
Seluruh keluarga Rathanaporn dan Ravindra sedang bersuka cita atas kelahiran putra pertama Prince dan Queen, tak lupa juga keluarga Mahaprana yang ikut merasakan suka cita itu.
Bayi mungil berpipi gembul itu lahir melalui proses persalinan normal dan diberi nama PANGERAN MAHAPRANA RATHANAPORN, atau bisa dipanggil baby Eran. Prince sengaja menggabungkan dua nama besar keluarganya itu agar adil, sebab bagaimanapun juga darah keluarga Mahaprana mengalir di tubuhnya.
"Uuuhhh, menggemaskan sekali sih." Mitha tak henti-hentinya mencium pipi gembul nan mulus itu, aroma khas bayi begitu terasa.
"Kau mau? Aku bisa buatkan yang seperti itu untukmu." bisik Rafael dengan wajah yang menggoda.
Mitha sontak memukul lengan kekasihnya itu dengan wajah yang bersemu merah, Queen hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua orang itu. Sementara yang lainnya sedang sibuk mengobrol di ruang tunggu rumah sakit.
"Kenapa kau memukulku?" protes Rafael sambil mengusap lengannya.
"Habis bicaramu tidak pantas, tahu! Kita kan belum menikah."
"Kalau begitu ayo menikah!" balas Rafael.
"Kau sedang melamar ku?" Mitha menautkan kedua alisnya.
"Menurutmu?"
"Sungguh tidak romantis!" Mitha memutar bola matanya.
"Sejak kapan kau suka dengan hal-hal yang romantis?" Rafael mengernyitkan keningnya.
"Sejak aku pacaran dengan pria bucin sepertimu." sahut Mitha.
"Oh, aku kirain sisi kewanitaan mu mulai beregenerasi." ledek Rafael sambil terkekeh.
"Kau pikir sisi kewanitaan ku ekor cicak yang putus?" sungut Mitha dengan mata yang melotot.
"Kenapa kau melotot? Aku kan cuma menyampaikan apa yang aku pikirkan tentang kewanitaan mu."
"Apa kau bilang? Jadi kau memikirkan kewanitaan ku? Dasar mesum!" Mitha menarik kerah kemeja Rafael dengan tatapan tajam.
"Memangnya tadi aku bilang apa?"
__ADS_1
"Ssstt, kalian ini! Jangan merusak pendengaran putraku dengan obrolan un-faedah kalian itu " ujar Queen.
"Maaf, ya, ganteng. Paman yang satu ini memang selalu merusak suasana." sindir Mitha yang langsung melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja Rafael.
"Apa kau bilang?" Rafael mendelik lalu memiting Mitha dan mencium pipinya.
"Hei, jangan mesra-mesraan disini! Ada anak di bawah umur." sungut Queen. Ketiga orang itu lalu tergelak bersama.
Meninggalkan keceriaan di dalam ruang perawatan Queen, kita beralih ke ruang tunggu, dimana ada Prince dan semua orang, karena tak mungkin mereka semua masuk ke dalam.
"Sekarang Prince sudah menjadi ayah, kau tidak mau mengikuti jejaknya?" tanya Channa kepada Kaisar.
"Mengikuti jejaknya menghamili anak gadis orang?" ledek Kaisar.
"Hei, jangan ungkit itu lagi!" sungut Prince.
"Kenapa? Kau malu? Kan memang kenyataannya." sahut Kaisar dengan wajah jahil.
"Dasar adik kurang ajar! Awas kau ya!" Prince menatap tajam Kaisar yang kini terkekeh penuh kemenangan. Mereka selalu saja berkelahi jika bertemu.
"Sudah-sudah! Kalian ini kayak anak kecil, kerjanya berkelahi saja!" Frans menengahi kedua putranya itu.
"Aku belum kepikiran untuk menikah." jawab Kaisar tak acuh.
"Ya jelaslah belum kepikiran, dia itu kan tidak suka wanita." ejek Prince.
"Prince!" Chaiyya memperingatkan putranya.
"Enak saja! Aku masih normal, tapi tidak gegabah." sahut Kaisar. Prince hanya mencibir.
"Jadi kapan lagi? Kalau kau punya kekasih, ajak dia ke rumah dan kenalkan pada kami." pinta Laura.
"Iya, Oma. Itu pasti, tapi tidak sekarang." ucap Kaisar.
"Kapan? Nunggu anakku sudah bisa nongkrong di kafe?" sela Prince.
__ADS_1
Kaisar mendengus kesal mendengar ledekan saudaranya itu, tapi tak meladeninya.
"Jangan sampai kau jadi perjaka tua." ujar Frans.
"Itupun kalau dia masih perjaka." ledek Prince lagi sambil tertawa-tawa.
"Memangnya aku seperti kau? Hobinya celap celup." balas Kaisar tak mau kalah.
Tawa Prince sontak hilang, wajahnya mendadak masam. "Jangan ungkit masa lalu!"
"Makanya berhenti meledekku!" sahut Kaisar.
"Ssstt, kalian ini! Bisa tidak damai sebentar saja? Ini rumah sakit, jangan buat keributan." Ujar Kenedy.
"Mereka memang seperti Tom and Jerry." Frans menimpali.
Tiba-tiba ponsel Kaisar bergetar, dia bergegas mengambil benda pipih itu dari dalam saku celananya dan tersenyum saat melihat ID si penelepon.
"Halo, kau menelepon tepat waktu."
"Ke Capitano Club sekarang ya."
"Siap, dengan senang hati."
Kaisar tersenyum-senyum setelah mengakhiri panggilan itu, seperti mendapatkan dewa penyelamat yang meloloskan nya dalam situasi menyebalkan ini.
"Aku pergi dulu, ada janji sama teman." ucap Kaisar.
"Kau mau melarikan diri ya?" tuduh Prince.
"Kenapa tidak kalau ada kesempatan." Kaisar bergegas pergi tanpa menunggu persetujuan siapapun.
Semua orang geleng-geleng kepala melihat tingkah lelaki itu, semakin hari kelakuannya semakin aneh. Sejak mengetahui fakta tentang Prince, Kaisar berubah menjadi sosok yang lebih ceria namun menyebalkan untuk sebagian orang, terutama untuk Prince.
Semua itu sebenarnya demi menutupi rasa bersalahnya karena pernah membuat saudaranya itu nyaris meregang nyawa, Kaisar hanya ingin merubah situasi agar jadi lebih baik untuk menebus semuanya.
__ADS_1
***
💜 SELESAI 💜