
Frans, Rossana dan Laura sudah datang, Kenedy dan Sandra menyambut mereka dengan ramah.
"Wah, selamat datang calon besan." sapa Kenedy. Semua orang tertawa mendengar sapaannya.
"Loh, Kai mana? Kok tidak ikut?" Sandra celingukan mencari sosok Kaisar yang tak terlihat datang bersama mereka.
"Dia masih ada urusan. Katanya akan sedikit terlambat." jawab Frans.
"Oh. Kalau begitu, mari langsung saja ke ruang makan. Aku sudah lapar ini." ucap Kenedy sembari menggiring keluarga Mahaprana ke meja makan.
Mereka berlima sudah duduk di kursi masing-masing, dimeja makan sudah terhidang nasi dan berbagai macam lauk pauk yang menggugah selera.
"Queen mana?" tanya Rosana.
"Masih di kamar. Maklumlah perempuan." sahut Sandra sambil tertawa.
"Iya, perempuan ini kalau sudah berdandan, ngalahin macet di tengah kota, lama banget." ledek Kenedy.
"Benar, kadang sampai bosan menunggunya. Padahal wajahnya gitu-gitu aja." sambut Frans.
"Ish, kok pada jelek-jelekin perempuan sih? Kita itu dandan untuk kalian juga tahu!" sungut Sandra.
"Entar kalau kita jelek, kan kalian juga yang malu." sela Rossana.
"Iya, deh, iya. Kami kan cuma bercanda." balas Kenedy. Sementara Frans terkekeh-kekeh.
"Sudah-sudah! Ayo makan! Jangan ribut di depan makanan!" tukas Laura menengahi.
__ADS_1
Di saat bersamaan, Queen dan Mitha turun lalu berjalan mendekati meja makan. Semua orang terpesona dengan kecantikannya malam ini, dia mengenakan gaun maroon yang seksi, memamerkan dada dan pundaknya. Ditambah lagi kalung cantik pemberian Chaiyya kini menghiasi leher jenjangnya, membuat dia terlihat bercahaya.
"Eh, yang ditunggu-tunggu sudah datang. Queen .... Mitha, mari sini!" ujar Sandra.
Kedua sahabat itu duduk di kursi yang tersedia untuk mereka, Queen hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya sambil menahan mual karena menghirup aroma makanan di hadapannya. Selain tidak nyaman dan mual, dia juga merasa risih karena keluarga Mahaprana tak berhenti memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayo, silakan." ujar Sandra, suaranya berhasil menyentak kan semua orang.
"Iya."
Akhirnya kedua keluarga itu memulai makan malam sambil sesekali mengobrol tentang pekerjaan dan segala hal. Sementara Queen hanya diam membisu, dia hanya mengaduk-aduk makanannya karena tak berselera.
***
Rafael memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, hari sudah gelap, tapi dia masih berada di jalan. Berulang kali dia menghembuskan nafas berat, dia benar-benar lelah, karena sejak Prince tidak ada, otomatis semua pekerjaan mau tak mau dia tanganin sendiri tanpa bantuan bawahannya itu.
Tiiiiiiinn ... tiiiiiiinn ....
Rafael membunyikan klakson dengan tidak sabar demi melihat antrian panjang kendaraan di depannya.
"Cckk, pakai acara macet segala lagi!" gerutu Rafael.
Dia lantas membuka kaca jendela mobilnya, dan bertanya pada beberapa orang yang sedang melintas di samping mobilnya.
"Di depan ada apa, Pak?" tanya Rafael.
"Katanya ada mayat tergeletak di pinggir jalan."
__ADS_1
"Mayat?" Rafael mengerutkan keningnya.
"Iya, mayat laki-laki. Kayaknya habis dipukuli. Mungkin korban pembunuhan atau pengeroyokan."
"Oh. Ya sudah, terima kasih ya, Pak?"
"Sama-sama, Mas."
Rafael menyandarkan badannya dan kembali menghembuskan nafas panjang, mau tak mau dia harus sabar menunggu macet ini berakhir. Tapi dia berubah pikiran, mendadak rasa penasaran menggelayuti nya. Rafael memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan kearah TKP, dia memaksa untuk bisa melihat seperti apa mayat yang dikatakan lelaki tadi.
"Maaf, permisi." Rafael membelah kerumunan orang-orang yang saling berbisik satu sama lain.
"Masih muda, ya? Kasihan."
"Masih hidup atau sudah mati?"
"Kayaknya sudah mati."
"Pasti korban pembunuhan."
"Apa tidak ada identitasnya?"
Dengan susah payah dan saling berdesakan, akhirnya Rafael bisa melihat sosok seseorang yang tergeletak dengan penuh luka. Dua orang polisi sedang menyiapkan kantong jenazah dan seorang lagi sedang memasang garis polisi.
"Ya Tuhan!" pekik Rafael. Disaat bersamaan, ponselnya berdering dan dia buru-buru menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Steven.
***
__ADS_1