Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 11


__ADS_3

Keesokan harinya Prince terbangun di tempat yang tidak asing baginya, lelaki itu mengerjap-ngerjap sebelum akhirnya beranjak dari pembaringan.


"Kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Prince dengan suara khas orang bangun tidur.


"Semalam kau mabuk berat, dan tertidur di Devil Club. Untung saja pihak bar menghubungiku. Aku menjemputmu dan membawamu kesini, karena aku tidak mungkin mengantarmu pulang ke rumah. Ibumu pasti cemas melihat kondisimu semalam." Ungkap James.


"Lalu dimana Sara?"


"Sara ...? Sara siapa?" James memandang bingung Prince.


"Dia wanita yang aku ceritakan waktu itu, semalam aku bertemu dengannya di bar dan kami minum sambil mengobrol." Jawab Prince.


"Tidak ada siapapun disana. Mungkin kau hanya bermimpi, Prince." Bantah James.


"Ini bukan mimpi. Aku benar-benar bertemu dengannya, aku bahkan menyentuh tangannya." Ucap Prince yakin.


"Tapi sungguh, tidak ada siapa-siapa disana. Percayalah, Prince."


Prince seketika terdiam, dia berusaha mengingat kembali kejadian semalam. Yang dia ingat hanyalah sampai Queen menuangkan wine ke gelasnya sambil terus bertanya tentang kehidupannya. Selebihnya Prince tidak ingat apa-apa lagi.


"Kenapa dia melarikan diri lagi?" Ucap Prince kecewa.


"Sudahlah, Prince! Lupakan wanita itu! Kau bisa gila jika terus-terusan seperti ini."


"Andai aku bisa, tapi sayangnya tidak. Sejak kejadian malam itu, aku tidak bisa melupakannya, bahkan aku selalu merindukannya. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya." Sahut Prince dengan wajah yang menyedih.


"Jangan konyol, Prince! Cinta tidak akan datang secepat itu. Hubungan kalian hanya kesalahan satu malam, jadi berhentilah membuang-buang waktumu dengan memikirkan wanita itu." Ujar James.

__ADS_1


"Aku juga tidak mengerti dengan semua ini, tapi aku yakin yang ku rasakan adalah cinta, aku ingin memilikinya." Balas Prince.


"Prince, mungkin kau hanya merasa bersalah saja atau itu hanya hasrat belaka. Sudahlah, sebaiknya sekarang kau mandi dan bersiap-siap ke kantor. Aku tidak ingin sahabat ku menjadi pengangguran gara-gara dipecat."


"Cckk ... iya ... iya ..." Jawab Prince malas. Lelaki itu segera turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi, walaupun bayangan tentang Queen masih bergentayangan di pikirannya.


Prince memang sudah sering menginap di apartemen milik James ini, jadi dia sudah menganggap nya sebagai rumah sendiri.


***


Siang ini, Steven kembali memanggil Prince dan Rafael ke ruangannya. Namun kali ini Steven benar-benar marah.


"Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian kesini?" Tanya Steven dengan nada yang tinggi.


"Ya, mana aku tahu! Memangnya aku bisa membaca pikiran Papa?" Sahut Rafael seenaknya.


"Memangnya ada apa, Pak?" Prince memandang Steven penuh tanya.


"Apa ...?"


"Wah ... bagaimana bisa? Bukankah sejak ada Prince, kita selalu menang melawan Kingdom? Kenapa kali ini kita kalah? Jangan-jangan kemampuan Prince mulai menurun." Sinis Rafael.


Prince mengabaikan ucapan Rafael, dia tak ingin terprovokasi dengan ledekan anak atasannya itu.


"Mungkin hanya kebetulan saja nasib mereka sedang beruntung, Pak." Ujar Prince.


"Tidak begitu! Aku yakin ada yang membocorkan informasi harga penawaran kita kepada Kingdom." Ucap Steven geram.

__ADS_1


"Maksud, Bapak?" Tanya Prince.


"Harga yang mereka tawarkan hanya selisih sedikit di atas harga kita. Aku yakin mereka sudah mengetahui semuanya dan berlaku curang." Steven berbicara dengan sorot mata kemarahan.


Prince terdiam. Seketika dia teringat dengan Sara yang terus menuangkan minuman ke dalam gelasnya seolah-olah ingin membuat Prince mabuk, sementara dia sendiri tidak minum dan wanita itu terus bertanya tentang kehidupan Prince.


Tapi Prince tak bisa mengingat, apa saja yang sudah dia katakan kepada wanita itu.


Apa ini perbuatan Sara? Kingdom mengirimnya untuk menjebak ku. Aku akan membuat kau menyesal melakukan ini.


"Sepertinya memang ada orang dalam yang membocorkan semua ini demi keuntungan pribadi, Pa. Kita harus berhati-hati dengan semua orang." Rafael melirik Prince.


Prince tahu Rafael sedang menyindirnya, tapi dia tetap tak ingin terpancing.


"Hmmm ... kau benar." Steven membenarkan ucapan sang anak. "Prince, segera cari tahu apa yang terjadi! Aku akan membuat perhitungan dengan Kingdom." Lanjut Steven sinis.


"Baik, Pak." Jawab Prince patuh.


Rafael merasa kesal, bukannya memarahi atau memecat Prince, sang Papa malah meminta bawahnya itu mencaritahu apa yang terjadi.


"Pa, seharusnya Papa memarahi dia atau bila perlu pecat saja dia karena sudah lalai dalam bekerja, sehingga pihak lawan bisa mendapatkan informasi perusahaan kita.  Kenapa malah memberinya tugas?" Protes Rafael.


"Raf, Papa yakin ini bukan kesalahan Prince. Pasti ada penyusup di Emperor yang mencuri informasi untuk Kingdom. Lagipula selama dua tahun ini, Prince selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaan kita, terlalu berlebihan jika memecatnya hanya karena masalah ini." Ucap Steven.


"Papa selalu saja membelanya! Suatu saat Papa pasti menyesal karena terlalu mempercayainya!" Rafael beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Steven.


"Anak itu selalu saja seperti ini!"

__ADS_1


Prince tak menanggapi ocehan Rafael, ada hal yang lebih mengganggu pikirannya, yaitu wanita yang mengaku bernama Sara.


***


__ADS_2