
Queen juga mengusap air matanya dan menyusut hidungnya, dia tak mengerti kenapa bisa begitu terharu mendengar kisah yang bahkan dia tak mengerti sepenuhnya.
Perutnya kini terasa sangat lapar, dia mencoba untuk bangkit dari pembaringan dan berharap bisa menemukan makanan. Tapi ternyata Prince melihatnya dan buru-buru berjalan mendekati dirinya dengan langkah yang lebar.
"Kau mau kemana?" tanya Prince cemas.
"Apa masih sakit? Kenapa kau seperti habis menangis?" tanya Prince lagi demi melihat mata dan hidung Queen memerah serta basah.
"Aku lapar." jawab Queen singkat.
"Ya, ampun kau lapar sampai menangis begitu. Baiklah, aku akan mengambilkan makanan untuk mu. Kau tunggu disini saja."
"Biar aku saja yang ambilkan." sela Chandara yang langsung beranjak dan melangkah ke dapur.
Tak berapa lama, wanita bertubuh mungil itu kembali dengan sepiring nasi putih lengkap dengan Tom Yam dan ikan goreng, serta segelas air putih. Prince segera meraih piring yang dibawa Chandara itu, dan meletakkan gelas dimeja samping ranjang.
"Terima kasih ya, Chandara."
Prince segera meraih piring yang dibawa oleh Chandara itu, dan meletakkan gelas dimeja samping ranjang. Chandara hanya membalasnya dengan senyuman dan bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Biar aku suap." ujar Prince.
__ADS_1
"Tidak usah! Aku bisa makan sendiri." tolak Queen.
"Tidak apa. Biar aku saja."
"Ish ... aku saja!"
"Ayo, aaakk ...." Prince tetap memaksa, dia menyodorkan sesendok nasi dengan potongan ikan ke depan mulut Queen dan meminta wanita itu membuka mulutnya.
Mau tak mau Queen membuka mulutnya, dan memakan nasi yang di suap oleh Prince karena dia benar-benar lapar saat ini. Sungguh dia sedang tak ingin berdebat dengan ayah dari anak yang dia kandung.
Dan kali ini dia tak merasakan mual sama sekali seperti saat mencium bau omelette dan melihat susu tadi pagi.
"Yeee, sudah habis! Anak pintar!" Prince bersorak kegirangan sambil mengusap pucuk kepala Queen, aksinya itu membuat Queen terkesiap, entah mengapa ada sengatan aneh yang menjalar di sekujur tubuh wanita itu. Sementara Prince sudah beralih meraih gelas di sampingnya.
"Nih minum." Prince menyodorkan gelas yang berisi air putih ke hadapan Queen dan wanita itu segera menenggaknya sampai tandas.
"Habis jalan-jalan di gurun ya, Neng. Haus benar!" ledek Prince sembari meletakkan gelas dan piring yang kosong di atas meja. Tapi Queen tak menggubris candaannya.
"Sebaiknya kau cari cara agar bisa secepatnya pergi dari kampung ini, aku ingin pulang. Dan setelah itu urusan kita selesai. Aku tak ingin berurusan dengan mu lagi." ucap Queen tanpa basa-basi, membuat Prince seketika menatap tajam kearah Queen.
"Lalu bagaimana dengan anak itu?"
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, aku akan melenyapkan anak ini sebelum keluargaku dan semua orang tahu." Queen berbicara dengan nada yang santai.
"Kau tidak bisa melakukan itu! Aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya." geram Prince dengan rahang yang mengeras.
"Kenapa tidak bisa?" Queen menautkan kedua alisnya. "Ini anakku, aku bebas melakukan apapun terhadapnya."
"Tapi dia juga anakku! Aku berhak melarang mu menyakitinya!" bentak Prince, dia benar-benar naik darah mendengar ucapan Queen itu. Channa dan Chandara terkejut mendengar suara Prince, keduanya hanya diam tanpa berniat ikut campur.
"Hee ... jangan membentak ku!" balas Queen dengan sorot mata marah.
Prince menghembuskan nafas dan melembutkan ucapannya. "Queen, aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus semuanya! Atau paling tidak izinkan anak itu lahir ke dunia ini, aku akan merawatnya jika kau tidak mau."
"Tidak! Pokoknya keputusanku sudah bulat. Setelah aku pergi dari sini, aku harap kita tidak bertemu lagi. Kalau kau ingin imbalan karena telah menyelamatkanku, katakan saja, aku akan memberikannya sebagai tanda terimakasih." jawab Queen angkuh.
"Kau benar-benar akan memberikannya jika aku meminta sesuatu sebagai tanda terima kasih?"
"Hem ... tentu saja!"
"Baiklah. Aku ingin anak itu! Anggap saja sebagai tanda terimakasih darimu." sahut Prince tanpa tedeng aling-aling.
***
__ADS_1