
Setelah dari Kingdom, Prince memutuskan untuk ke kediaman Surendra. Dia berniat untuk melabrak Rafael, kali ini dia benar-benar tidak perduli lagi apa yang akan terjadi antara dirinya dan anak atasannya itu.
"Prince? Ada apa?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah asisten rumah tangga keluarga Surendra. Dia memang mengenal Prince dengan baik.
"Dimana Rafael, Bu?"
"Di kamarnya, sedang tidur."
Tanpa menjawab asisten rumah tangga itu, Prince pun segera berlalu. Dengan langkah yang lebar Prince berjalan menuju kamar Rafael, dan membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Bangun!" Prince menarik Rafael yang masih terlelap hingga posisinya jadi duduk.
"Haaa ... ada apa?" Tanya Rafael dengan mata yang masih tertutup. Sepertinya dia belum menyadari jika yang menariknya adalah Prince.
Buuughh ...
Satu bogeman mendarat telak di wajah Rafael, lelaki yang masih setengah sadar itu sontak membuka matanya dan terkejut bukan main saat melihat wajah Prince yang dipenuhi amarah.
"Kau? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukulku?" Sungut Rafael sambil memegangi rahangnya yang nyeri.
"Dasar berengsek! Kau rela menjual informasi perusahaan demi kepentingan pribadimu! Kalau kau membenciku, hadapi aku secara jantan, bukan malah merusak perusahaan ayahmu sendiri! Kau membuat aku dan semua orang salah paham kepada orang yang tidak bersalah." Ucap Prince dengan tatapan yang tajam dan emosi yang meledak-ledak.
__ADS_1
Rafael masih bingung darimana Prince tahu bahwa dia membeberkan informasi perusahaan kepada orang lain. Jelas saja dia tak menyadari jika Mitha sudah merekam ocehannya tadi malam sewaktu mabuk.
"A-apa maksud mu?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu! Kau dengarkan ini!" Prince melemparkan sebuah flashdisk yang berisi rekaman suara Rafael itu. Kemudian berlalu pergi.
Rafael memungut flashdisk yang dilemparkan Prince tadi lalu segera beranjak dari atas ranjang dan mencolokkan benda kecil berwarna hitam itu ke laptopnya.
Alangkah terkejutnya dia, saat indera pendengarannya menangkap suaranya sendiri yang sedang membeberkan persekongkolan dirinya dan juga Elsa.
"Shit!!! Dia memanfaatkan situasi untuk menjebak ku!" Rahang Rafael mengeras dengan tangan yang terkepal kuat.
***
"Ada apa lagi? Kenapa kau datang dengan tampang ingin membunuh seperti itu?" Ledek Mitha saat melihat Rafael berdiri dihadapannya dengan wajah marah. Dia tahu pasti tujuan lelaki itu.
"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Rafael dingin.
"Melakukan apa?"
"Jangan berpura-pura! Kau sengaja merekam ucapan ku dan memberikannya kepada Prince! Padahal saat itu aku sedang curhat kepadamu, karena aku menganggap mu sebagai temanku. Tapi ternyata kau menusukku! Kau mengkhianati aku!" Rafael benar-benar marah. Bahkan dia berbicara sambil menunjuk-nunjuk Mitha dengan jarinya.
__ADS_1
"Hee ... jangan berlebihan! Kau itu musuhku, bukan temanku. Jadi jangan perasaan deh!" Balas Mitha.
Rafael mengerutkan keningnya dan memandang Mitha dengan tatapan tak percaya.
"Aku pikir setelah kita mengobrol, kita sudah menjadi teman. Tapi ternyata ...."
"Hahaha ... kau itu kekasihnya musuhku, berarti kau juga musuhku. Apalagi kau dan semua orang Emperor adalah saingan sahabat ku, jadi aku tak ingin berteman denganmu."
"Saingan sahabat mu? Apa maksudmu?" Rafael menautkan kedua alisnya.
"Putri pewaris Kingdom itu adalah sahabatku. Dan kekasih mu yang munafik itu telah selingkuh dengan kekasih sahabatku. Dan karena kelakuan curangmu ini, Prince jadi menuduh Queen yang mencuri informasi dari Emperor, dia selalu mengusik sahabat ku." Ungkap Mitha.
"Apa ...?" Rafael tercengang mendengar pengakuan Mitha itu.
"Sudah jelas kan sekarang kenapa aku melakukan semua ini? Aku ingin membantu sahabatku terbebas dari gangguan karyawan emas mu itu, aku tak ingin sahabatku sedih karena perlakuan tak bermoral karyawan mu itu."
Rafael memejamkan mata dengan kuat, mencoba menahan geram yang sudah hampir meledak.
"Jadi mau apa lagi kau kesini? Aku masih banyak pekerjaan. Pergilah!"
Rafael menghembuskan nafas dan segera berlalu pergi sambil terus menahan gemuruh di dalam dadanya.
__ADS_1
***