
Prince dan Channa akhirnya pulang dengan wajah lelah, dari hutan mereka harus berjalan cukup jauh menuju rumah Pak Rahman yang tak lain adalah juragan jengkol sekaligus orang paling kaya di kampung itu untuk meminjam mobilnya. Tapi nasib mereka lagi apes karena mobil Pak Rahman sedang rusak, mau tak mau mereka harus menunggu mobil itu diperbaiki.
"Yeeee, akhirnya pulang juga!" seru Mutia girang saat melihat kedatangan Prince.
"Eh, ada Mutia." sapa Channa.
"Iya, Pak. Tadi aku datang membawakan makanan untuk Pak Channa dan juga Kak Prince." jawab Mutia tersipu-sipu malu.
"Wah, terima kasih banyak, ya."
"Iya, Pak Channa."
Chandara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu, sembari beranjak ke dapur untuk mengambilkan minum. Sementara Queen hanya memandang sinis kearah Mutia.
Melihat Queen, Prince langsung berjalan mendekatinya, mengabaikan Mutia yang salah tingkah sendiri.
"Kau sudah sarapan?" tanya Prince.
"Belum."
"Kenapa? Apa kau demam lagi?" wajah Prince berubah cemas. Mutia yang melihat adegan itu merasa tak suka.
"Mbak Queen tidak mau makan, Kak. Katanya mual." sahut Chandara yang muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi air minum.
"Kau harus makan. Bagaimana kalau kau sampai kurang gizi dan sakit? Dia juga butuh nutrisi. Ingat, kau tidak sendiri." Prince mengomel seperti emak-emak. Dan Mutia sedikit bingung dengan ucapan Prince itu.
__ADS_1
Queen sempat melirik Mutia yang memandangi interaksi mereka, dan seketika timbul ide jahil di kepalanya. Entah mengapa dia bisa berkelakuan impulsif begitu.
"Aku mual." rengek Queen manja.
"Tapi kau harus paksakan untuk makan."
Queen menggeleng dengan wajah yang cemberut. "Tidak mau."
"Aku suap ya?" bujuk Prince. Dan itulah yang Queen tunggu-tunggu, Prince menyuapinya makan.
"Chandara, bisa tolong ambilkan makanan untuk Queen?" Prince beralih memandang Chandara yang duduk di samping Mutia.
"Iya, Kak." Chandara kembali beranjak ke dapur untuk mengambilkan makanan.
Beberapa saat kemudian, gadis mungil itu kembali lagi dengan seporsi nasi beserta lauknya dan segelas air putih. "Ini, Kak "
Queen sudah mewanti-wanti takut perutnya mual lagi, tapi sungguh diluar dugaan, dia sama sekali tak merasakan mual seperti sebelumnya. Aneh sekali.
"Ayo makan!" pinta Prince yang menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya ke depan mulut Queen, dan wanita yang sedang hamil muda itu memakannya dengan lahap karena dia memang lapar.
"Sepertinya mual-mual mu sudah hilang."
"Hem, padahal tadi mencium aromanya saja sudah membuat perutku seperti dikocok kocok, tapi sekarang sama sekali tidak." Queen mengernyit heran.
"Kalau begitu makan yang banyak." Prince kembali menyuapi Queen dengan senang hati.
__ADS_1
Dan wajah Mutia benar-benar masam melihat kedekatan mereka, Prince begitu perhatian kepada Queen.
"Masa sih cuma teman? Teman tapi mesra." gerutu Mutia dalam hati.
Chandara yang menyadari wajah masam Mutia pun usil meledek sahabatnya itu. "Jangan baper! Entar susah move on loh."
"Dara apaan sih?!" sungut Mutia.
"Aku sudah kenyang." Queen menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Sedikit lagi."
"Tidak. Aku mau istirahat di kamar saja." Queen pun beranjak dari duduknya. "Aaaaawww ...." tiba-tiba wanita cantik itu memekik kesakitan.
"Kau kenapa?" tanya Prince cemas.
"Kakiku sakit sekali. Aku tidak bisa berjalan." rengek Queen. Prince sedikit heran melihat perubahan sikap wanita itu, kenapa mendadak dia menjadi manja sekali?
"Sebaiknya kau gendong saja, Prince." pinta Channa yang juga ikut cemas.
Tanpa permisi, Prince langsung menggendong Queen ala bridal style dan Queen mengalungkan kedua lengannya di leher lelaki bertubuh atletis itu. Seketika degup jantungnya bertalu-talu. Keduanya pun masuk ke kamar, meninggalkan Mutia yang semakin panas karena terbakar api cemburu dadakan.
"Hareudang ... hareudang, panas ... panas ... panas ...." Chandara bernyanyi mengejek Mutia.
"Aku pulang saja, deh! Permisi!" Mutia beranjak dan pulang dengan wajah yang cemberut.
__ADS_1
Queen yang mendengar hal itu pun tersenyum penuh kemenangan, rencananya berhasil membuat gadis centil itu meradang.
***