
Pistol yang diperebutkan oleh Prince dan Jovan tak sengaja tertembak kedinding gudang, untung tak mengenai Queen atau siapapun. Dan rebutan pistol itu masih berlanjut, hingga akhirnya berhasil jatuh ke tangan Jovan lagi, tapi Prince dengan cepat menerjangnya. Jovan pun jatuh terduduk, sementara pistolnya terlempar tepat di dekat kaki Queen.
Tak ingin buang-buang waktu, Prince pun menghajar Jovan, tapi laki-laki licik itu berusaha membalasnya. Pertikaian dan baku hantam tak dapat dielakkan, keduanya saling pukul dan bergumul di lantai gudang yang kotor. Tanpa Prince sadari, sesuatu terjatuh dari dalam saku celananya.
"Berhenti!!!" teriak Queen yang sudah menodongkan pistol kearah Jovan dan Prince dengan tangan gemetaran.
"Queen!" pekik Prince dan Jovan dengan wajah tegang.
"Berhenti atau aku tembak!" ancam Queen.
"Queen, turunkan pistolnya!" Jovan memohon.
Queen menggeleng. "Biarkan kami pergi dari sini!"
Queen memberi kode kepada Prince dengan lirikan matanya, syukurnya Prince mengerti maksud wanita itu dan segera beranjak mendekatinya, meninggalkan Jovan yang masih memandangi mereka dengan wajah babak belur. Queen segera memberikan pistol itu kepada Prince yang kembali mengarahkannya ke Jovan.
"Mau tahu rasanya senjata makan tuan?" tanya Prince dengan seringai khasnya.
"Jangan! Aku mohon jangan! Aku akan membiarkan kalian pergi, tapi jangan tembak aku." Jovan memohon dengan lutut gemetaran. Jelas saja, dia masih ingin hidup.
Prince menarik pelatuk pistolnya membuat Jovan semakin ketakutan, tapi sesuatu dibelakang kedua orang itu membuat fokus mata Jovan teralihkan. Prince yang menyadari perubahan sorot mata mantan karyawan Kingdom itu sontak berbalik dan langsung menembak kaki anak buah Jovan yang sempat dia lumpuhkan tadi. Ternyata lelaki yang baru sadar itu hendak memukul Prince dari belakang,
"Aaarrggh ...." Anak buah Jovan itu langsung tersungkur ke lantai sambil memegangi kakinya yang ditembus peluru.
"Kau berikutnya." Prince kembali mengarahkan pistolnya ke Jovan lagi. Sementara Queen yang terkejut dengan tindakan cepat Prince itu hanya melongo, dia tak menyangka lelaki rupawan itu tega menembak orang lain
"Jangan! Jangan! Aku mohon lepaskan aku!"
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini." pinta Queen yang gemetaran sambil memegang lengan Prince.
"Kau beruntung hari ini, aku masih memberimu kesempatan untuk melihat matahari. Tapi jika kau melakukan hal ini lagi, aku bersumpah akan mengirim mu ke neraka." ucap Prince penuh ancaman dan kemudian menarik Queen pergi dari tempat itu, meninggalkan Jovan yang masih memandangnya dengan tatapan licik.
"Tidak semudah itu!" batin Jovan.
__ADS_1
Rupanya Jovan belum ingin menyerah dan membiarkan mangsanya melenggang pergi begitu saja, diam-diam dia mengambil sebuah kayu yang tergeletak di dekatnya tanpa sepengetahuan Queen ataupun Prince, lalu menghantamkannya ke kepala belakang Prince.
Prince langsung ambruk dan tersungkur ke tanah karena mendapatkan serangan mendadak itu, dan pistol yang dia pegang terlempar jauh dari mereka. Jovan memanfaatkan situasi ini dengan berlari kearah pistol itu, Queen yang menyadarinya segera membantu Prince berdiri.
"Kau tidak apa-apa? Ayo, kita harus secepatnya kabur!"
Prince tak menjawab pertanyaan Queen itu, dengan susah payah dia berusaha berdiri sambil meringis dan memegangi kepala belakangnya yang berdenyut. Kepalanya pusing.
Keduanya bergegas lari dan bersembunyi di balik tumpukan kayu yang sudah dipenuhi tumbuhan liar, sementara Jovan masih sibuk memungut pistol yang terlempar tadi dan tak sempat melihat kemana mereka pergi.
"Kalian pikir semudah itu bisa kabur, haa ....?" teriak Jovan yang kini sudah memegang pistol. "Aku akan mengirim kalian ke neraka sekarang juga." Jovan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan dua insan itu. Bukan perkara mudah menemukan mereka diantara belasan tumpukan kayu lapuk dan berlumut yang menjulang tinggi.
"Bagaimana ini? Aku takut sekali." bisik Queen panik.
"Tenanglah. Aku akan melindungi mu."
Prince mencoba mengintip dari celah-celah kayu yang melindungi mereka dari pandangan Jovan, terlihat lelaki kurang ajar itu sedang celingukan mencari-cari keberadaan mereka. Seketika Prince mendapatkan ide cemerlang dan segera membisikkannya kepada Queen.
"Aku akan mengecoh nya dengan melemparkan sesuatu ke semak-semak itu, saat perhatiannya teralihkan, kita harus segera berlari kesana," ucap Prince dengan nada memerintah sembari menunjuk ke arah tempat dia memarkirkan mobilnya.
Prince kemudian menjalankan rencananya, dia melihat situasi terlebih dahulu, saat Jovan membelakangi mereka, dia langsung melemparkan sebatang kayu ke arah semak-semak belukar yang berlawanan arah dari tempat mereka bersembunyi. Jovan langsung mengalihkan pandangannya ke arah semak-semak itu dan ....
Doooorrr ... doooorrr ....
Saat Jovan sibuk menembakkan pelurunya ke semak-semak itu, Queen dan Prince segera berlari menuju mobil Range Rover hitam yang terparkir gagah tak jauh dari mereka bersembunyi. Tapi apes, Jovan menyadari keberadaan mereka dan langsung memuntahkan pelurunya lagi.
Doooorrr ....
"Aaaaahhh ...." Queen memekik sembari menutup kedua telinganya dengan tangan.
Untung saja mereka tiba di dekat mobil Prince tepat waktu dan langsung merunduk agar tidak terkena tembakan. Prince merogoh sakunya untuk mengambil kunci mobil, tapi benda yang dia cari tak dapat ditemukan.
"Kemana kunci kontaknya?" Prince merogoh semua sakunya dengan wajah panik.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Queen cemas.
"Kuncinya hilang."
"Haaa ... apa?"
"Aku akan menghabisi kalian!" tiba-tiba suara Jovan semakin mendekat, membuat Prince dan Queen semakin panik.
"Kita harus lari dari sini!" Prince sontak menarik Queen memasuki hutan. Jelas itu pilihan terbaik, paling tidak Jovan akan kesulitan menemukan mereka diantara pepohonan besar nan rimbun dan semak belukar di dalam hutan, daripada mereka berlari ke jalanan yang sangat sepi. Tak akan ada yang bisa menyelamatkan mereka, karena jalanan dipinggir hutan ini jarang dilalui orang.
"Kalian harus membayar semuanya!" teriak Jovan saat melihat Prince dan Queen, dia ingin menembak mereka, tapi pelurunya habis. "Cckk, sial!"
Sementara Prince dan Queen terus berlari semakin masuk ke dalam hutan.
"Ada apa, Bos?" Anak buah Jovan yang satunya lagi baru datang dan segera menghampirinya karena mendengar teriakkan Bosnya itu.
"Dari mana saja kau? Kenapa lama sekali?" Jovan menepuk kepala lelaki berambut gondrong itu.
"Maaf, Bos. Mobilnya mogok, ada yang rusak karena kecelakaan tadi."
"Mereka jadi kabur!"
"Kabur, Bos?"
"Iya, mereka lari ke dalam hutan."
"Kalau begitu, ayo kita kejar, Bos!" Anak buah Jovan itu sudah hampir berlari masuk ke hutan, tapi Jovan menahannya.
"Kau gila ya? Hutan ini banyak hewan buasnya, kau mau mati dimakan harimau?"
"Haa, jadi kita akan biarkan mereka?"
"Hmmm, paling mereka akan mati di dalam sana. Jadi aku tak perlu mengotori tanganku." ucap Jovan sinis.
__ADS_1
***