
Jovan berjalan cepat mengikuti Elsa yang sudah hampir masuk ke dalam lift, sebelum pintu lift itu tertutup, dia buru-buru masuk ke lift yang sama. Elsa tidak curiga sama sekali, dia tidak mengenali Jovan yang memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya.
Lift membawa mereka ke lantai paling atas, tanpa sepengetahuan Elsa dan selingkuhannya itu, Jovan sudah menggenggam erat pistol yang tersimpan di pinggangnya.
"Sayang, nanti habis dari sini temani aku beli tas baru ya? Aku bosan pakai tas yang lama." rengek Elsa manja.
"Ok. Tapi kamu harus puaskan aku seperti kemarin ya?" sahut lelaki bertubuh gemuk itu.
"Pasti dong! Pokoknya aku akan buat kamu minta ampun deh." ucap Elsa dengan wajah menggoda.
Hati Jovan semakin panas mendengar semua itu, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. Dia menderita sementara Elsa malah enak-enakan selingkuh.
"Begini kau rupanya?" ucap Jovan sembari membuka maskernya.
"Jovan?" Mata Elsa melotot saat menyadari dia adalah Jovan.
"Dia siapa, Say ...."
Doooorrr ....
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Jovan mengangkat pistolnya lalu menembakkannya ke kepala selingkuhan Elsa itu, sebelum dia sempat melanjutkan kata-katanya. Seketika tubuh gemuknya ambruk bersamaan dengan jeritan histeris Elsa.
"Selama ini aku sangat mencintaimu, percaya kepadamu dan memberikan apa pun yang kau minta. Aku bahkan rela menderita dan menghancurkan hidupku demi ambisi mu, tapi ini balasannya, haa ...?" bentak Jovan dengan tatapan penuh amarah seraya mengacungkan pistolnya ke arah Elsa.
"Sayang, jangan! Aku minta maaf." Elsa memohon dengan tubuh yang gemetaran karena takut.
Dor ....
Tanpa belas kasih, Jovan menembak kepala Elsa dari jarak yang cukup dekat. Tubuh Elsa langsung jatuh menimpa selingkuhannya. Jovan memandangi jasad Elsa dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.
Ting.
Namun begitu dia tiba di lantai bawah, beberapa sekuriti dan pegawai hotel sudah mengepung nya. Tanpa dia sadari pihak hotel melihat apa yang dia lakukan tadi melalui CCTV yang terpasang di dalam lift. Jovan sempat mengarahkan pistolnya ke orang-orang yang mengepungnya, dan berhasil membuat mereka mundur karena takut. Kesempatan ini dimanfaatkan Jovan untuk kabur, dia berlari keluar hotel dan disaat bersamaan rombongan mobil polisi datang untuk meringkus nya.
"Sial!" umpat Jovan sambil menodongkan pistolnya.
Jovan merasa terpojok, dia mencoba mencari celah untuk kabur, tapi kini dia telah dikepung, tak ada kesempatan untuk melarikan diri.
"Jatuhkan senjata anda! Lalu angkat tangan!" teriak seorang polisi dengan tegas sembari mengarahkan senjata api kepadanya.
__ADS_1
Jovan bergeming, dia semakin merasa terdesak.
"Aku tak mau ditangkap dan membusuk dipenjara. Lebih baik aku mati." batinnya.
"Kami mohon kerjasama nya, letakkan senjata anda dan menyerah lah!" teriak polisi itu lagi.
Jovan yang sedang dirasuki setan benar-benar tak bisa berpikir dengan baik, hatinya sangat kacau dan tak bisa menerima semua ini. Hidupnya benar-benar berantakan karena ambisi dan cinta, belum lagi pengkhianatan yang baru saja dia terima. Sakit! Semuanya sudah hancur!
Bahkan kekasih yang begitu dia cintai kini telah tiada, orang-orang pasti sangat membenci dan mengutuk dirinya.
Dengan tangan gemetaran, Jovan mengarahkan pistolnya ke kepala lalu memejamkan mata.
"Jangan bertindak ceroboh! Letakkan senjata anda!" polisi tadi kembali berteriak memperingatkan, dia dan semua orang disana mulai cemas melihat aksi gila Jovan. Dan ....
Dor ....
Semua orang berteriak histeris, bahkan ada beberapa orang menutup mata karena ngeri. Tubuh Jovan ambruk setelah peluru dari pistolnya menembus kepalanya, lelaki itu tewas seketika.
***
__ADS_1