
Acara konferensi pers diadakan disebuah ballroom hotel berbintang, Kenedy memperkenalkan Queen sebagai ahli warisnya yang akan membantunya di Kingdom. Wartawan sangat ramai mewawancarai Queen dan juga Kenedy.
Berbagai pujian dilontarkan orang-orang yang menghadiri acara itu.
Steven yang mengetahui acara itu pun datang dan menyela pembicaraan wartawan. Jovan yang melihat kedatangan pemilik Emperor itu segera mendekatinya untuk melihat apa yang akan terjadi.
"Membuat acara besar-besaran seperti ini hanya membuang-buang uang saja. Sudah jelas kau dan putrimu tidak akan bisa melawan Emperor." Nyinyir Steven.
Kenedy, Sandra dan Queen merasa tidak senang dengan ucapan Steven, tapi Queen berusaha tenang dan tetap menyapanya dengan ramah.
"Hai, Om. Mulai sekarang kita akan sering bertemu dan berpartisipasi dalam banyak proyek. Aku harap kita bisa bersaing dengan sehat." Ucap Queen dengan nada menyindir.
"Tentu saja. Tapi jangan terkejut jika kau melihat kemenangan Emperor terus menerus." Balas Steven.
"Menang dengan cara yang curang. Aku tidak menganggapnya kemenangan yang sejati. Tapi bagaimanapun aku berterimakasih karena kau sudah mau datang ke pesta putriku." Ujar Kenedy sinis.
"Tidak usah berterimakasih. Aku memang datang untuk memberi dukungan moral kepada putrimu." Sahut Steven. "Kalau ada yang tidak kau mengerti tentang bisnis, kau boleh tanya aku. Aku akan mengajarimu. Agar Kingdom tahu artinya kemenangan." Steve beralih kepada Queen.
Kenedy benar-benar merasa geram dengan ucapan Steven itu, tapi dia tak sempat membalasnya karena seorang wartawan meminta mereka berfoto bersama. Mau tidak mau, Kenedy dan Queen berfoto bersama Steven.
Sementara itu di Emperor, sekretaris Prince yang bernama Lila datang membawa berkas-berkas yang harus di cek oleh lelaki tampan itu.
"Pak, ini berkas-berkasnya." Ucap Lila sembari meletakkan sebuah map merah di atas meja kerja Prince.
"Iya, terimakasih." Sahut Prince tanpa memandang Lila. Dia tengah fokus melihatĀ layar laptopnya.
"Hmmm .... Pak, apa Anda tidak pergi ke acara konferensi persnya Kingdom? Pak Steven sedang menghadiri peluncuran debut ahli waris Kingdom itu loh." Lila kepo.
"Tidak. Saya rasa itu tidak penting. Siapa pun ahli warisnya, tidak berpengaruh dan merubah apapun." Jawab Prince tak acuh.
"Iya, sih." Balas Lila. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak." Lila bergegas keluar dari ruangan Prince.
***
Setelah kepergian Steven, Kaisar datang untuk memberi selamat kepada Queen. Lelaki itu membawakan sebuket bunga mawar merah yang indah.
"Ini untukmu. Selamat bergabung di dunia bisnis." Ucap Kaisar sembari menyerahkan buket bunga yang dia bawa.
__ADS_1
"Terimakasih ya." Queen menerima buket bunga itu. Kaisar membalasnya dengan senyuman.
"Maaf, Om. Papa dan Mama titip salam, mereka tidak bisa datang karena ada urusan." Kaisar beralih ke Kenedy.
"Tidak apa-apa kok! Om mengerti, Papa dan Mamamu sangat sibuk. Terimakasih karena kau sudah mau datang." Balas Kenedy.
"Sama-sama, Om."
Jovan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya memandang Kaisar dengan tatapan tak terbaca. Sadar dirinya sedang diperhatikan, Kaisar sontak menoleh ke arah Jovan dan melempar tatapan tajam.
"Kalau begitu kalian mengobrol lah, Om ingin menemani para tamu." Kenedy menepuk pundak Kaisar sontak membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya.
"Eh, iya, Om."
Kenedy pun berlalu, meninggalkan Kaisar dan Queen berdua.
"Mantanmu sepertinya terpesona kepadaku." Ucap Kaisar.
"Haaa ...?" Queen menautkan kedua alisnya. Dia tak mengerti maksud Kaisar.
"Sedari tadi dia terus memandangi ku tanpa berkedip. Bukankah itu berarti dia terpesona kepadaku?"
"Memang apanya yang lucu?"
"Kau yang lucu! Dasar baperan!" Ejek Queen.
Jovan terus memandangi mereka, dia tahu pasti siapa Kaisar, karena Queen sudah menceritakan tentang calon suaminya itu sewaktu mereka masih bersama, bahkan Queen pernah mengirimkan foto Kaisar kepadanya.
Sedangkan Kaisar, lelaki itu sengaja membuat Queen tertawa untuk menunjukkan kepada Jovan bahwa wanita itu bahagia di dekatnya.
Tapi tiba-tiba, seseorang yang sangat Queen benci datang menghampirinya. Wajah Queen sontak berubah masam saat melihat yang tak lain adalah Elsa. Begitu juga dengan Jovan, dia terkejut melihat kekasihnya itu datang ke acara ini.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Queen ketus.
"Aku hanya ingin memberikan selamat untukmu. Semoga Kingdom tidak hancur di tanganmu." Jawab Elsa santai.
"Tutup mulutmu dan pergi dari sini! Aku tidak ingin acara ku berantakan cuma karena kehadiran manusia menjijikkan lagi, cukup ada satu disini." Balas Queen menohok sambil melirik Jovan yang sudah melangkah mendekati mereka.
__ADS_1
"Kau dengar itu? Pergi dari sini!" Sela Kaisar yang tahu dengan jelas siapa Elsa.
"Sombong sekali kau!" Elsa tak terima.
"Apa merugikan mu jika aku sombong? Lagipula aku pantas sombong, apalagi kepada orang yang tidak tahu malu seperti kalian." Sahut Queen angkuh.
"Kau ini ..." Elsa menggeram dengan sorot mata menyalang.
"Elsa! Apa yang kau lakukan disini? Cepat pergi dan jangan mengganggu Queen!" Jovan menarik lengan Elsa agar menjauh dari Queen dan Kaisar.
"Hey ... aku belum selesai bicara!" Elsa memberontak tapi Jovan mengabaikannya.
"Dua manusia menjijikkan! Tidak tahu malu!" Queen memandang Elsa dan Jovan dengan penuh kebencian.
"Sudahlah, disini banyak wartawan. Aku tak ingin kehadirannya menjadi topik hangat para pemburu berita ini. Mari nikmati acaranya!" Kaisar berusaha memperingatkan Queen.
Sementara itu, Jovan menarik Elsa ke tempat sepi. Dia tak habis pikir mengapa kekasihnya itu berani datang ke acara ini?
"Apa yang ada dipikiran mu? Kenapa kau nekad datang kesini?" Cecar Jovan.
"Aku hanya ingin memberi selamat. Apa itu salah?" Sahut Elsa.
"Jelas salah, kau tidak sadar jika semua ini bisa membuat Queen semakin kesal dan posisiku semakin terancam?"
"Bukankah rencana kita sudah berhasil, berarti posisi mu sudah aman sekarang." Balas Elsa.
"Siapa bilang? Kau lihat lelaki yang bersama Queen itu? Dia calon suaminya. Dan kalau mereka menikah nanti, aku semakin sulit mendekati Queen dan secepatnya aku akan dicampakkan dari Kingdom. Karena aku tahu, Queen tidak akan tinggal diam."
"Oh, jadi si tampan itu calon suaminya? Beruntung sekali dia bisa mendapatkannya." Elsa merasa iri.
"Elsa!" Bentak Jovan. Dia merasa cemburu dan tersinggung dengan ucapan Elsa.
"Sayang, aku hanya bergurau. Jangan marah ya." Elsa yang tahu Jovan cemburu segera bersikap manis dan bergelayut manja di lengannya.
"Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini! Dan jangan bertingkah ceroboh lagi!" Pinta Jovan.
"Iya ... iya ... maaf! Kalau begitu aku pergi dulu. Bye ..." Elsa bergegas pergi dari hotel tempat Kingdom mengadakan acara.
__ADS_1
Jovan hanya menghela nafas melihat kelakuan wanita yang sudah enam tahun ini menjadi kekasihnya.
***