Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 72.


__ADS_3

Channa dan Chaiyya sedang mengobrol di ruang makan sambil menikmati secangkir kopi, seakan tak ada habisnya cerita yang ingin mereka sampaikan.


"Dari mana kau tahu jika kedua orang tua kita sudah meninggal?" tanya Channa penasaran.


"Sebenarnya setahun setelah kejadian itu, aku kembali ke kampung kita." jawab Chaiyya.


"Oh iya, lantas kenapa kau tidak pulang ke rumah?"


"Karena aku merasa tak pantas untuk pulang." sahut Chaiyya dengan tatapan mata yang menerawang jauh kembali ke bertahun-tahun yang lalu.


**


Chaiyya berjalan dengan kepala tertunduk sambil menggendong Prince yang baru lahir, setelah berbulan-bulan mencoba bersembunyi, hari ini dia beranikan diri untuk kembali ke kampung tempat dimana keluarganya berada.


"Eh, bukannya dia Chaiyya, ya?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang mengobrol dengan beberapa wanita lain.


"Kayaknya iya, deh!" sahut wanita lainnya.


"Wah, masih berani kembali ke kampung ini? Dasar anak pembawa sial!" hardik seorang wanita lagi.

__ADS_1


"Iya, gara-gara kelakuan menjijikkannya, Ayah dan Ibunya sampai meninggal dunia karena malu menanggung aib."


Saat itu jantung Chaiyya seakan berhenti berdetak, lututnya lemas. Rasanya bagai disambar petir mendengar kabar duka itu, air matanya pun jatuh menetes tanpa bisa dia cegah.


"Sebaiknya kau pergi dari sini! Jangan kembali lagi!" teriak wanita yang pertama.


"Iya, kami tidak ingin kampung ini menjadi sial gara-gara kehadiranmu dan anak haram itu!"


Chaiyya benar-benar tak sanggup lagi mendengar semua hujatan dan hinaan itu, hatinya sakit bukan main, terlebih saat wanita-wanita bermulut kurang ajar itu mengatai putranya sebagai anak haram. Saat itu ingin rasanya dia melawan, tapi sungguh dia tak mampu lagi untuk berucap. Ditatapnya wajah Prince yang sedang tertidur pulas di dalam gendongannya, anak tak berdosa yang harus ikut menerima hinaan karena perbuatannya.


Tanpa pikir panjang, Chaiyya langsung berbalik dan pergi meninggalkan kampung itu. Dia tak sanggup melangkahkan kakinya kembali ke rumah orang tuanya, dia merasa bersalah.


"Selamat tinggal. Maafkan aku." ucap Chaiyya lirih dengan mata yang menganak sungai.


**


"Dasar wanita-wanita bermulut besar!" geram Channa setelah mendengar cerita sang adik.


Chaiyya menghembuskan nafas panjang, mencoba menenangkan diri. "Mereka tidak salah. Itulah resiko yang harus aku terima dari perbuatan ku, mendapat penghinaan. Tapi aku tidak pernah berniat untuk menyia-nyiakan Prince, aku bertekad untuk menjadikannya lelaki yang hebat saat dia dewasa, agar suatu saat jika dia bertemu dengan Ayahnya, lelaki itu tidak merendahkannya. Karena aku yakin, Ayah Prince bukan orang sembarangan."

__ADS_1


Channa mendengus kesal, dia sungguh tak terima lelaki yang telah menghamili sang adik hidup dengan tenang.


"Apa kau sama sekali tidak mengenalinya?"


Chaiyya menggelengkan kepala. "Tidak. Aku bahkan tidak tahu, bagaimana aku bisa berada di ranjang yang sama dengannya. Malam itu yang aku ingat hanya sampai kepalaku pusing karena teman-teman ku memaksaku meminum minuman keras di sebuah bar. Selebihnya aku tidak ingat apa-apa lagi."


"Bagaimana kau bisa ikut bersama teman-temanmu itu ke bar?" Channa menautkan kedua alisnya.


"Saat itu Mira berulang tahun, dan dia merayakannya di sebuah Club malam bersama teman-temanku yang lain. Awalnya aku tidak ingin ikut, tapi Mira memaksa terus. Karena tidak enak, aku akhirnya terpaksa ikut."


Channa terkesiap mendengar ucapan sang adik, dia tak menyangka Mira yang merupakan sahabat Chaiyya dari kampung memiliki pergaulan yang tidak baik. Dia menyesal mengizinkan Chaiyya untuk tinggal bersama Mira yang ternyata tak se-polos yang dia pikirkan.


"Lalu kenapa kau pergi dari rumah Mira? Tiga hari setelah kepergian mu, aku mencari mu kerumahnya. Tapi kata Mira kau pergi begitu saja, saat itu kau kemana?"


Chaiyya tertawa getir. "Setelah kejadian di hotel itu, aku pulang ke rumah Mira, tapi kedua orang tuanya malah mengusir ku. Mereka mengatakan tidak ingin anaknya ketularan bejat seperti aku, makanya aku pergi dan dengan sisa uang sakuku, aku nge-kost sambil bekerja serabutan. Tapi sebulan kemudian saat aku tahu bahwa aku hamil, aku memutuskan untuk pulang ke kampung. Tapi aku justru diusir dan mau tak mau kembali ke sini lagi, hingga aku bertemu seorang wanita tua yang menawarkan pekerjaan menjadi pembantu di rumahnya. Dia dan keluarganya sangat baik kepadaku dan juga Prince, bahkan saat wanita itu meninggal, anaknya tetap memperkerjakan aku dan menyekolahkan Prince. Makanya sekarang Prince bisa mendapatkan jabatan tinggi di perusahaannya."


"Berarti Mira dan keluarga nya membohongiku? Mereka benar-benar kurang ajar!" Channa semakin geram.


"Tapi semua sudah berlalu, aku juga sudah memaafkan mereka dan lelaki itu. Aku tak ingin hidup di dalam kebencian, aku ingin hidup tenang sampai saat Tuhan memanggilku."

__ADS_1


"Kau memang berhati mulia." puji Channa sembari mengusap punggung tangan Chaiyya dengan lembut.


***


__ADS_2