
Di sebuah kamar hotel mewah, seorang wanita tanpa busana sedang tertawa-tawa sendiri sembari menonton rekaman video yang dikirim ke ponselnya. Di dalam video berdurasi singkat itu, tampak seseorang melemparkan batu kearah jendela cafe milik Mitha dan menghancurkannya dalam sekejap.
"Hahaha. Ini baru pemanasan saja. Permainan yang sebenarnya akan segera menyusul dan selamat menikmati." ucapnya dengan seringai licik.
"Aku akan membuat kalian menyesal karena berani mengusik dan melawanku." lanjutnya sinis.
Tapi tiba-tiba ponselnya bergetar, begitu melihat ID si penelepon, wanita itu langsung me-reject nya sambil menyeringai.
"Elsa, Sayang. Kau sedang apa?" Seorang lelaki paruh baya dan bertubuh tambun keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun.
Wanita yang tak lain adalah Elsa itu buru-buru mematikan telepon genggamnya lalu menyimpannya di atas meja nakas. "Hem, tentu saja aku sedang menunggu mu, Sayang."
Lelaki itu berjalan mendekati Elsa dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Elsa pun segera beraksi, dia langsung mencum bu lelaki itu dengan liar. Tentu saja semua ini dia lakukan demi uang dan tanpa sepengetahuan Jovan.
Ternyata setelah putus dari Rafael, Elsa kembali menjual dirinya. Kali ini dia bersedia menjadi simpanan lelaki hidung belang tak tahu diri yang lebih pantas menjadi ayahnya. Tentu saja apa yang diberikan Jovan tak ada apa-apanya, mengingat gaya hidup Elsa yang tinggi. Apalagi sekarang Jovan telah menjadi pengangguran, tentu itu akan berimbas kepada keuangannya.
Lalu di mana Jovan saat ini?
Lelaki licik nan malang itu sedang bersembunyi di dalam sebuah kamar hotel, karena Kenedy dan polisi sempat mencurigainya sebagai dalang hilangnya Queen sebelum akhirnya mereka menemukan mobil Prince berada di dekat mobil Queen. Makanya demi keamanan, untuk sementara dia akan berdiam diri disini sambil terus memantau situasi di luar dan mengatur orang-orang suruhannya untuk menjalankan apa yang dia perintahkan.
Dan baru saja dia mengirimkan video rekaman pelemparan batu yang memecahkan kaca jendela kafe Mitha kepada Elsa, tentu dia mendapatkan rekaman itu dari orang-orang suruhan nya.
"Cckk, kenapa di reject? Sebenarnya dia sedang apa, sih?" gerutu Jovan saat panggilan teleponnya tak di jawab oleh sang kekasih.
__ADS_1
***
Rafael sudah mendapatkan penanganan, CEO Emperor itu terpaksa harus menerima tiga jahitan di lengannya akibat tergores pecahan kaca jendela. Kini mereka sudah diperjalanan pulang dari rumah sakit menuju cafe, Rafael ingin mengambil mobilnya yang masih tertinggal di sana.
"Kira-kira siapa yang melakukan pelemparan ini? Apa kau punya musuh?" tanya Rafael penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan mantan pacarmu dan kekasih bodohnya itu." jawab Mitha kesal.
"Haaa, maksudmu Elsa dan Jovan?"
"Hem ...."
"Kenapa kau bisa menuduh mereka?" Rafael memandang Mitha penuh tanya.
Rafael terlihat berpikir. "Sepertinya kalian punya banyak masalah ya dengan mereka?"
"Banyak banget malah, sebelumnya Elsa dan Jovan berselingkuh di belakang Queen, dia juga berusaha menjatuhkan Queen dengan mengubah harga penawaran tender. Bahkan dia pernah bersekongkol dengan orang bodoh demi mendapatkan keuntungan dari Kingdom, dan membuat Prince salah paham dengan Queen." ucap Mitha sambil menyindir Rafael. Lelaki itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan.
"Intinya Elsa dan Jovan ingin mengambil keuntungan dari Kingdom melalui Queen. Dan sebagai sahabat, aku tidak tinggal diam. Aku pasti akan melindungi Queen dari orang-orang licik itu, apalagi mereka yang menyebabkan Queen kehilangan kesu ...." Mitha sontak menutup mulutnya saat sadar dirinya nyaris keceplosan membeberkan apa yang terjadi kepada sahabat itu.
"Kehilangan apa?" tanya Rafael dengan alis yang menaut.
"Hem, bu-bukan apa-apa. Lupakan saja!" balas Mitha gugup.
__ADS_1
"Kau ini aneh sekali. Kenapa jadi gugup begitu?"
Mitha tak menjawab, dia hanya fokus memandang jalanan di depannya sambil terus menggerutu dalam hati. "Bodohnya kau, Mitha. Hampir saja keceplosan."
Mitha tersentak saat ponselnya tiba-tiba berdering nyaring, dia buru-buru meraih benda pipih yang tersimpan di saku celananya.
"Rena?" Mitha mengernyitkan keningnya saat melihat ID si penelepon, dia segera menjawab panggilan masuk itu.
"Halo, ada apa, Ren?"
"Ha-halo, Mbak Mitha. Kafe, Mbak ...."
"Kafe kenapa?" desak Mitha tak sabar. Mendadak perasaannya tidak enak.
"Kafe kebakaran!"
"Ya, Tuhan!" pekik Mitha. Dia panik bukan main, bahkan ponselnya dia biarkan jatuh begitu saja padahal Rena masih berbicara dari seberang sana.
"Ada apa?"
"Kafe kebakaran." jawab Mitha yang langsung tancap gas.
"Apa?" Rafael mendelik mendengar ucapan Mitha itu.
__ADS_1
***