Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 22


__ADS_3

Hari ini Queen pergi ke Bangkok bersama Jovan, dia bergegas berjalan memasuki ruangan Tuan Luis. 


Tapi betapa terkejutnya Queen saat melihat Prince sudah duduk di dalam ruangan itu, Queen berusaha menguasai dirinya dan tetap profesional menyapa klien.


"Hai, Nona Queen Ravindra. Selamat datang." Sapa Tuan Luis ramah.


"Hai, Tuan Luis." Jawab Queen yang segera duduk di samping Prince, sementara Jovan berdiri dibelakangnya.


"Saya pikir kalian bisa berkenalan dulu." Pinta Tuan Luis yang mengira Prince dan Queen belum saling mengenal.


"Saya sudah mengenalnya. Nona Queen adalah pesaing yang sangat menakutkan dan rela melakukan apa saja agar bisa menang." Sindir Prince.


"Itu tergantung siapa lawannya. Jika menggunakan kebaikan untuk melawan kejahatan, itu tidak akan seimbang. Bukan begitu, Tuan Prince?" Queen balik menyindir Prince.


"Generasi muda zaman sekarang memang orang-orang yang cerdas dan cakap, mungkin sebentar lagi aku harus mundur." Seloroh Tuan Luis.


"Kadang sulit menemukan orang yang benar-benar cerdas dan cakap, Tuan. Karena beberapa orang hanya pintar membangun image saja." Sahut Queen sinis. Sementara Jovan hanya diam memperhatikan mereka.


"Tak perlu sebagus apapun membangun image, karena orang seperti Tuan Luis tidak akan mudah tertipu. Ku rasa generasi tua lebih berpengalaman, mereka pasti tahu yang mana permainan kotor atau yang jujur." Balas Prince sengit.


"Waow ... kurasa kalian berdua adalah pesaing yang ketat. Baiklah, kalau begitu sampai disini dulu. Setelah makan siang kita akan melihat lokasi proyeknya." Ujar lelaki berkebangsaan Australia itu.


"Baik, Tuan."


Prince, Queen dan Jovan pun pamit undur diri. Mereka akan makan siang sebelum meninjau lokasi proyek yang sedang mereka rebut kan.

__ADS_1


***


Setelah keluar dari ruangan Tuan Luis, Queen berjalan beriringan dengan Jovan, sementara Prince berjalan di belakang mereka dengan jarak yang cukup jauh, karena Queen memang sengaja berjalan cepat agar tidak berdekatan dengan Prince.


Tapi tiba-tiba ponsel Queen berdering, ternyata Kaisar yang menghubunginya.


"Kau duluan saja, aku mau angkat telepon." Ujar Queen ketus. Dia tak ingin Jovan mendengar pembicaraannya dengan Kaisar.


"Baiklah, aku tunggu di mobil."


"Hemmm ..." Queen segera berbelok ke arah taman samping gedung kantor itu.


"Hallo, tumben sekali kau menghubungi ku?"Tanya Queen dengan nada bercanda.


"Memangnya tidak boleh? Aku kan mencemaskan mu." Kaisar.


"Bagaimana aku bisa tenang jika kau pergi keluar kota bersama mantan mu itu. Bagaimana kalau kalian balikan lagi. Aku kan cemburu." Kaisar.


"Hahaha ... kau ini ada-ada saja! Jangan membuatku geli. Sampai kapanpun aku tidak akan mau kembali dengannya lagi. Dia hanya akan jadi masa laluku." Balas Queen.


"Dan aku akan jadi masa depanmu." Kaisar.


Queen terdiam mendengar kata-kata Kaisar itu, mendadak hatinya tak enak. Dia merasa tak pantas bersanding dengan lelaki sebaik Kaisar.


"Hmmm ... sudah dulu ya, Kai. Aku mau makan siang dulu." Queen mengalihkan pembicaraan dan segera mengakhiri obrolannya dengan Kaisar.

__ADS_1


"Oh, iya. Selamat makan siang, kau hati-hati ya disana." Kaisar.


"Iya, kau juga."


Panggilan masuk dari Kaisar pun berakhir, tapi tiba-tiba Prince memeluk Queen dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak wanita itu.


Queen sontak memberontak dan melepaskan diri dari Prince.


"Dasar orang jahat! Apa kau terbiasa melecehkan seperti ini?" Sinis Queen.


"Kau duluan yang jahat kepadaku, ingat itu!" Balas Prince.


"Sudah aku katakan, aku tidak pernah melakukan apapun terhadap mu!" Bantah Queen.


"Hahaha ... mana ada maling yang mengaku! Lagipula bukankah kau sendiri yang bilang, jika kau melakukan kebaikan dengan memuaskan ku. Aku jadi berpikir, sepertinya malam itu kau juga menikmatinya. Jadi apa salahnya aku bersenang-senang denganmu sekali lagi?" Ucap Prince dengan senyum liciknya. Dia kembali memeluk Queen dan ingin menciumnya, tapi wanita itu segera mendorong Prince sekuat tenaganya.


"Aku akan berteriak jika kau tidak berhenti!" Ancam Queen.


Prince pun melepaskan pelukannya dan memandang lekat wajah Queen.


"Ini belum selesai. Permainan kita masih berlanjut. Aku harap kau menikmatinya." Ujar Prince dengan seringai khasnya dan berlalu pergi dari hadapan Queen.


Air mata Queen langsung jatuh setelah kepergian Prince, hatinya sakit setiap kali mendengar hinaan dari lelaki yang telah merusak hidupnya.


"Dosa apa yang telah aku lakukan sehingga harus mendapatkan karma seperti ini?" Queen menangis pilu.

__ADS_1


Dia segera menghapus jejak-jejak air matanya dan merapikan penampilannya, lalu menemui Jovan di parkiran.


***


__ADS_2