
Queen sudah berdiri di samping Prince yang masih tergolek tak sadarkan diri sembari menggenggam erat tangan besarnya yang dingin, tangisnya pecah saat melihat wajah Prince dipenuhi luka dan lebam.
"Bangunlah! Buka matamu! Apa kau sudah tidak mau melihatku lagi?"
"Kau mati-matian mengejar ku, bahkan melindungi ku. Tapi sekarang kau bahkan tak perduli aku menangis. Kau tetap menutup matamu." ucap Queen sambil terisak-isak.
Queen kembali terdiam, menikmati kesedihan yang menggelayuti hatinya. Sekarang dia merasakan takut kehilangan seseorang yang dulu begitu dia benci.
"Aku mohon bangunlah! Apa kau tidak ingin mencium perutku seperti waktu itu? Menyuapiku makan, bukankah kau tahu aku tidak bisa makan tanpa kau suap? Aku membutuhkanmu."
"Ibumu dan Paman Channa juga membutuhkan dirimu."
Queen mengelus pipi Prince yang sedikit memar, kemudian mengecupnya dengan lembut. "Aku mencintaimu."
Setelah puas melampiaskan kesedihan hatinya, Queen memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Tapi dia terkejut saat melihat Steven dan Rafael sudah berdiri di depan ruang ICU, dan memandangnya dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
Tadi mereka sempat terkejut saat mengetahui Queen ada di dalam, tapi setelah Chaiyya menceritakan semuanya, kedua ayah dan anak itu pun mengerti dengan situasi yang ada.
"Sungguh kejutan yang luar biasa!" gumam Steven sembari tersenyum.
Queen hanya tertunduk malu, tapi kemudian Chaiyya merangkul pundaknya.
"Sebentar lagi dia akan menjadi menantuku." ucap Chaiyya bangga. Air mata Queen kembali jatuh mendengar kata-kata wanita berhati baik itu.
"Iya, deh, iya. Aku akan tunggu undangannya." sahut Steven, dia mencoba menghibur semua orang.
Mereka pun membahas apa yang menimpa Prince, namun Rafael memisahkan diri dan segera menghubungi seseorang yang tak lain adalah Mitha. Dia melaporkan apa yang terjadi dengan Prince dan juga Kenedy kepada gadis tomboi itu.
***
"Saya minta maaf." ini sudah kesekian kalinya Chaiyya mengatakan itu.
__ADS_1
"Kalau Prince sudah pulih, dia pasti akan bertanggungjawab dan menikahi Queen." lanjut Chaiyya sembari tertunduk.
"Lalu kalau Prince tidak selamat? Apa anda pikirkan nasib putri saya?" sungut Sandra.
"Mama ...."
Chaiyya sontak mengangkat kepalanya dan memandang tak percaya karena ucapan Sandra. "Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Saya hanya mohon doanya agar Prince segera pulih."
Sandra menghembuskan nafas. "Semua tidak semudah yang anda pikirkan. Queen akan bertunangan, dan karena kejadian ini semua jadi berantakan. Bukan hanya keluarga kami saja yang kecewa tetapi keluarga calon tunangannya juga, kami malu."
"Saya benar-benar menyesali perbuatan putra saya, sekali lagi saya minta maaf." sahut Chaiyya.
"Tante, berhenti meminta maaf. Ini bukan salah Tante, aku dan Prince yang salah." sela Queen.
"Aku yang ceroboh, seharusnya malam itu aku tidak melampiaskan kesedihan ku dengan minum-minum di bar. Aku tidak bisa menjaga diri dan Prince hanya memanfaatkan keadaan yang ada. Jadi intinya, kami sama-sama bersalah." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Queen ...." Sandra terkesiap mendengar ucapan Queen, dia tak menyangka sang putri akan berpikir dewasa begitu.
***