Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 65.


__ADS_3

Sedari tadi Chandara dan Channa saling pandang dan tersenyum penuh arti demi melihat tingkah dua insan di hadapan mereka. Seperti sebelumnya, Prince menyuapi Queen makan. Tapi kali ini wajah keduanya terlihat sumringah, berulang kali keduanya tertawa meski tak ada yang lucu. Chandara dan Channa merasa terabaikan.


"Ehem. Pa, kok aku ngerasa kayaknya kita lagi ngontrak ya di dunia ini?" sindir Chandara.


"Kalau kita ngontrak, terus dunia ini milik siapa dong?" balas Channa.


"Milik mereka berdua tuh." Chandara menunjuk Prince dan Queen dengan dagunya.


"Makanya cari pacar, biar tidak ngontrak lagi di dunia ini." sahut Prince tanpa memandang kearah ayah dan anak itu. Sementara Queen hanya tersenyum dengan wajah yang memerah menahan malu.


"Oh, gitu? Habis aku bantuin, sekarang ejek-ejek aku? Mau aku bocorin ni?" ucap Chandara pelan tapi penuh ancaman.


"Hahaha." Prince tertawa. "Dasar bocah nakal! Beraninya ngancam!"


"Ada apaan sih?" tanya Queen bingung.


Prince menggeleng. "Tidak, tidak ada apa-apa kok. Ayo makan lagi yang banyak."


Chandara dan Channa tersenyum melihat kedua insan yang sedang berbahagia itu, mereka puas karena rencana mereka berjalan dengan lancar. Prince akhirnya mengetahui perasaan Queen terhadapnya.


Terima kasih untuk Alissa yang sudah membantu rencana mereka.


***


Rafael memacu mobilnya menuju kafe milik Mitha, dia tak sabar ingin membicarakan perihal hilangnya Queen kepada gadis tomboi itu. Sesampainya di depan kafe bergaya Eropa itu, Rafael segera turun dari mobil dan berlari masuk.


"Selamat mal ...." ucapan Mitha terputus saat menyadari pelanggannya adalah Rafael. "Mau apa lagi kau kesini?" tanya Mitha ketus.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan." jawab Rafael.


"Aku tidak ingin bicara denganmu!"


"Ini tentang Queen."


"Apa yang terjadi dengannya? Cepat katakan!" desak Mitha. Dia berpikir mungkin lelaki menyebalkan di hadapannya ini membawa kabar baru.


"Queen hilang."


"Yeee, itu sih aku sudah tahu!" Mitha memutar bola matanya dengan malas.


"Tapi mereka menuduh Prince yang menculiknya!" lanjut Rafael.


"Apa?" Mitha terkejut dengan mata yang melotot dan mulut ternganga.


"Kok bisa?"


Rafael menaikkan keduanya pundaknya. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi memang sih, sudah dua hari ini Prince tidak ke kantor. Ibunya juga menelepon Papa dan bertanya tentang dia, itu berarti Prince juga tidak ada di rumah alias menghilang. Apa jangan-jangan memang Prince yang menculik Queen." lanjut Rafael dengan kening mengkerut khas orang sedang berpikir.


"Atau mereka pergi berdua." sahut Mitha mencoba menerka.


"Maksudmu?"


Prang ....


"Awas!" Rafael refleks menarik Mitha merunduk dan melindungi gadis itu dengan tubuhnya, agar tidak terkena serpihan kaca serta batu yang dilemparkan seseorang dari luar cafe. Aksi pelemparan itu menghancurkan kaca jendela sebelah kiri yang berada tepat di samping mereka.

__ADS_1


Prang ....


Satu lemparan lagi berhasil memecahkan kaca jendela sebelah kanan, beberapa orang pelanggan dan karyawan sontak berlarian keluar. Keadaan cafe sangat berantakan, pecahan kaca jendela berserakan dimana-mana. Sementara orang yang melemparkan batu tadi sudah kabur dengan mengendarai sepeda motor.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Rafael cemas.


"Tidak, aku tidak apa-apa." jawab Mitha. "Sepertinya sudah aman." Mitha perlahan mulai berdiri sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Hhhssttt ...." Rafael meringis sakit. Mitha sontak berbalik memandangnya.


"Kau kenapa?" tanya Mitha cemas. Wajahnya berubah pucat saat melihat banyak tetesan darah di dekat Rafael berdiri. "Kau terluka?"


Mitha segera mengambil serbet bersih dan menutup luka di lengan Rafael agar darahnya berhenti.


"Hanya tergores saja." sahut Rafael santai sambil meringis menahan perih.


"Tapi nanti bisa infeksi. Kita harus ke rumah sakit!" Mitha panik bukan main.


"Tidak usah! Ini hanya luka kecil."


"Jangan membantah! Ayo!" Mitha menarik lengan Rafael dan menyeret lelaki itu ke rumah sakit.


"Ren, aku titip kafe sebentar." Mitha memberi titah kepada salah satu karyawannya yang bernama Rena.


"Iya, Mbak Mitha." sahut Rena.


***

__ADS_1


__ADS_2