Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 95.


__ADS_3

Laura menatap Prince dengan air mata berlinang, "Putraku memang bersalah tapi dia sudah menyesali perbuatannya dan ingin menebus semua kesalahannya itu. Bertahun-tahun dia berusaha mencari mu dan juga Ibumu, dia ingin bertanggungjawab. Tolong beri dia kesempatan!"


"Kami tidak membutuhkan tanggung jawab darinya!" tolak Prince.


"Baiklah, kau berhak menolaknya. Tapi setidaknya, tolong maafkan dia. Bagaimana juga dia tetap Ayahmu, sampai kapanpun kau tidak bisa pungkiri itu." sahut Rossana.


"Prince, sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ayah, bayangkan kalau seandainya aku dan anak ini tidak menerimamu! Kami tidak mau memaafkan mu. Bagaimana perasaanmu? Jangan lupa! Kau juga melakukan kesalahan yang sama." ucap Queen menohok.


"Tapi setidaknya dari awal aku ingin bertanggung-jawab, tidak pergi begitu saja seperti pengecut." sindir Prince.


"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan mereka berhak mendapatkan maaf dan kesempatan kedua. Apalagi ini ayahmu sendiri, Nak." Chaiyya menasihati putranya itu. Memang sedari dulu Chaiyya tak pernah mengajari Prince untuk membenci ayahnya.


Merasa dikeroyok, Prince hanya bisa menghela napas dan tak tahu harus menjawab apalagi. Memang benar apa yang dikatakan sang ibu, tapi hatinya masih merasa berat untuk memaafkan lelaki yang seharusnya dia panggil ayah itu.


"Prince, demi Ibu. Maafkanlah ayahmu. Tidak ada gunanya kau terus menyimpan kebencian itu" Chaiyya memandangnya penuh harap.


Prince kembali bergeming, menimbang-nimbang perasaannya. Sejatinya dia bukanlah orang yang berhati kejam dan tak berperasaan, dia hanya manusia biasa yang sedang merasakan kecewa yang teramat sangat. Tapi jika sang ibu yang menjadi korban utama saja mampu berlapang dada memaafkan, kenapa dia tidak?


Prince menghela napas. "Baiklah, aku maafkan!"


Frans dan semua orang sangat lega, akhirnya hati Prince yang keras bisa luluh juga.

__ADS_1


"Terima kasih, anakku. Terima kasih." balas Frans sembari mengusap sudut matanya.


"Kau hebat. Aku mencintaimu." bisik Queen ditelinga Prince.


"Aku juga mencintaimu." Prince menggenggam erat tangan Queen. Kaisar yang tak sengaja melihat adegan itu, hanya mengembuskan napas lega lalu tersenyum.


***


Sejak Frans menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, suasana jadi lebih membaik, Prince sudah mulai mau bicara baik-baik dengan Frans meskipun dia masih menunjukkan ketidaksukaannya. Tapi bagi Frans itu tidak masalah, sebab Prince mau memaafkannya saja sudah lebih dari cukup.


"Ayah akan melamar kan Queen untukmu." ucap Frans. Prince hanya diam tak menyahut.


"Iya, kita akan membuat pesta yang besar untuk resepsi pernikahan kalian. Sekalian mengenalkan mu kepada semua orang." sambut Laura.


"Tapi kau itu anak Ayah, kau bagian dari keluarga Mahaprana."


"Bukankah tanpa publik ketahui, aku tetap bagian dari keluarga ini?" tanya Prince.


"Iya, tapi bagaimana Ayah bisa mengumumkan kau sebagai pewaris jika publik tidak tahu siapa kau?" protes Frans.


"Maaf, aku tidak berminat menjadi pewaris. Serahkan saja semuanya kepada dia." Prince menunjuk Kaisar dengan lirikan matanya.

__ADS_1


"Tapi itu hak mu, Kak." jawab Kaisar santai.


Prince mengerutkan keningnya demi mendengar Kaisar memanggil dirinya dengan sebutan -Kak-


"Jangan panggil aku begitu!" Prince protes tak terima.


"Kau kan memang Kakakku. Jadi apa salahnya?" sahut Kaisar.


"Sekarang kau bilang aku Kakakmu, tapi kemarin kau hampir saja membuat aku mati." cibir Prince sembari menatap tajam Kaisar.


Kaisar meringis malu sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku kan sudah minta maaf."


"Gampang sekali. Dasar adik durhaka!" Prince melengos sambil memalingkan wajahnya. Semua orang hanya tersenyum mendengar candaan pertama mereka itu.


"Jadi bagaimana, kau bersedia menjadi pewaris Royal Corporation?" tanya Frans memastikan.


"Tidak. Bahkan aku tidak akan memakai nama belakang keluarga ini. Biarkan semua seperti yang sebelumnya, aku rasa itu lebih baik." ujar Prince keras kepala.


"Iya, Prince benar! Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu dan apa yang sudah ada, biarkan tetep begitu." sela Chaiyya.


Frans menghela nafas. "Baiklah jika itu mau mu."

__ADS_1


Sejak saat itu Prince pun mulai berdamai dengan masa lalu Ibunya, berusaha menerima keluarga Mahaprana sebagai bagian dari dirinya, meskipun awalnya berat. Dan Prince juga mencabut laporan atas penculikan serta pemukulan terhadap dirinya dan mengakui Kaisar sebagai adiknya.


***


__ADS_2