
Queen melangkah dengan berat, seolah ada rantai besi yang membelenggu kakinya. Jantungnya berdetak tak karuan, seluruh tubuhnya gemetaran karena takut. Dia mencoba menarik nafas lalu mengembuskanya untuk menenangkan diri, ketakutannya bertambah setiap kali membayangkan wajah kedua orang tuanya.
"Eh, Queen. Mari sini, Sayang." Rosana menyapa Queen sembari menepuk sofa kosong di antara dirinya dan juga Kaisar. Tapi Queen hanya diam dan terpaku ditempatnya. Sementara Kaisar hanya memandangnya dengan tatapan ambigu.
"Ma-maaf, ada yang mau aku katakan." ucap Queen terbata-bata.
"Queen, ada apa? Kenapa kau gugup begitu?" tanya Sandra bingung. Semua orang kini memandang ke arah wanita cantik itu.
"A-aku ingin membatalkan pertunangan ini." ucap Queen dan sukses membuat semua orang tercengang.
"Queen, apa-apaan kau ini?" bentak Kenedy. Lelaki paruh baya itu sampai berdiri dari tempatnya.
"Queen, kenapa kau membatalkannya? Apa ada masalah?" tanya Frans bingung.
"A-aku ... aku ...." Queen menjeda ucapannya lalu menelan ludah, mendadak tenggorokannya terasa kering.
"Hamil." lanjut Queen yang semakin tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Apa ...?"
Kenedy dan semua orang terkejut bukan main, bagai tersambar petir disiang bolong. Mereka tak percaya gadis baik dan terpelajar seperti Queen bisa seperti itu.
"Kau sedang tidak bercanda kan?" tanya Sandra memastikan.
Queen menggelengkan kepalanya sambil tanpa mau memandang siapapun, air matanya jatuh menetes tanpa bisa dicegah.
"Katakan siapa ayah anak itu?" desak Kenedy geram.
"Prince." takut-takut Queen mengatakannya, menyebut satu nama yang menjadi dalang dari semua kekacauan ini. Kenedy dan Frans jelas sangat mengenal lelaki itu.
"Ya, Tuhan. Queen!" Kenedy berdiri dan berjalan mendekati Queen. "Kenapa kau lakukan ini?"
__ADS_1
" Dia itu ... aaaakkhh ...."
Kenedy tiba-tiba memekik menahan sakit sembari memegangi dadanya, tubuh lelaki paruh baya itu merosot ke bawah dan tergeletak.
"Papa!" histeris Queen dan Sandra bersamaan. Mendadak keadaan menjadi tegang, semua orang panik melihat Kenedy meringis kesakitan.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" teriak Frans.
Frans dan Kaisar menggotong tubuh Kenedy, sedangkan Sandra memegangi kepalanya. Mereka membawa Kenedy ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan pertolongan.
***
Semua orang sedang menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan cemas, Kenedy masih ditangani di dalam sana. Sandra sedari tadi tak berhenti menangis, takut terjadi sesuatu kepada sang suami. Rossana berusaha menenangkannya, sedangkan yang lain hanya duduk diam.
Queen yang merasa bersalah mendekati Sandra dan berjongkok di hadapan sang Mama.
"Ma, aku minta maaf. Ini semua kecelakaan." ucap Queen sembari menggenggam tangan Sandra, tapi wanita itu menarik tangannya.
"Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Aku juga tidak menginginkan semua ini, aku hanya ceroboh dan tidak bisa menjaga diri." sahut Queen dengan air mata yang berderai.
"Apa pun alasanmu, Mama dan Papa tetap kecewa! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Papamu, kau yang pantas disalahkan!" kecam Sandra penuh emosi dan beranjak pergi.
Queen terduduk di lantai sambil terisak-isak, bahunya sampai berguncang, membuat siapapun yang melihatnya merasa prihatin.
Rossana membantunya berdiri dan mendudukkannya di atas kursi.
"Kalau lagi hamil tidak boleh menangis, entar baby nya ikutan sedih loh. Lagipula ibu hamil tidak boleh stress." ujar Rossana sambil mengusap jejak-jejak air mata di pipi Queen.
"Aku minta maaf karena sudah membuat Tante dan semua orang kecewa, aku tidak berniat untuk melakukannya. Maafkan aku." Queen kembali terisak-isak.
"Ssstt, sudah! Jangan di sesalkan lagi, semua sudah terjadi. Kita harus menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Percayalah, Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik." Rossana kembali mengusap air mata di pipi Queen. Sementara Laura, Frans dan Kaisar hanya memandangnya dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Seorang dokter tiba-tiba keluar dari ruang UGD, Sandra dan semua orang menghampirinya.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Sandra cemas.
"Syukurlah pasien ditangani tepat waktu, jadi penyumbatan di pembuluh darahnya tidak berakibat fatal. Saat ini pasien butuh istirahat yang cukup, usahakan jangan membuat dia stress dan tertekan." jawab sang dokter.
"Syukurlah." Sandra menghela nafas lega. "Apa kami bisa menjenguknya?"
"Bisa setelah dia dipindahkan ke ruang perawatan. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, Dok. Terima kasih." balas Sandra.
"Syukurlah Kenedy baik-baik saja." ujar Frans lega. "Kalau begitu kami permisi dulu, hari sudah semakin larut."
"Iya, terima kasih banyak." Sandra mengangguk. Lalu kemudian tertunduk dan menangis. "Aku minta maaf ...."
"Sudahlah, San. Semua sudah takdir, yang sudah terjadi biarlah berlalu." sahut Frans.
"Tapi aku malu." Sandra menyusut hidungnya yang basah. Queen merasa semakin bersalah.
"San, jadi atau tidaknya anak-anak kita menikah, kita ini tetap keluarga. Tidak ada yang berubah." sela Rossana sembari mengusap lembut pundak Sandra.
"Iya, Rossana benar. Walaupun nanti Queen tidak jadi menikah dengan Kaisar, aku sudah menganggap Queen sebagai cucuku." Laura ikut berusaha, membuat Queen semakin merasa bersalah.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Kalau ada apa-apa, cepat kabari!"
"Iya. Sekali lagi terima kasih banyak."
Keluarga Mahaprana pun beranjak pergi, Kai sama sekali tak ingin bicara, dia hanya melirik Queen dengan sinis.
"Ini balasannya! Kita akan terluka bersama." batin Kaisar.
__ADS_1
***