
Mendengar larangan Queen, Prince pun berbalik dan menatap wanita itu dengan kening yang mengkerut.
"Kenapa?"
"Hem, anu ... itu ...." Queen gugup, dia tak tahu harus memberikan jawaban masuk akal seperti apa?
"Karena kau sebenarnya mencintaiku. Kau cemburu melihat aku mendekati wanita lain. Iya, kan?" tebak Prince dengan alis yang naik turun sembari tersenyum.
"Eh, tidak ... tidak ...! Jangan memfitnahku!"
Seketika tawa Prince meledak, sementara Chandara sudah terkekeh geli melihat ekspresi wajah Queen yang menggemaskan.
"Nih, kau saja yang antar Alissa! Nona Muda cemburu kalau aku yang mengantarkannya." Prince memberikan balita gembul itu kepada Chandara sambil menyindir Queen.
"Kau jangan asal bicara! Siapa yang cemburu?" bantah Queen tak terima, dia masih berusaha menutupi perasaannya. Tapi Prince tak perduli.
__ADS_1
Chandara pun berlalu dan mengantarkan Alissa pulang. Kini Prince beralih memandang lekat wajah Queen. "Apa sesulit itu kau mengakui perasaan mu kepadaku? Apa begitu berat hatimu memberiku kesempatan untuk bertanggung-jawab?"
Queen memalingkan wajahnya dan menghembuskan napas berat. Dia tak ingin menatap mata Prince yang seakan menghujam jantungnya. "Aku tidak butuh tanggung jawab darimu!"
"Queen, aku mencintaimu. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merasakan perasaan ini. Aku mohon beri aku kesempatan!"
Queen memutar kepalanya dan kini memandang Prince dengan mata yang berkaca-kaca. "Cinta? Hentikan omong kosong ini! Kalau dari awal kau memang sudah jatuh cinta kepadaku, kau tidak mungkin melakukan hal menjijikkan itu. Di mata ku, kau hanya orang yang telah menghancurkan masa depanku, menghancurkan hidupku!"
"Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal. Aku memang bersalah, bahkan salahku terlalu banyak kepadamu. Maka dari itu, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku mohon, Queen."
Tanpa diduga, Prince menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan kaki Queen. "Kau boleh menghukum ku, apa pun itu. Aku akan terima, tapi aku mohon izinkan aku menebus semua kesalahanku."
Queen terkesiap mendengar permintaan Prince itu, seumur hidupnya baru kali ini ada seorang pria yang berlutut dan melamar dirinya seperti ini. Bahkan Kaisar saja yang notabene calon tunangannya tak pernah melakukan hal seromantis ini, dan aksi Prince itu sukses membuat Queen terharu dengan jantung yang berdebar kencang.
"Tapi aku sudah di jodohkan, aku tidak mungkin menerimamu." balas Queen dengan suara yang bergetar, air matanya menetes tak tertahankan.
__ADS_1
"Kita akan bicara kepada kedua orang tuamu, aku yakin mereka akan mengerti dan menerima semua ini."
"Semua tidak semudah yang kau pikirkan! Ini pasti akan jadi masalah yang besar, Papa pasti akan murka." Prince tertunduk sembari terisak-isak, punggungnya sampai berguncang.
Prince pun berdiri dan memegangi kedua pundak Queen. "Kita akan hadapi semua ini bersama-sama. Aku akan terima apa pun yang terjadi nanti, aku akan selalu bersamamu. Percayalah kepadaku!"
Tangis Queen semakin menjadi, entah mengapa perasaannya begitu rapuh dan lemah, dia benar-benar tak kuasa menahan gejolak di dalam dadanya saat mendengar setiap kalimat Prince yang begitu menyentuh relung hatinya. Queen bisa merasakan ketulusan lelaki itu meskipun ratusan kali dia coba untuk pungkiri.
Melihat Queen menangis, Prince pun menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat-erat.
Bersamaan dengan itu, adzan Magrib pun berkumandang, menggema memenuhi langit senja yang berwarna oranye.
Allahuakbar .... Allahuakbar ....
Allahuakbar ... Allahuakbar ....
__ADS_1
Asyhadu allaa illaaha illallaah ....
***