
Karena Prince tidak ada di kantor, Rafael jadi menangani pekerjaannya sendiri. Seharian ini dia sibuk mengikuti rapat yang dia sendiri tak begitu paham bahkan puluhan panggilan masuk dari Elsa pun dia abaikan.
Rafael baru saja pulang dari rapat bersama klien, tapi tak sengaja dia berpapasan dengan Mitha yang baru saja keluar dari Emperor. Hari ini Mitha membawa contoh camilan yang akan dia buat di acara anniversary Emperor nanti.
"Ternyata kau datang juga. Pasti kau ingin meminta uang kompensasi kan? Berapa? Katakan saja!" Ucap Rafael sombong.
"Kau sesumbar dengan kekayaanmu. Kau pikir hanya kau seorang yang kaya di dunia ini? Masalah kompensasi, tidak perlu! Aku juga kaya, aku mampu bayar sendiri." Balas Mitha tak mau kalah.
"Oh ya? Jadi untuk apa kau kesini? Kau bukan karyawan disini, jadi kau pasti ada alasan keluar masuk perusahaan ku. Atau jangan-jangan kau penggemar ku ya?"
"Ciihh ... dasar tidak tahu malu! Asal kau tahu ya, lelaki angkuh sepertimu bukan tipeku." Cibir Mitha.
"Wah ... sombong sekali kau! Kalau begitu pergi dari sini, aku tidak suka melihat mu berkeliaran di perusahaanku." Sungut Rafael sembari mengusir Mitha.
"Tapi sayangnya aku pasti datang lagi ke sini. Bye ..." Mitha berlalu dari hadapan Rafael.
Namun disaat bersamaan, Elsa datang hendak menemui Rafael. Mitha yang melihat wanita itu langsung sinis.
"Kau ...?" Elsa terkesiap melihat Mitha.
"Kenapa dunia ini kecil sekali sih? Sampai-sampai aku harus bertemu denganmu dimana-mana." Mitha memandang malas Elsa.
Rafael yang melihat mereka, segera menghampiri kedua wanita itu.
"Kau mengenal dia, Sayang?" Rafael bertanya kepada Elsa. Wanita jahat itu mendadak gugup.
__ADS_1
Mendengar Rafael memanggil Elsa sayang, Mitha sontak memandang mereka bergantian. "Kalian pacaran?"
"Iya, dia kekasihku." Jawab Rafael bangga. Sementara Elsa hanya terdiam.
"Wah ... wah ... bukankah dia selingkuhannya manajer marketing Kingdom? Kenapa sekarang jadi pacarnya CEO Emperor? Atau dia memakai dua-duanya kali ya?" Mitha sengaja menyindir Elsa. Rafael sontak memandang Elsa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tutup mulutmu! Jangan bicara sembarangan!" Bentak Elsa.
"Aku rasa kau tahu apa yang sedang aku bicarakan. Titip salam ya buat Jovan." Ledek Mitha dan segera pergi dengan senyum kemenangan.
"Iiiiiiihhh ... menyebalkan! Mau apa sih dia kesini?" Elsa menggeram.
"Benar apa yang dia katakan?" Tiba-tiba suara Rafael mengagetkan Elsa.
"Lalu siapa Jovan? Dan kenapa wanita tadi bisa bicara seperti itu?" Rafael memandang Elsa dengan tatapan selidik.
"Sayang, Jovan itu teman aku yang bekerja di Kingdom. Dia yang membantu kita, aku memang dekat dengannya, tapi hanya sebatas teman saja kok. Dan Mitha berpikir aku ada hubungan dengan Jovan. Dia selalu memfitnah ku, karena dia tidak suka kepadaku." Elsa beralasan. Dia berpura-pura sedih agar Rafael percaya.
Rafael terdiam, dia berusaha percaya dengan ucapan Elsa karena dia mencintainya, wanita yang sudah setahun belakangan ini menjadi kekasihnya.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan lagi." Rafael mengelus kepala Elsa dengan sayang. "Kenapa kau kesini?"
"Aku berusaha menghubungi mu seharian ini, tapi kau tidak menjawabnya. Makanya aku datang kesini. Aku merindukanmu." Jawab Elsa manja.
"Aku sangat sibuk, banyak rapat. Kalau begitu, mari ikut ke ruangan ku." Rafael menggandeng tangan Elsa, dan mengajak wanita itu ke ruangannya.
__ADS_1
Elsa merasa senang, karena dia berpikir Rafael percaya kepadanya dan tidak terprovokasi oleh Mitha.
***
Sore itu juga Queen memutuskan untuk pulang, dia benar-benar tak bersemangat menjalani proyek ini. Hatinya terlalu lemah untuk mendapatkan setiap hinaan dari Prince, dia tak ingin bertemu dengan lelaki itu lagi.
Queen keluar dari kamar sambil menyeret kopernya, Jovan yang kebetulan hendak menemuinya mendadak panik.
"Kau mau kemana?" Tanya Jovan.
"Aku mau pulang duluan. Tolong antarkan proposal nya kepada Tuan Luis besok, katakan aku sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa datang." Jawab Queen datar.
"Tapi kenapa terburu-buru? Tinggallah sampai besok! Setelah mengantarkan proposal itu, kita bisa segera pulang. Aku khawatir jika kau pulang sendiri." Ucap Jovan sok perduli.
"Tidak apa-apa. Aku mau pulang sekarang!" Queen bersikeras.
"Queen, sebenarnya ada apa? Kalau kau tidak nyaman disini, kita bisa cari resort lain. Atau kau ingin aku melakukan sesuatu?" Jovan berusaha menahan Queen dengan berpura-pura perhatian.
"Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya mau pulang. Sudahlah, aku pergi dulu. Jangan lupa proposal nya." Queen kembali menarik kopernya dan meninggalkan resort itu.
Jovan tak lagi menahannya, dia hanya memandangi kepergian Queen dengan perasaan kesal. Jika Queen pulang, itu berarti rencana Jovan gagal. Dia bermaksud merayu Queen agar mau kembali kepadanya. Dia bahkan sudah menyiapkan makan malam yang romantis untuk nanti malam, tapi semua berantakan.
"Sial!!! Ini pasti gara-gara si berengsek Prince itu. Aku yakin mereka ada hubungan spesial. Sepertinya aku harus menghancurkan mereka secara bersamaan." Ucap Jovan.
***
__ADS_1