
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Queen berjalan pelan menuju ruang tamu. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, tapi tak melihat siapapun. Keadaan rumah sangat sepi.
"Ke mana dia?" batin Queen heran karena tak menemukan sosok Prince. Tapi dia gengsi untuk bertanya.
"Ini sarapannya, Mbak. Silahkan!" Chandara membuyarkan lamunannya, gadis itu menghidangkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya dan segelas susu sapi. Queen sontak menutup mulutnya, dia mual begitu menghirup aroma makanan dan susu yang di hidangkan Chandara itu.
"Kenapa, Mbak?"
"Aku mual banget." jawab Queen. Dia sedikit bingung, bukankah kemarin dia sudah bisa makan, kenapa sekarang mual lagi?
"Mbak mau aku buatkan yang lain?"
Queen menggeleng. "Tidak. Tidak usah! Simpan aja lagi makanannya. Aku memang mual kalau mencium aroma makanan di pagi hari."
"Oh, itu namanya morning sickness. Itu biasa terjadi di awal kehamilan. Tunggu aku buatkan air lemon hangat, biar mual-mual nya berkurang." Chandara bergegas ke dapur sembari membawa kembali sarapan dan susu untuk Queen itu.
"Selamat pagi ...." suara seseorang terdengar dari luar rumah.
Chandara buru-buru kembali ke depan seraya membawakan segelas air lemon hangat dan memberikannya kepada Queen, lalu segera beralih keluar rumah.
"Mutia? Ada apa pagi-pagi udah bertandang kesini?"
"Aku mau antar makanan buat Pak Channa, kamu dan juga sepupu kamu yang kayak pangeran itu." ucap Mutia tersipu-sipu sambil menyerahkan sebuah rantang stainless bersusun tiga.
"Kau ini! Mau coba-coba menyogok dengan makanan ya?" ledek Chandara.
__ADS_1
"Siapa tahu dari perut naik ke hati." sahut Mutia centil.
"Ngarep!"
"Eh, kemana dia? Kok tidak kelihatan?" Mutia celingukan mencari keberadaan Prince.
"Ke hutan."
"Ngapain ke hutan?"
"Mau tahuuuuuu aja!" sahut Chandara yang segera masuk ke dalam rumah dan Mutia mengekor di belakangnya.
Dan sungguh, Queen benar-benar jengkel mendengar ocehan Mutia itu tapi dia juga penasaran.
"Mau apa dia ke hutan?" gumam Queen pelan dan sedikit cemas.
Chandara tak menjawab, matanya hanya terfokus kepada Queen yang kini memandang mereka dengan tatapan yang tak terbaca. Begitu juga dengan Mutia, gadis centil itu mengikuti arah pandangan Chandara dan sedikit terkejut melihat keberadaan Queen.
"Siapa itu?" bisik Mutia.
" Hem, ini Mbak Queen, anu dia itu ...." Chandara tak melanjutkan kata-katanya, dia bingung harus memperkenalkan Queen sebagai siapa? Mengingat hubungan Prince dan Queen yang tidak baik.
"Di ... dia itu temannya Kak Prince dari kota." lanjut Chandara sedikit gugup.
"Cuma teman, kan?" Mutia memastikan lagi dan Chandara hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." Mutia mengelus dadanya dengan penuh kelegaan.
"Kalau begitu aku mau menunggu Kak Prince di sini saja." Mutia langsung menjatuhkan dirinya di atas kursi kayu yang telah usang milik Channa.
Queen hanya memutar bola matanya dengan malas demi melihat tingkah Mutia, dan kekesalan kembali menyelimuti hatinya.
"Dasar gadis genit! Sok kecakapan banget, sih!" batin Queen jengkel.
***
Setelah menyusuri hutan, akhirnya Channa, Prince dan Danu tiba di pabrik kayu lama. Tapi mereka sama sekali tak melihat keberadaan mobil Prince di sana.
"Kau yakin meninggalkannya di sini?" tanya Channa memastikan.
"Iya, aku yakin sekali, Paman." jawab Prince.
"Berarti ada yang memindahkannya. Atau jangan-jangan orang jahat itu menemukan kuncinya dan membawa pergi mobilmu." sahut Danu.
"Iya, kau benar." Channa menimpali.
"Aku akan membuat perhitungan dengan si berengsek itu." Prince menggeram dengan rahang yang mengeras, pupus sudah harapannya untuk bisa pulang dengan mengendarai mobilnya.
Channa hanya menghela nafas, dia juga sedikit kecewa dengan kenyataan ini. Sekarang mau tak mau mereka harus mencari mobil yang bisa mereka tumpangi untuk sampai ke kota.
Akhirnya ke-tiga orang itu kembali masuk ke hutan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
***