
Mitha memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali dia nyaris bersenggolan dengan kendaraan lain, bahkan beberapa orang terdengar berteriak memakinya. Sementara Rafael berusaha menenangkan gadis tomboi itu dengan wajah yang tegang karena ketakutan.
"Pelan-pelan saja! Berbahaya. Kita bisa kecelakaan." ujar Rafael memperingatkan. Tapi Mitha tak menggubrisnya.
"Berengsek!" Mitha memaki sambil mencengkram kuat kemudinya.
Lima belas menit kemudian, mereka pun tiba di pelataran parkir di depan kafe, Mitha buru-buru turun dan berlari membelah kerumunan orang yang sedang menyaksikan kafenya dilahap si jago merah. Mitha mencoba mendekat.
Rafael pun bergegas menyusul wanita tomboi itu dan berusaha menahannya. "Mitha jangan ke sana! Berbahaya!"
"Kafeku!" ujar Mitha sedih. Dia menatap nanar gedung bergaya Eropa yang kini diselimuti kobaran api yang membara, langit pun menjadi sangat terang malam itu.
Tiga pemadam kebakaran tampak sedang menyemprotkan air untuk memadamkan api. Tapi angin yang kencang membuat api kian membesar.
"Mbak Mitha." Rena berlari dan memeluknya. Beberapa karyawan yang lain juga datang mengerumuni nya.
Mitha menjauhkan dirinya dari Rena, dan memandang karyawannya itu dengan penuh selidik. "Bagaimana ini bisa terjadi?"
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, Mbak. Tiba-tiba api sudah membesar dari belakang kafe di saat kami sedang membereskan serpihan-serpihan kaca jendela yang pecah. Karena panik, kami semua langsung berhamburan keluar. Sempat ada ledakan juga, mungkin dari tabung gas elpiji." ungkap Rena dengan suara yang gemetar.
"Biadab! Ini pasti ulah mereka!" geram Mitha dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal.
Sedangkan Rafael mencoba menenangkannya. "Tenanglah!"
***
James berulang kali mengembuskan napasnya, hatinya mulai gusar, dia benar-benar tak tahu harus mencari Prince ke mana lagi?
"Kita harus mencarinya ke mana lagi, James?" tanya Chaiyya putus asa.
"Entahlah, Tante. Aku juga bingung." jawab James frustasi.
"Oh, Prince ... anakku. Ke mana kau, Nak? Kenapa kau menghilang begini?" ucap Chaiyya lirih. James hanya memandang Ibu dari sahabatnya itu dengan tatapan iba.
Tadi siang Chaiyya sudah menanyakan perihal sang putra kepada Steven, tapi mendengar jawaban dari mantan majikannya itu jika Prince tidak masuk kerja selama dua hari, membuat Chaiyya mengambil kesimpulan jika anak semata wayangnya itu menghilang.
__ADS_1
"James, Tante takut terjadi sesuatu dengan Prince. Tante bisa mati kalau Prince sampai kenapa-kenapa." Chaiyya terisak-isak.
"Tenanglah, Tante. Kita berdoa saja, semoga Prince cepat ditemukan dan pulang dalam keadaan sehat. Aku akan terus membantu mencarinya."
"Terima kasih ya, James. Tante tak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa? Maaf, kalau Tante merepotkan." sahut Chaiyya.
"Tante tidak perlu membalas apa-apa. Aku ikhlas melakukan semua ini. Aku dan Prince itu sudah bersahabat sejak lama, sudah seharusnya kami saling membantu." balas James ikhlas.
Sementara itu di sebuah tempat, seorang lelaki sedang memerintah orang-orang suruhannya.
"Cari orang yang bernama Prince sampai ketemu, dan bawa kehadapan ku!" titahnya.
"Baik, Bos!" sahut tiga orang pria bertubuh tegap bersamaan.
"Sudah saatnya aku turun tangan, kau harus mendapatkan pelajaran atas apa yang telah kau lakukan." Lelaki itu menggeram sambil menonton adegan Prince mencium paksa Queen di parkiran Kingdom dari laptopnya.
***
__ADS_1