Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 62.


__ADS_3

Mobil sedan hitam nan mewah itu melaju kencang menuju jalan raya, emosi Kenedy benar-benar memuncak saat ini, dia sampai mencengkeram kemudi dengan kuat.


"Hem, maaf Om. Prince itu siapa?" tanya Kaisar penasaran. Dia jelas tak mengenal lelaki berparas rupawan itu.


"Dia COO Emperor, tangan kanannya Steven Surendra. Sebelumnya dia selalu berusaha mengusik Queen, dia bahkan pernah datang ke Kingdom sambil marah-marah." jawab Kenedy.


"Memangnya ada masalah apa sampai dia datang marah-marah, Om?"


"Dia tak terima Kingdom mengalahkan Emperor dalam tender, dia mengklaim kami curang."


"Picik sekali dia? Dasar pecundang!" cibir Kaisar.


"Iya, dia pecundang yang paling menjijikkan. Aku bersumpah akan menghabisinya kalau sampai terjadi sesuatu dengan Queen."


Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di depan gedung Emperor. Kenedy segera masuk dengan langkah yang lebar, dia tak menghiraukan para karyawan yang memandangnya dengan penasaran, bahkan beberapa ada yang berbisik. Sedang Kaisar hanya mengekornya dari belakang.


"Tunjukkan di mana ruangan Steven!" pinta Kenedy pada seorang wanita berkacamata.


"Anda ada keperluan apa? Pak Steven sedang tidak bisa diganggu."

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" bentak Kenedy. "Cepat tunjukkan ruangan Steven! Atau aku hancurkan kantor ini." pinta Kenedy sekali lagi dengan nada mengancam.


"Maaf, Pak. Anda jangan membuat keributan. Saya bisa lapor polisi." wanita berkacamata itu memperingatkan.


"Om, tenanglah. Kita bisa terkena masalah karena membuat keributan di wilayah orang." ujar Kaisar.


"Aku tidak perduli!" salak Kenedy. "Cepat tunjukkan di mana ruangan Steven atau aku patahkan tanganmu?" ancam Kenedy sembari mencengkeram kuat lengan wanita itu.


"Aawww, ampun, Pak." wanita itu memekik kesakitan. "Iya ... iya, saya tunjukkan. Yang itu, Pak." wanita itu menunjukkan sebuah pintu tak jauh dari mereka berdiri."


Kenedy melepaskan cengkeramannya dan segera melangkah menuju pintu yang dimaksud wanita itu, dan dengan gerakan kasar, dia membukanya.


Steven dan Rafael yang sedang mengobrol pun terkejut dengan kemunculan Kenedy.


"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau dalang dari hilangnya putriku! Kau sengaja meminta karyawan emas mu itu untuk menculiknya, iya kan?" tuduh Kenedy dengan sorot mata yang menyalang.


"Kau ini bicara apa? Jangan sembarangan menuduhku! Aku tidak tahu apa-apa! Aku bahkan tidak tahu kalau putrimu hilang. Aku saja bingung ke mana Prince? Sudah dua hari ini dia tidak masuk." Steven membela diri.


Rafael terkejut bukan main mendengar kabar ini, seketika dia teringat Mitha. Iya, dia harus segera menemui wanita tomboi itu.

__ADS_1


"Alah! Omong kosong! Kau pasti berpura-pura. Kau sengaja melakukan semua ini untuk membalas ku. Kalau kau punya masalah denganku, jangan libatkan putriku! Dia tidak tahu apa-apa!"


"Kau sudah tidak waras. Keluar dari sini! Atau aku akan panggil polisi karena kau telah membuat keributan dan memfitnah aku." ancam Steven.


"Om, sudahlah. Ayo kita pergi dari sini." Kaisar mencoba menenangkan Kenedy.


"Cih! Dasar manusia sok suci! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan putriku, aku akan menghabisi kalian semua. Kau ingat itu!" sungut Kenedy dan segera pergi dari kantor Steven.


Begitu juga dengan Kaisar, dia mengikuti langkah calon mertuanya itu dengan hati yang berkecamuk memikirkan Queen.


"Apa benar orang yang bernama Prince itu yang menculiknya?" batin Kaisar.


Sementara itu di dalam ruangan Steven, ayah dan anak itu sedang berusaha mencerna dan memikirkan semua yang terjadi.


"Apa benar Prince yang menculiknya? Tapi kenapa?" Steven bertanya-tanya.


"Entahlah. Mungkin Prince menyukainya." jawab Rafael seenaknya.


Steven terdiam, dia mendadak bingung dengan semua ini. Tiba-tiba ponselnya berdering, Steven meraih benda pipih itu dan menatap layarnya dengan nanar.

__ADS_1


"Chaiyya ...?" ucap Steven pelan saat melihat ID si penelepon.


***


__ADS_2