
Kenedy sedang merasa sangat senang, setelah dua tahun ini, akhirnya dia bisa kembali memenangkan tender dan mengalahkan musuh bebuyutannya yaitu Steven.
"Aku senang sekali. Kingdom berhasil memenangkan tender ini. Tak akan kubiarkan perusahaan yang ku bangun dengan tanganku sendiri, hancur begitu saja. Terimakasih kasih ya, Jo. Semua ini berkat kerja bagus mu." Ucap Kenedy bangga.
"Iya, sama-sama, Pak. Saya akan melakukan apapun untuk memajukan Kingdom." Sahut Jovan.
Dan demi mempertahankan posisiku.
Queen hanya memandang Jovan dengan tatapan yang sulit diartikan, dan Jovan membalasnya dengan senyuman.
"Queen, kau harus belajar banyak dari Jo. Dia calon pebisnis handal." Steven kembali memuji Jovan, membuat Queen merasa muak tapi tak dia perlihatkan.
"Iya, Pa."
"Aku ingin sekali melihat wajah bodoh Steven saat dia mendapatkan kekalahan ini. Ku rasa dia pasti sudah muntah darah sekarang. Hahaha ...." Ujar Kenedy dengan nada mengejek.
Jovan dan Queen pun ikut tertawa.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Masih ada yang ingin saya kerjakan." Jovan pamit undur diri.
"Oh ... iya ... iya, silahkan!" Balas Kenedy.
Jovan pun melangkah keluar dari ruangan Kenedy.
"Aku juga permisi, Pa." Queen segera berlalu dari ruangan Kenedy tanpa menunggu jawaban dari sang Papa. Dia berjalan menyusul Jovan.
"Tunggu!" Queen menghentikan langkah Jovan yang berjalan di depannya. "Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Queen dingin.
Jovan berbalik dan memandang Queen dengan tersenyum manis, dia tahu pasti maksud dari pertanyaan wanita itu.
"Aku hanya melakukan pekerjaan ku untuk memajukan perusahaan milik ayah kekasihku." Jawab Jovan.
"Ciihh ... tutup mulutmu! Aku bukan kekasihmu lagi! Dan aku tahu, kau pasti melakukan kecurangan." Sergah Queen.
__ADS_1
"Sayang, berhentilah memusuhi ku! Aku tahu kau masih mencintaiku, begitu juga denganku. Kenapa kita tidak kembali bersatu dan memperbaiki semuanya. Kita bisa menjalani perusahaan ini bersama." Ucap Jovan. Lelaki itu meraih tangan Queen, tapi Queen segera menghempaskan nya.
"Jangan sentuh aku! Jangan bermimpi aku mau kembali lagi kepadamu setelah kau mengkhianati ku. Dan aku bersumpah akan segera membuat kau angkat kaki dari sini! Kau tunggu saja!" Ancam Queen dengan sorot mata menyalang kemudian berlalu dari hadapan Jovan.
"Queen ..." Panggil Jovan. Tapi Queen mengabaikannya.
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, Sayang. Kita lihat siapa yang akan menang." Ucap Jovan sinis.
***
Di luar gedung Kingdom, Prince berusaha masuk sambil berteriak mencari Sara. Pihak keamanan menahannya dan melarangnya masuk.
"Aku ingin bertemu wanita yang bernama Sara, dia pasti salah satu karyawan disini." Pinta Prince tegas.
"Maaf, Pak. Sudah saya katakan, tidak ada yang namanya Sara disini." Bantah salah seorang sekuriti.
"Bohong! Kalian pasti menipuku! Kalau tidak, kalian pasti membiarkan aku masuk."
"Kami tidak bisa membiarkan Anda masuk jika hanya ingin membuat keributan."
"Ada apa ini? Kau tidak terima dengan kekalahan perusahaan mu?" Tanya Kenedy dengan nada mengejek.
"Aku orang yang sportif, tapi aku tidak bisa terima jika kalian menggunakan cara kotor untuk mengalahkan aku." Jawab Prince.
"Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan?" Bantah Kenedy.
"Kau menggunakan wanita sebagai pemikat untuk mengalahkan pihak lawan, kau sengaja membuat aku lengah agar bisa mencuri informasi dariku. Ini adalah strategi paling menjijikkan yang pernah aku temui. Tapi aku mengerti, disaat kau menemui jalan buntu dan tidak ada cara untuk menang, kau akan menghalalkan segala cara." Ujar Prince menohok.
"Maksudmu, kami mengirim orang untuk mengetahui rahasiamu?" Kenedy menautkan kedua alisnya, dia merasa bingung dengan tuduhan Prince itu.
"Apapun yang kau lakukan, seharusnya kau mengetahuinya di dalam hatimu. Dan ingat, aku hanya akan kalah satu kali darimu. Selanjutnya, tidak akan aku biarkan kau dan orang-orangmu melakukan hal ini lagi. Dan sampaikan kepada wanita yang bernama Sara itu, aku pasti membalasnya." Prince berbicara dengan penuh emosi dan segera berlalu pergi dari Kingdom.
Kenedy masih berusaha mencerna maksud dari ucapan Prince itu. Mereka mendadak penasaran dengan wanita yang bernama Sara.
__ADS_1
"Siapa Sara?" Tanya Kenedy bingung.
"Saya juga tidak tahu, Pak." Jawab Jovan.
Siapa sebenarnya Sara itu? Apa yang dia maksud Elsa?
Queen yang mengetahui kedatangan Prince hanya mengintipnya dari jauh, dia heran, mengapa lelaki itu mencarinya ke Kingdom?
Bukankah dia tidak pernah mengatakan apapun tentang perusahaan ini.
***
Malam harinya, lagi-lagi Prince menghabiskan malamnya di Devil Club. Dia mencari tahu tentang wanita yang bernama Sara, dia bertanya kepada semua karyawan club yang mungkin mengetahui tentang wanita itu.
Dan yang dia dapat hanya, wanita itu meninggalkannya disaat dia sudah tertidur karena mabuk berat.
Prince benar-benar frustasi, baru saja dia merasa bahagia karena berhasil menemukan Queen, tapi sekarang wanita itu menghilang lagi dengan meninggalkan rasa marah di hati Prince.
"Kau masih belum menyerah? Sampai kapan kau akan terus mencarinya? Aku yakin dia hanya wanita penghibur yang disewa Kingdom untuk memikat dirimu agar bisa mencari tahu rahasia Emperor. "James duduk di samping Prince.
"Sampai aku mati aku akan terus mencarinya. Dia berani mempermainkan aku seperti ini! Padahal aku sudah minta maaf dan mengatakan jika aku akan bertanggungjawab, tapi ternyata dia justru memanfaatkan aku. Bodohnya aku sudah terpedaya." Jawab Prince sambil meremas kuat rambutnya. Sebelumnya dia sudah menceritakan apa yang terjadi kepada James.
"Ayolah, Prince. Hentikan semua ini! Anggap kemarin kau sedang sial karena bertemu dengannya. Jadi mulai sekarang lupakan dia! Seperti kau melupakan wanita-wanita yang sudah kau tiduri. Aku tidak ingin melihatmu patah hati lagi seperti dulu." Ucap James.
"Sulit, James. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Aku akan tetap mencarinya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Tetap ingin bertanggungjawab dengan menikahinya? Lalu menyiksanya seperti di novel-novel itu." Ledek James.
"Tentu tidak! Aku akan terus mencarinya, lalu membuat dia menyesali perbuatannya." Ujar Prince dengan seringai liciknya.
"Terserah kau sajalah! Yang penting aku sudah memperingatkan mu. Jangan sampai kau sendiri yang hancur karena wanita itu."
"Kita lihat saja nanti. Dia atau aku yang akan hancur." Sahut Prince sinis.
__ADS_1
***