Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 26


__ADS_3

Keesokan harinya, Prince sudah lebih tiba di kantor Tuan Luis. Dia juga sudah menyerahkan proposal perwakilan Emperor, dan Tuan Luis puas setelah membaca proposal promosi Prince, dia bahkan langsung memujinya.


Disaat bersamaan, sekretarisnya menyampaikan jika perwakilan dari Kingdom sudah datang, dan Tuan Luis segera menyuruhnya masuk. Prince sudah tak sabar ingin bertemu Queen dan mengembalikan ponselnya.


"Selamat pagi, Tuan Luis." Jovan yang baru masuk memberi salam. Prince segera menoleh ke Jovan, tapi dia tak menemukan sosok Queen.


"Selamat pagi. Loh, kemana Nona Queen? Apa dia tidak datang?" Tanya Tuan Luis.


"Maaf, Tuan. Nona Queen tidak bisa hadir karena kurang enak badan, jadi saya yang mewakilinya." Jawab Jovan. Prince mendadak tak bersemangat.


"Oh. Ya sudah, tidak apa-apa. Mana proposal nya?"


"Ini, Tuan." Jovan menyodorkan proposal perwakilan Kingdom yang dia buat.


Tuan Luis membaca proposal itu dengan seksama dan tersenyum penuh arti.


"Baiklah, saya akan memberi kabar nanti. Terimakasih banyak." Ucap Tuan Luis.


Jovan dan Prince pun pamit undur diri. Kedua lelaki itu meninggalkan ruangan Tuan Luis. Tapi baru beberapa langkah, Prince menahan Jovan.


"Dimana kalian menginap?" Tanya Prince tanpa basa-basi.


"Kenapa? Kau ingin menemui Queen?" Jovan balik bertanya.


"Jawab saja pertanyaan ku." Pinta Prince tegas.


"Kalaupun aku katakan dimana kami menginap, kau tetap tidak akan menemukannya."


"Apa maksudmu?" Prince menautkan kedua alisnya.


"Queen tidak ada." Jawab Jovan.

__ADS_1


"Tidak ada bagaimana? Bicara yang jelas!" Bentak Prince.


"Dia sudah pulang."


"Kau jangan membohongiku!" Prince mencengkeram kerah kemeja Jovan.


"Terserah kalau kau tidak percaya! Yang pasti semua ini karena kau. Kau sudah menyakiti nya."


Prince sontak terdiam, rasa bersalah kembali menyerang dirinya. Dia kemudian melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja Jovan dan berlalu pergi tanpa bicara apapun.


"Sepertinya permainan ini semakin menarik." Sinis Jovan.


***


Queen tidak pergi ke kantor, dia menemui Mitha di cafe nya dan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Prince. Mitha benar-benar prihatin melihat nasib sahabatnya itu.


"Jadi Prince membuang ponselmu?"


"Iya, dia benar-benar sudah gila. Makanya aku ingin mengakhiri semua ini." Sahut Queen.


"Entah lah, Mit. Aku juga tidak tahu." Jawab Queen.


"Aku rasa dia tidak akan berhenti begitu saja."


"Dosa apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki seperti dia?" Ucap Queen frustasi.


"Kau yang sabar ya, Queen." Mitha berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mit? Semakin aku mengusirnya dari hidupku, kenapa dia malah semakin dekat? Dan semakin dekat dengannya, membuatku semakin terluka." Queen berbicara sambil terisak-isak.


"Apa kau ingin aku bicara kepadanya?"

__ADS_1


"Tidak perlu! Lebih baik biarkan saja seperti ini. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dan menjauh darinya." Sahut Queen.


"Tapi bagaimana jika kau tidak bisa menghindarinya?"


"Jika aku tidak bisa menghindarinya, maka aku akan menghadapinya. Akan ku buat dia menjauh sendiri dariku." Ucap Queen yakin.


"Apapun itu, tetaplah berhati-hati. Kau tidak boleh ceroboh lagi. Aku akan selalu mendukungmu." Balas Mitha yang langsung memeluk Queen.


Queen benar-benar merasa terluka sejak bertemu dengan Prince, bahkan dia sampai melupakan luka karena perselingkuhan Jovan. Tanpa dia sadari Prince juga terluka karenanya.


"Oh iya, kemarin aku bertemu Si Mak lampir Elsa di Emperor." Mitha tiba-tiba membuka cerita. Queen sontak menarik diri dan memandang lekat wajah Mitha.


"Mau apa kau ke Emperor?"


"Kebetulan mereka memesan camilan dari cafe ku untuk acara anniversary Emperor. Maaf ya, Queen. Aku terpaksa menerima tawaran ini karena mereka mendapat rekomendasi dari Papaku, aku tak ingin mengecewakan Papa dengan menolak tawaran ini." Mitha merasa tak enak hati karena menjalin kerjasama dengan rival perusahaan sahabatnya itu.


"Hey, kenapa harus minta maaf? Itu hak mu. Persaingan Kingdom dan Emperor tidak ada hubungannya dengan cafe mu, kau bisa menjalin kerja sama dengan siapa pun." Ucap Queen bijaksana. "Oh iya, tadi kau bilang bertemu Elsa disana? Memangnya apa yang dia lakukan?" Tanya Queen.


"Iya. Ternyata dia pacaran dengan CEO Emperor, Rafael Surendra." Jawab Mitha.


"Apa? Bukankah dia pacaran dengan Jovan? Apa mereka sudah putus? Atau benar kata Jovan, dia hanya di jebak oleh Elsa?"


"Itu yang membuatku penasaran. Saat aku menyinggung tentang Jovan, dia mencoba menyangkalnya. Aku rasa ada yang tidak beres selama ini." Mitha coba menerka-nerka.


"Hmmmm ... aku jadi curiga, apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan pencurian informasi tender milik Emperor? Jovan dan Elsa sekongkol mencuri informasi dari Rafael."


"Bisa jadi! Kita harus menyelidikinya. Kalau kita bisa membuktikan jika bukan kau yang mencuri informasi dari Emperor, pasti Prince akan berhenti mengganggumu." Ujar Mitha.


"Iya kau benar. Kita harus menyusun rencana untuk mengungkap kasus ini agar aku segera terbebas dari Pangeran iblis itu." Balas Mitha. Seketika dia melupakan sejenak kesedihan hatinya karena sikap Prince.


"Sepertinya kalian sedang mengobrol serius? Apa aku mengganggu?" Seseorang tiba-tiba bertanya, mengagetkan Queen dan juga Mitha.

__ADS_1


Kedua wanita cantik itu sontak menoleh kearahnya.


***


__ADS_2