
Prince melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar Jovan tidak bisa mengejarnya, dan benar, dia sama sekali tak melihat mobil Jovan mengikutinya.
"Apa mau mu? Kau mau bawa aku ke mana, haa ...?" Tanya Queen bingung.
"Kenapa? Takut? Cepat sekali kau takut? Aku masih senang memainkan permainan ini."
"Hentikan mobilnya sekarang juga! Atau aku akan melompat!" Ancam Queen.
Prince tak menggubrisnya dan tetap melajukan mobilnya. Queen yang kesal akhirnya membuka pintu mobil, hal itu sontak membuat Prince panik.
"Hey, apa yang kau lakukan?"
"Aku akan melompat jika kau tidak menghentikan mobilnya!" Queen hendak melompat.
"Ok, aku berhenti!" Prince segera menepi dan menghentikan mobilnya.
Queen bergegas turun dan Prince menyusulnya.
"Aku akan lapor polisi, karena kau telah mencoba menculik ku." Queen mengambil ponselnya dari dalam tas tapi Prince merampas ponsel itu dan membuangnya.
"Apa yang kau lakukan tadi itu berbahaya! Bagaimana kalau kau terjatuh dan tertabrak mobil sampai mati?" Prince mengomeli Queen karena kesal sekaligus cemas dengan aksi nekadnya tadi.
"Aku juga tak sudi mati hanya karena lelaki jahat seperti mu." Sahut Queen dan segera berlari menyeberangi jalanan dengan tidak hati-hati.
Sebuah mobil melaju kencang kearahnya, Prince yang melihatnya dengan cepat mendorong Queen ke tepi jalan. Mereka berdua terjatuh di trotoar dengan posisi berpelukan.
__ADS_1
"Kau benar-benar ingin tertabrak mobil sampai mati ya?" Prince membentak Queen.
"Lepaskan aku!" Queen mendorong tubuh Prince.
"Tidak akan! Kalau kau ingin mati, takkan ku biarkan kau mati tertabrak. Karena aku yang akan menghancurkan mu."
"Lepaskan aku!!!" Queen kembali mendorong Prince dan kali ini lelaki itu menurut. Dia melepaskan pelukannya dan beranjak dari sisi Queen.
Dengan susah payah Queen bangkit karena pinggangnya agak sakit, mungkin karena terbentur trotoar. Prince ingin membantunya tapi Queen menolak dengan menepis tangan Prince.
"Dasar lelaki gila! Aku sangat membencimu!" Queen berbicara dengan sorot mata yang tajam.
Bukannya membalas ucapan Queen, Prince justru memeluknya dengan paksa, mengabaikan pandangan pengendara lain yang melintas.
Queen memberontak dan mendorong kuat Prince sehingga pelukannya terlepas. Dan ...
Satu tamparan mendarat di pipi Prince.
"Kenapa kau lakukan semua ini kepadaku?" Tanya Queen emosi.
"Lalu kau sendiri, kenapa kau membuatku berharap kepadamu? Menjadi orang bodoh yang kau tipu selama ini. Kau sudah terlalu banyak menghina perasaan ku, jadi kau pantas mendapatkan semua ini." Balas Prince dan langsung mencium bibir Queen.
Queen kembali memberontak dan mendorongnya, tapi Prince tak mau melepaskannya. Dia terus ******* bibir Queen, walaupun wanita itu tak membalasnya dan terus meronta-ronta, setelah puas barulah Prince melepaskannya.
"Sudah puas?" Tanya Queen lirih. Air mata wanita itu jatuh menetes. Prince merasa bersalah karena melihat Queen menangis.
__ADS_1
"Aku benar-benar lelah. Sejak aku bertemu denganmu, hidupku sangat melelahkan. Permainanmu, kau sudah memenangkannya. Aku mengaku kalah. Karena itu, mari kita akhiri semuanya sampai disini dan jangan menggangguku lagi!" Queen berbicara sambil terisak-isak dan segera pergi meninggalkan Prince yang semakin merasa bersalah.
"Queen ..." Prince memanggilnya, tapi wanita itu tak menggubrisnya dan segera menyetop taksi.
"Aku ingin membalasnya dan sudah ku lakukan. Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasa senang? Justru aku merasa sakit saat melihat dia menangis. Maafkan aku, Queen." Ucap Prince lirih.
Prince pun kembali ke mobilnya, tapi dia melihat ponsel Queen yang dia buang tadi tergeletak di dekat mobilnya. Prince memungut ponsel itu dan segera pergi.
***
Queen kembali ke resort yang dia sewa, Jovan sudah menunggunya disana. Lelaki itu sontak kaget saat melihat Queen datang dengan pakaian yang kotor.
"Queen, apa yang terjadi? Kenapa pakaianmu kotor?" Tanya Jovan cemas, atau lebih tepatnya pura-pura cemas.
"Aku tidak apa-apa. Aku minta tolong, buatkan proposal untuk proyek Tuan Luis, tawarkan harga yang sudah kita sepakati. Aku ingin istirahat sebentar." Pinta Queen. Kali ini dia akan berdamai dengan Jovan, karena dia sedang membutuhkan bantuan lelaki itu.
"Baiklah, aku akan membuatnya. Kau beristirahatlah! Jika butuh apa-apa, segera kabari aku." Jovan sok perhatian.
"Hmmm ... terimakasih." Balas Queen dan segera melanjutkan langkah menuju kamarnya. Dia belum sadar jika ponselnya hilang.
Jovan hanya memandangi kepergian Queen dengan seringai liciknya.
Sementara Prince sedang bingung mencari tahu tempat Queen menginap. Dia mencoba membuka ponsel Queen, tapi tidak bisa karena tidak tahu sandinya.
"Aku harus mencarinya kemana? Atau aku tunggu saja sampai besok, dia pasti datang menemui Tuan Luis." Ucap Prince.
__ADS_1
***