dia tahu saat ini polisi sedang mencarinya. Karena terakhir kali Elsa menghubunginya hanya untuk mengatakan bahwa dia menjadi buronan polisi karena Queen sudah kembali dan memberikan kesaksian. Entahlah dari mana Elsa mendapatkan kabar itu, karena sebelum dia sempat bertanya, kekasihnya itu sudah lebih dulu menutup telepon dan sampai sekarang tak bisa dihubungi lagi.
"Aku harus kemana? Kalau aku pulang ke rumah, polisi akan tahu dan meringkus ku." Jovan berbicara sendiri.
Dia terus melaju tanpa arah, perutnya mulai lapar karena belum diisi sejak pagi, padahal sekarang sudah saatnya makan malam. Tiba-tiba mobil yang dia kendarai berhenti mendadak di depan sebuah apartemen mewah. Mobil sport miliknya yang dia tukar plat nomor kendaraannya itu ternyata kehabisan bahan bakar, dan sialnya lagi Jovan tak punya uang untuk mengisi bahan bakar.
"Cckk, sial ... sial ...!!!" umpat Jovan sambil memukul setir mobilnya.
Tapi tiba-tiba sebuah pemandangan menarik perhatiannya. Jovan menyipitkan matanya untuk memastikan seseorang yang baru saja turun dari mobil mewah bergelayut manja di lengan seorang pria paruh baya bertubuh gemuk lalu berjalan masuk ke dalam apartemen itu.
__ADS_1
"Elsa ...?" mendadak hati Jovan merasa panas dan geram. Tanpa pikir panjang, dia turun dari mobil dan berjalan mengikuti orang yang tak lain adalah Elsa, sang kekasih.
***