Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 71.


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Chaiyya serta Channa, Queen dan Prince pun segera ke kantor polisi untuk melaporkan perbuatan Jovan.


"Jadi saudara Jovan dalang dari penculikan ini?" tanya seorang polisi bernama Anton setelah mendengarkan cerita Queen dan Prince.


"Iya, Pak. Untung saja dia menyelamatkan saya." jawab Queen sambil melirik Prince yang duduk disebelahnya.


"Dari awal saya sudah curiga dengan dia. Meskipun tim kami menemukan mobil saudara Prince di dekat mobil anda, tapi saya yakin bukan saudara Prince pelakunya. Sebab tersangka tidak mungkin meninggalkan bukti dan jejak dengan terang-terangan begitu. Dan ternyata benar. Baiklah, kami akan melakukan pengejaran kepada saudara Jovan." lanjut Anton.


"Terima kasih banyak ya, Pak. Kalau begitu apa sekarang saya boleh mengambil mobil saya?" Prince bertanya dengan hati-hati.


"Silahkan, saudara bisa meminta kunci mobilnya kepada rekan saya yang bernama Rudi."


***


Prince dan Queen sudah keluar dari kantor polisi dan berjalan menuju mobil Prince yang terparkir di depan gedung bercat coklat itu.


"Aku akan mengantarmu pulang dan meminta restu dari kedua orang tuamu." ujar Prince.


"Kau yakin sudah siap?"


"Harus siap!" ucap Prince semangat.

__ADS_1


"Queen!" mendadak suara Kenedy menusuk indera pendengaran Queen dan Prince. Kedua orang itu sontak berbalik dan mendapati Kenedy sudah berdiri dibelakang mereka dengan tatapan membunuh. Ternyata polisi yang bernama Rudi menghubungi Kenedy dan mengabarkan kedatangan Queen ke kantor polisi.


"Papa."


"Berani sekali kau membawa kabur putriku!" Dengan penuh emosi dan langkah yang lebar, Kenedy berjalan mendekati Prince lalu melayangkan pukulan tepat ke rahang bawahnya, membuat COO Emperor itu terhuyung dengan mata yang berkunang-kunang. Kenedy kembali mengangkat tangannya dan hendak memukul Prince lagi, tapi Queen menahannya.


"Papa! Jangan!" teriak Queen sembari berusaha menarik lengan Kenedy. Beberapa polisi yang melihat kejadian itu juga berusaha memegangi Kenedy.


"Tenang dulu, Pak. Ada apa ini?" tanya polisi yang bernama Yuda.


"Lepaskan aku! Aku akan menghajar bajingan ini!" Kenedy memberontak.


"Tapi, Queen? Aku harus bicara!"


"Pergilah! Ini bukan saatnya." desak Queen memperingatkan. Prince pun akhirnya pergi dari tempat itu dengan perasaan kecewa.


"Aku peringatkan kepadamu, jauhi putriku! Atau aku akan menghabisi mu!" Kenedy berteriak demi melihat mobil Prince berlalu pergi.


***


Selepas kepergian Prince, Queen langsung memprotes perlakuan Kenedy. Dia marah dan kecewa karena sang Ayah bersikap impulsif dan tidak bijaksana serta lebih mengutamakan emosi.

__ADS_1


"Mengapa Papa memukulnya? Dia tidak bersalah!" sungut Queen kesal.


"Dia memang pantas mendapatkannya karena sudah berani menculik mu."


"Bukan dia pelakunya! Bukan dia yang menculik ku, Pa!"


"Kalau bukan dia, lalu siapa?" tanya Kenedy dengan nada membentak.


"Jovan! Dia dalang dari semua ini dan Prince yang menyelamatkan aku. Kalau tidak mungkin aku sudah mati saat ini." jawab Queen.


Rahang Kenedy mengeras, dia benar-benar geram mendengar pengakuan sang putri. "Biadab kau Jovan."


"Papa sudah salah paham! Seharusnya Papa mengucapkan terima kasih kepada Prince, bukan malah memukulnya seperti tadi." sesal Queen.


Kenedy terdiam, tapi mendadak sesuatu mengusik hatinya. "Tapi tunggu! Bagaimana bisa dia tahu kau diculik dan menyelamatkan mu? Aku yakin sebenarnya dia bersekongkol dengan Jovan."


Queen tercengang mendengar tebakan Kenedy yang lebih terdengar seperti tuduhan, dia sendiri pun tak tahu bagaimana Prince bisa sampai ke pabrik kayu lama dan menyelamatkannya? Karena memang Prince tidak pernah mengatakannya, tapi dia yakin Prince tidak seperti yang sang ayah tuduhkan.


"Itu tidak benar!" bantah Queen. "Sudahlah, aku mau pulang!" Queen segera beranjak menuju mobil sedan mewah Kenedy yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.


***

__ADS_1


__ADS_2